Pasca aksi teror bom Surabaya dan Riau, banyak kejadian yang latah mengiringinya. Misalnya kejadian yang menimpa seorang perempuan bercadar di Terminal Gayatri Tulungagung.

Si Doi yang berpakaian serba besar dengan cadar dan tas ransel, sempat diteriaki teroris oleh warga yang melihat aksi mondar-mandir dan sesekali duduk sambil memainkan jari, yang akhirnya si perempuan naik bus Bagong, tapi diturunkan oleh petugas dan sempat pula dibawa ke kantor dinas perhubungan yang kebetulan berada satu komplek dengan terminal Gayatri Tulungagung.

Ternyata si Doi adalah siswa salah satu SMP dan santri di sebuah pondok yang memang niat bolos. Agar aksinya tidak ketahuan, maka si Doi menggunakan cadar supaya tidak dihafal oleh pihak manapun. Akhirnya si Doi dijemput oleh pihak pondok pesantren. Para netizen saat itu mengabarkan dengan judul ” pemakai cadar tak boleh naik bis”. Padahal kejadian sebenarnya tidak demikian.

Kejadian serupa juga dialami oleh seorang santri yang pulang dari pondok. Saat itu, kang santri membawa kardus dan tas ransel. Oleh petugas, kang santri disuruh mengeluarkan isi kardus dan isi tasnya karena dicurigai teroris. Untungnya kang santri yang sempat sewot saat disuruh membuka bingkisan kardus dan ransel tersebut masih kooperatif dengan petugas. Setelah selesai pemeriksaan, kang santri malah selfi dan ngopi dengan polisi yang mencurigainya. Ini bedanya santri pondok yang terbiasa dengan berbagai kondisi dan keadaan. Dia tidak dendam, tidak melawan hukum, tapi tetap taat hukum dan pemaaf. Terhadap. Kejadian ini, warga netizen membuat tema ” polisi perlakukan sadis santri”, tapi terbantah dengan foto selfie kang santri setelahnya.

Kejadian selanjutnya terjadi pada Rabu, 16 Mei 2018 di dekat koramil Bandung Tulungagung Jawa Timur. Berawal dari kecurigaan warga terhadap barang yang mirip koper putih, akhirnya warga lapor kepada pihak berwajib. Dengan sigap polisi melakukan SOP pengamanan dengan memasang police line karena barang tersebut mirip koper putih tersebut dicurigai sebagai bingkisan yang ditinggal orang tak dikenal serta khawatir barang tersebut adalah bom. Ternyata setelah diselidiki, barang tersebut adalah meja lipat milik penjual kembang yang ketinggalan.

Menyikapi aksi teror bom, saya sepakat dengan statemen Ali Imron mantan pelaku bom Bali yang sudah bertaubat. Saya kutip pernyataan Ali Imron sebagai pesan moral dari seorang mantan pelaku aksi teror yang melihat perlunya melakukan deradikalisasi secara bersama-sama bagi seluruh elemen bangsa.

Pertama, Ali Imron mengatakan, “Saat ada aksi teror, tolong anda yang pakar atau akademisi militer sekalipun, jangan mengeluarkan statemen membela teroris dengan menyalahkan polisi atau pemerintah, Karena statemen anda yang menyalahkan polisi dan pemerintah, sama halnya membuat teroris kipas-kipas karena anda bela”.

Kedua, pahami para pelaku adalah korban idiologi, dibalik mereka ada idiolog yang bebas berkeliaran dan siap membuat aksi susulan dengan korban lainnya. Perlu kewaspadaan dan kerjasama untuk melawan aksi idiolog dan donatur aksi teror. Tidak perlu lebay dengan merasa paling tahu lantas menyebar foto dan vidio kejadian teror. Memang itu bisa dijadikan pelajaran, tapi tidak jarang, gambar dan vidio yang anda bagikan justru membuat suasana mencekam. Hal inilah yang duharapkan para aktor utama aksi teror.

Ketiga, deradikalisasi adalah tugas kita bersama, Ali Imron adalah pelaku teror yang sudah taubat. Selama empat belas tahun, saya dan teman-teman melakukan deradikalisasi dengan cara sosialisasi dan mengajak mereka yang terinfeksi faham yang salah untuk ngaji secara benar. Dalam hal teroris, keterlibatan saya dengan semua jaringan teroris dan bukti dipersidangan, saya adalah pemilik bukti terbanyak dan pelaku terbanyak kaitan teror. Bukan hanya NU saja yang harus melakukan deradikalisasi, bukan pula Muhamadiyah atau kepolisian saja. Tapi deradikalisasi adalah tugas kita semua seluruh elemen bangsa Indonesia.

Dalam kalimat penutupnya, Ali Imron berpesan sebagai berikut “Sekali lagi jangan salahkan polisi, jangan salahkan inteljen, jangan salahkan pemerintah khususnya presiden. memang polisi ada oknum yang baik dan yang kurang ajar, dalam hal ini keutuhan bangsa sedang diuji. Kita satukan tekad dan pemahaman, bahwa teror adalah musuh bersama, kita harus kritis dan cermat dalam bertindak memberantas teroris”.

Menyimpulkan apa yang terjadi dimedia maya atau media sosial hari ini, perlu kewaspadaan dan tabayyun (klarifikasi) terhadap sebuah kejadian, khususnya kejadian terorisme, jangan asal share (membagikan) gambar, vidio yang justru membuat para aktor utama teror merasa terbela.

Menyalahkan aparat pemerintah dan kepolisian bukanlah solusi menghadapi teror, karena dengan menyalahkan polisi dan pemerintah, justru membuat teroris berbesar hati karena targetnya terpenuhi.

Deradikalisasi (pemberantasan radikalisme) adalah tanggungjawab dan tugas bersama seluruh elemen bangsa, mari kita rapatkan barisan dan saling menguatkan persatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua). Kita maksimalkan peran melalui sosialisasi dan pemahaman kepada seluruh pihak mulai pemahaman yang benar terkait konsep beragama, berbangsa dan bermasyarakat, kepada keluarga dan lingkungan masyarakat disekitar kita.