Belajar dari pengalaman, itulah kalimat yang tepat untuk disematkan pada saat merujuk apa yang disampaikan oleh Bassar al Asad presiden Suriah yang sudah 7 tahun memerangi Mega-Terorisme di negaranya. Kalimat yang sempat dilontarkan oleh Asad adalah:

“Para teroris hanya memiliki satu pesan. Yang mana dari ideologi gelap yang mereka bawa, bagi mereka, siapapun yang tidak berpikir seperti mereka tidak layak untuk hidup.”

Walaupun Suriah belum sepenuhnya berhasil menyelesaikan konflik internal negaranya, minimal statement di atas adalah cerminan pengalaman yang bisa dijadikan perbandingan dalam memandang dan menilai perilaku teroris.

Awal mula munculnya pertikaian oleh pemberontak di Suriah adalah ceramah-ceramah provokatif oleh kelompok-kelompok tertentu yang memberikan klaim sebagai kelompok paling benar dengan dua tema, yaitu tema anti pemerintah dan tema agama.

Dari tema anti pemerintah, ada upaya menurunkan kredibilitas Basaar al Asad. Apa yang dilakukan pemerintah selalu dianggap pencitraan dan dikatakan salah oleh kelompok oposisi. Tapi hal tersebut tak menyurutkan pilihan mayoritas masyarakat Suriah kala itu, faktanya Asad menang telak dalam pemilihan langsung.

Tidak tinggal diam atas hasil tersebut, kelompok oposisi mulai melakukan gerakan bersenjata dengan menciptakan huru-hara dan teror kepada pemerintah. Melihat aksi tersebut Asad mengerahkan pasukan untuk mewujudkan keamanan, tapi aksi Asad diplintir oleh oposisinya. Justru tindakan Asad disebut sebagai kekejaman dan penindasan terhadap para pejuang Suriah yang aslinya adalah pemberontak.

Dari aksi diatas, dapat kita simpulkan bahwa propaganda yang dilakukan memang benar-benar masif, baik di dalam negeri maupun di dunia International. Sehingga banyak kelompok yang tidak faham, mengira bahwa Basaar Al Asad membunuhi warga Suriah.

Tema kedua adalah tema agama. Umat dipisahkan dengan tokoh dan Ulama’nya. Tokoh dan Ulama’ besar mulai dihujat, dicemooh. Yang akhirnya fatwa para Ulama’ tersebut tidak ada yang menggubris sama sekali. Bahkan kalau ada Ulama’ yang berbicara perdamaian dan persaudaraan langsung dijadikan incaran pembunuhan, contohnya adalah Syekh Ramadhan Al Buthi yang wafat saat ngaji karena bom bunuh diri oleh teroris.

Kedua penyebab kehancuran Suriah tersebut, terjadi karena ceramah provokatif yang dilakukan secara konsisten oleh para oposisi Basaar al Asad. Para orator provokatif tersebut selalu memanfaatkan mimbar dan panggung yang mereka miliki untuk menebar kebencian dan adu domba serta berita hoaks. Misalnya: para pemberontak disebut pejuang Suriah, Asaad membasmi pemberontak disebut membunuhi rakyat dan seterusnya semakin lama, semakin susah membedakan yang benar dan yang salah. Kepercayaan kepada tokoh mulai tergerus, para pemberontak mendapat predikat pejuang, media internasional juga bermain menggoreng isu hoaks. Jadilah Suriah medan bertempur sampai sekarang.

Pola penghancuran Suriah ini, jika kita telusuri adalah pola yang sangat lama. Di dalam kitab Fitnatul Wahabiyah karya Syekh Zaini Dahlan (guru dari Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari pendiri NU) juga sudah menyebut bahwa pola penghancuran sebuah negara saat itu melalui dua cara: ” caci maki pemerintah dan mainkan isu agama”. Anehnya, sejak dahulu, pelaku-pelakunya adalah mereka yang beridiologi Wahabi dan Takfiri. Hari ini dua hal di atas terulang dengan pelaku beda, tapi idiologi yang dimiliki sama.

Diawali merasa sebagai kelompok paling benar, mereka menebar kebencian via dunia maya dengan selalu melebeli cap kepada kelompok lain yang tidak se ide dengan mereka sebagai Tahayyul, Bid’ah dan Churafat.

Kalimat kebencian dan permusuhan mereka tebar dan disemai melalui grup WA. Ibarat orang minum obat berdasar resep dokter sehari tiga kali, sifat merasa paling benar dan menganggap yang lain salah sampai pada keyakinan yang salah adalah kafir, dan kafir halal darahnya untuk dibunuh.

Perlu gerakan mengisi media maya dengan ceramah dan dakwah yang mencerahkan. Kita tidak boleh tinggal diam jika tidak ingin Indonesia di Suriahkan. Kita berikan pemahaman kepada masyarakat, keluarga dan para tokoh kita, bahwa melawan idiologi takfiri perlu kerjasama berbagai pihak.

Jika tidak suka dengan pemerintah, silahkan protes, tapi cara penyampaian protesnya juga yang benar. Jika ingin ganti preseiden, silahkan ikuti mekanisme yang ada di Indonesia yakni melalui Pemilu.

Jika menjadi tokoh masyarakat, ya silahkan berpendapat, tapi jangan sampai memperkeruh suasana dan adu domba dengan bahasa ceramah provokatif yang mengatas namakan agama. Ingat, agama yang kau jadikan tameng nafsu serakahmu harusnya membawa perdamaian, bukan sekedar ceramah demi meningkatkan popularitas dan penokohan yang akhirnya berimbas pada bayaran mahal saat dihadirkan. Ingat, mulutmu harimaumu.

Masyarakat juga harus ingat, bahwa para penceramah provokatif yang membawa tema anti pemerintah, penyebar ujaran kebencian, dan suka mengkafirkan kelompok lain, tidak layak lagi dijadikan tokoh. Ini masalah harga diri bangsa Indonesia yang terkenal dengan bangsa berbudaya adiluhung dengan adat ketimuran yang ramah dan saling menghargai perbedaan dalam bingkai “Bhineka Tunggal Ika”.

Perlu kita sadari juga, bahwa aksi teror sejak Minggu, 13 Mei 2018 di Surabaya dengan Bom bunuh diri yang dilakukan pasangan Dita Fukrianto dan Puji Kuswanti sekeluarga, Terorisme terjadi bukan karena faktor ekonomi, karena mereka dari sisi ekonomi sangat mampu dan tercukupi, tapi faktor idiologi yang salah yang di dapat dari guru yang salah.

Terorisme tidak bisa diselesaikan dengan penembakan dab penangkapan. Karena idiologi radikal harus dilawan dengan idiologi yang benar. Harus ada yang melakukan dengan soft approach, karena mereka pun juga korban dari pemahaman-pemahaman dan idiologi yang salah tapi dibungkus dengan rapi.