Akhir-akhir ini, sudah menjadi keumuman memanggil seseorang yang terbiasa berada di masjid atau tempat pendidikan Islam dengan sebutan Ustadz. Bukan karena penghormatan semata, tapi panggilan Ustadz dikarenakan untuk “say hello dan keakraban saja”. Jadi jangan merasa bangga jika dipanggil Ustadz.

Distorsi makna pada panggilan juga terjadi pada panggilan Kiai. Dahulu panggilan Kiai disematkan pada seseorang pemilik pondok pesantren yang ahli agama dan telah cakap secara kualifikasi dalam berbagai keilmuan agama, seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, al-Qur’an, Tashawuf, Nahwu, Sharaf, Mantiq, Balaghah, Falaqiyah, dll. serta masih ditambah memiliki reputasi akhlaq sholeh dan wira’i. Intinya Kiai adalah seorang ‘alim dan ‘alamah, tapi hari ini siapa pun bisa dipanggil Kiai.

Terlepas dari distorsi makna Kiai dan Ustadz tersebut, kiranya kita juga perlu faham subtansi tanggung jawab dari masing-masing. Untuk Kiai misalnya, selama ini para Kiai jarang mengeluarkan fatwa galak dan keras, misalnya memboikot sebuah produk atau mengharamkan produk tertentu. Berbeda dengan mereka yang digelari ustadz dan sering berseliweran di you tube. Mereka dengan mudah keluar fatwa bahkan fatwa wajib bela ini, wajib boikot produk ini, seakan mereka sebagai tim legalisasi tuhan semesta alam Allah SWT.

Para Kiai yang cenderung kalem dan jarang mengeluarkan fatwa, bukan karena beliau tidak bisa membuat fatwa, tapi karena beliau tahu bahwa kepentingan umat lebih utama. Pemikiran para Kiai dalam bertindak adalah kemaslahatan umat. Jadi tidak mungkin Kiai yang memiliki masyarakat penanaman tembakau, trus Kiai tersebut mengharamkan rokok. Persis yang dilakukan kanjeng sunan Kudus di Jawa Tengah, demi toleransi dan menjaga perasaan umat beragama di Kudus, maka waktu Idul Adha, masyarakat dihimbau untuk tidak berqurban memakai sapi, karena sapi dianggap suci bagi pemeluk agama yang ada di Kudus saat itu. Sama juga dengan yang dlakukan Kanjeng nabi Muhammad SAW, yang ketika diakhir hayat beliau, masih bertanya dan berfikir “ummati, ummati (bagaimana nasib umatku)”.

Berbeda dengan ustadz dunia maya di akhir zaman ini, mereka ngajinya juga ada yang gak fasih, sudah masuk televisi nulis arab juga salah, ngaji di masjid justru isinya politik menjelekkan presiden, ngaji dengan isian ajakan demo, ngaji penuh ujaran kebencian, caci maki, mengkafirkan kelompok lain.

Mereka dengan enteng melakukan demikian, karena mereka tidak punya pengikut yang bersifat keumatan yang menjadi pemikiran mereka. Memang benar ceramah mereka dihadiri oleh banyak orang, tapi moralitas dan mentalitas memikirkan umat, tidak dimiliki mereka. Sehingga mereka enteng saja ngomong apapun. Karena mereka tidak punya beban.

Dari sisi akademik, para ustadz mayoritas adalah jebolan luar negeri atau jebolan boarding school, atau bahkan jebolan kajian rutin tanpa boarding school dan tanpa mondok. Berbeda dengan para Kiai, yang mayoritas adalah alumni pondok pesantren dan minim gelar akademik dibelakang namanya.

Oleh karenanya jika masyarakat zaman Now mencari penceramah, maka jarang didapati Kiai yang seperti para ustadz media maya. tiap hari muncul di TV, gelar akademiknya juga ditempuh di luar negeri, di spanduk sepanjang jalan kota sampai perdesaan juga sering menghiasi. intinya kalau kriteria penceramah adalah seringnya nonggol di medsos, maka bisa dipastikan para Kiai akan kalah eksistensi. Padahal para Kiai kalibernya bukan dunia saja, tapi juga kiai yang ngurusi orang yang meninggalkan dunia.

Di era virtual ini, maraknya ustadz yang muncul di dunia maya ternyata membawa dampak signifikan bagi pola keberagamaan kita. Dahulu orang akan mencari guru dengan model talaqi (ketemu langsung), hari ini mereka masyarakat zaman NOW yang lebih sering menggunakan media sosial dalam mencari informasi dan sumber rujukan. Justru yang terjadi ibarat orang tenggelam disungai yang arusnya deras, rumput pun dijadikan pegangan untuk menyelamatkan diri. Akhirnya sekenanya dan seadanya, tanpa filter dan tanpa pembimbing. Maka terjadilah distruption (jungkir balik) terhadap pengetahuan, norma dan etika. Ujaran kebencian menyebar begitu cepat melalui dunia maya.

Mengutip kalimat Gus Nadir Syah Hoesin: “Wahai para Gus dan kia Muda, kuasai dakwah di media sosial, isilah dengan dakwah menyejukkan, imbangi apa yang sudah dilakukan para penebar kebencian”, “para intelektual dan akademisi, ambilah peran intelektual dibidang penerbitan buku dan ramaikan percetakan dengan buku agama yang mencerahkan dan mendamaikan”, “para da’i dan muballigh, ambilah peran dakwah yang menyampaikan rahmat bagi seluruh alam, sampaikan juga bahwa beragama dan bernegara menjadi satu paket yang utuh dan mencintai negara merupakan sebagian dari iman “Hubbul Wathon Minal Iman”.