Rangkaian Kegiatan Ansor Banser Tulungagung Sambut dan isi Ramadhan 1438 H
Bela agama Bangsa Negeri, potongan Mars Ansor NU yang ada di bait penghujung ini merupakan cerminan semangat rangkaian kegiatan yang digelar oleh seluruh jajaran Ansor Banser NU di Tulungagung bahkan diseluruh hamparan Nusantara. 

Tanpa mengharap pamrih dan upah, Ansor Banser NU bergerak dengan komando dan semangat bergembira menyambut, mengisi dan menghidupkan Ramadhan. Berbagai rangkaian kegiatan di helat mulai struktur Anak Ranting, Ranting, Anak Cabang, Cabang, Wilayah sampai Pengurus Pusat. Di awali dengan “Bersih Makam menyambut Ramadhan, Ziarah Makam, Bersih Mushalla dan Masjid, Kajian Ramadhan, Kajian Kitab Kuning, Bagi Ta’jil, Tarawih Keliling, Tadarus Giliran, Rijalul Ansor, Kajian Organisasi, Bagi-bagi Sahur, Bersih Makam dan Musholla/Masjid Jelang Idul Fitri, Zakat dan Distribusinya, Takbir Keliling, Ngepam lalu lintas jalur mudik  Posko Mudik Lebaran” semua waktu dan moment terisi dengan kegiatan yang jarang dilakoni ormas lain. Disinilah Ansor Banser NU hadir dan berbuat.

Jika ditanya” darimana sumber dana dan sumber daya yang mereka gunakan?” jawabnya adalah” Swadaya dan Swakelola” jadi mereka urunan dan mengelolanya sekaligus mendistribusikannya. Itulah fakta yang jarang diketahui orang diluar Ansor Banser NU. Jadi kalau ada yang bilang, “Ansor Ngepam dan kegiatan demi bayaran atau demi sesuap nasi”, ini salah besar dan pasti yang ngomong belum faham Ansor Banser NU. Lantas apa yang diharapkan oleh mereka Ansor Banser NU dari kegiatan yang mereka danai dan lakoni? Jawabnya simpel “cara inilah yang dapat saya lakukan untuk mengabdi pada Kyai, dan Nahdlatul Ulama'”.

Alasan yang hanya dimiliki oleh orang aneh bagi awam, tapi mulya bagi orang-orang khusus. Buktinya Maulana Habib Luthfi menyampaikan” Jika kelak aku mendapat keistimewaan untuk masuk Surga oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, maka fasilitas tersebut tidak akan aku ambil sebelum para  Sahabat Banser NU masuk terlebih dahulu”. Jadi yang bisa memaknai khususiyah Banser ya hanya orang Khusus dengan maqom Khusus pula yang tentunya dengan catatan khusus. 

Banom NU( Badan Otonom NU) yang paling matang dari sisi usia dan lainnya untuk kategori pemuda, ya Ansor Banser NU. Sebagaimana dalam pemahaman berorganisasi di NU, Ansor Banser NU adalah Badan otonom (Banom) milik NU yang maksudnya adalah kelompok usia tertentu dengan segmen wilayah tertentu pula. Adapun segmen dan wilayahnya Ansor Banser NU adalah khusus Pemuda pasca IPNU dan PMII bahkan khusus Pemuda dan bukan Pemudi karena untuk usia pemudi sudah ada Fatayat NU.

Jika ditanya kenapa kok nyebutnya Ansor Banser NU? Ya memang Banser adalah lembaga yang di SK oleh Ansor pada semua jenjang. Jadi, akan menjadi aneh jika ada yang mengatakan Ansor ya Ansor, Banser ya Banser. Dan sekali lagi yang mengatakan demikian pasti pengamat luar atau belum faham Ansor Banser NU. 

Adanya Ansor Banser NU, Bukan pula untuk memisah antara Ansor untuk wilayah merencanakan kegiatan dan rapat-rapat konsep kegiatan dan Banser untuk wilayah teknis lapangan dan tidak mau ikut rapat kegiatan. Tapi adanya Ansor Banser adalah satu kesatuan yang saling melengkapi dan berjalan satu iring bak gayung bersambut yang mampu menghasilkan kekuatan dorong untuk menggerakkan perahu organisasi mencapai tujuan organisasi yang termaktub dalam visi dan misi organisasi yang telah diejawantahkan pada rapat kerja organisasi. Njur kalau Banser NU gak mau rapat bersama Ansor NU, bagaimana kesefahaman dan kesepakatan tercapai bro?. Hal prinsip inilah yang kadang diabaikan oleh Ansor Banser NU aktif atau outsider(pengamat luar) dalam memaknai keberadaan Ansor Banser NU. Oleh karenanya masalah ini harus di clearkan terlebih dahulu.

Membincang soal keberanian, Ketulusan dan kesetiaan Ansor Banser NU, memang tidak bisa dipisahkan dari semangat ber NU, jadi jangan tanya kalau misalnya ada yang menghina Ulama’ NU, pastilah Ansor Banser NU tampil sebagai garda depan untuk membela, karena Ansor Banser NU adalah para santri yang nderek Kyai, dan nderek Kyai sampai mati. Apalagi kaitanya kecintaan pada NKRI, mereka sudah khatam dengan nilai terpuji. Jika sekarang rame ada kalimat “Bela Islam”, itu tidak lebih hanya meniru apa yang jadi semangat Ansor Banser NU” Bela Agama Bangsa Negeri” wajar jika Ansor Banser NU bukan kelompok kagetan yang reaksional terhadap kejadian insidental.

