Aksi radikalisme kembali dipertontonkan para teroris di Indonesia. Dalam waktu yang berdekatan, dua kota besar Indonesia menjadi target operasi para pelaku. Jakarta yang menjadi ibu kota negara, menjadi sasaran pertama yang di dalangi para Napiter di Mako Brimob. Selanjutnya kota Surabaya sebagai ibu kota provinsi Jawa Timur, juga tak luput menjadi target. Tepatnya di gereja Santamaria Ngagel Surabaya.

Sebenarnya kalau kita cermati, teroris tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Mereka bertugas memberikan statemen dan menggiring opini yang sengaja disebar melalui media sosial.

Jika kita melakukan kilas balik terkait apa yang menjadi framing di media sosial, maka kita akan menemukan bagaimana ujaran kebencian atau “hate speech” bertebaran tanpa ada filterisasi.

Dilanjutkan dengan “bullying” kepada Banser yang menjaga gereja, tokoh NU, sampai hujatan pada pemerintah yang sah, seakan menjadi menu wajib dunia maya dalam merawat benih radikalisme.

Oleh karenanya, untuk mewujudkan deradikalisasi dunia maya, maka perlu dilaksanakan beberapa hal: pertama, sudahi membully Banser yang menjaga gereja, kedua, cukupkan menebar kebencian melalui ujaran kebencian, karena mulutmu adalah harimaumu, dan ketiga, hentikan menghujat pemerintah yang sah dan sedang berkuasa. Andaikan ada protes, sampaikan dengan elegan dan bertangggung jawab.

Dengan melakukan tiga hal di atas, maka dunia maya akan sehat dengan informasi yang mendidik dan bebas dari ujaran kebencian, bullying, dan hujatan kepada pemerintah yang sah. Darimana kita memulainya? Dari diri kita sendiri, keluarga dan lingkungan masyarakat.
#NKRIHargaMati
#PancasilaJaya
#IndonesiaJaya