Jika ada yang menyebut Ansor Banser NU adalah kelompok yang sering membubarkan pengajian, pasti yang menyampaikan kalimat itu adalah kelompok yang biasa menggoreng berita, kita lihat kejadian di Sidoarjo saat Khalid Basalamah di bubarkan kajiannya oleh Polsek setempat. Ceritanya memang agak panjang, berawal dari kesepakatan kelompok pemuda setempat yang tidak berkenan adanya pengajian yang di isi Khalid Basalamah karena terdapat bukti rekaman dan transkrip pidato Khalid Basalamah yang sering mengundang permasalahan dan kebencian, misalnya kalimat Khalid Basalamah yang menyatakan bahwa Orang tua Rosulullah tidak akan masuk surga karena berada pada masa zaman tidak beriman, dan Khalid Basalamah juga menyebut bahwa Nabi Muhammad Menggauli budak miliknya tanpa di Nikah”. Dari hal inilah kelompok pemuda ini meminta panitia untuk tidak menghadirkan Khalid Basalamah, dan permintaan itu disanggupi oleh panitia dengan membuat pernyataan yang disaksikan oleh Kapolsek setempat. Eee ternyata pada hari pelaksanaan, panitia mengingkari kesepakatan dengan tetap menghadirkan Khalid Basalamah, dan hal tersebut oleh pemuda setempat dilaporkan kepada polsek yang selanjutnya polsek datang ke lokasi bersama para pemuda setempat, lantas di medsos beredar, “Banser Bubarkan Pengajian”. Sungguh fitnah yang keji dan hanya dihadapi dengan senyuman oleh para pasukan Banser NU. Belum lagi olokan dan ejekan tahunan tiap Banser NU ngepam membantu terselenggaranya kebebasan beragama umat kristiani dengan sebutan “Banser Jaga Gereja”, padahal para Banser ini memberikan pelajaran berbhineka tunggal ika kepada masyarakat, Banser NU menjaga kelompok yang melaksanakan ibadah. Bukan berarti mengimani apa yang di imani umat kristiani, tapi semata karena rasa kebhinekaan yang semestinya dilakukan oleh aparat negara dalam hal ini Polisi. Karena aparat negara belum menjaga kebebasan melaksanakan ajaran agama bagi pemeluk agama dalam kondisi aman, maka Banser mengambil peran tersebut. Sehingga bukan sekedar isapan jempol jika menyebut Ansor Banser NU memang benar-benar khatam dalam hal kebangsaan, kebhinekaan dan Nasionalisme kepada NKRI.

Lantas jika Ansor Banser NU membela kebijakan pemerintah, apakah karena mereka pendukung pak Jokowi? Sekali lagi perlu dipertegas, prinsip bahwa “Tasharuful Imam Manuuthun Bi Maslahatil Ro’iyah”( Kebijakan seorang Pemimpin harus memiliki kemaslahatan bagi Rakyat) ini prinsip dasar yang dijadikan landasan untuk mengawal kebijakan pemerintah, Ansor Banser NU punya prinsip, jika kebijakan pemerintah tidak dikawal, lantas bagaimana kemaslahatan rakyat bisa terwujud?. Tidak sekedar pingin tampil beda, tapi berorientasi pada kemaslahatan rakyat dalam skala majemuk.

Termasuk ngepam dan menyediakan Posko Mudik Lebaran, semuanya punya dampak pada kemaslahatan rakyat. Dengan lancarnya mudik, berapa keluarga yang terbantu untuk dapat berkumpul dengan keluarga menggelar halal bi halal dan berbagi dengan sanak saudara? Sungguh jasa yang sangat mulia. Lha kalau yang melakukan posko mudik dan ngepam lebaran Polisi? Ini hal wajar, karena ini sudah menjadi tugas dan kewajiban polisi. Dan menjadi hal luar biasa jika dilakukan oleh organisasi masyarakat yang sukarela tanpa harapan digaji pemerintah.

Kerja-kerja sosial dan pengabdian tersebut, semuanya diambil sebagai pilihan pengabdian oleh Ansor Banser NU di Tulungagung Jawa Timur. Tidak ada sela waktu kosong tanpa kegiatan Ansor Banser NU Tulungagung disemua tingkatan dari Anak Ranting, Ranting, Anak Cabang dan Cabang mulai bulan Ramadhan sampai pasca lebaran. Misalnya PAC Campurdarat dengan semangat religi dan keakraban, mereka menggelar acara Khataman Al-Qur’an berkeliling di rumah-rumah warga sebagai wujud pemahaman “Nawwiruu buyutikum bi Tilawatil Qur’an was Sholah”(terangilah rumahmu dengan membaca Al-Qur’an dan Sholat(Sunnah)”, Kegiatan ini dimulai setelah Tarawih dengan jadwal yang sudah tertata. Beda lagi PAC Ansor kecamatan Boyolangu yang memilih kegiatan literasi dengan lounching Buletin Ansor dan pelantikan BAANAR (Badan Ansor Anti Narkoba), beda lagi dengan PAC Ngantru yang lebih konsen pada Kajian pendampingan sholat benar pada pelajar, berbagi dengan duafa’, gerakan ekonomi kreatif via dodolan online, dan banyak lagi kegiatan yang dilakukan oleh PAC Ansor Banser NU Tulungagung yangbtidak bisa disebut disini secara detail per kecamatan. Apalagi kegiatan yang di handel oleh Pengurus Cabang Ansor Banser NU Tulungagung.

Sebagai penutup, hanya ucapan kagum pada pengabdian dan ketulusanmu Wahai Ansor Banser NU. Kau tegar ditengah arus fitnah dan hoax. Kau Setia mengawal dan menjaga NKRI.