Cuitan kedubes Saudi Arabia Osamah Suaiby yang menampilkan opini bahwa acara reuni 212 yang digelar tanggal 2 Desember 2018 adalah ekspresi atas pembakaran bendera berwarna hitam dengan tulisan lafadz tauhid oleh oknum Banser beberapa waktu yang lalu merupakan tulisan ngawur tanpa dasar. Apalagi ditambah kalimat yang memojokkan PBNU dan Banser dengan sebutan organisasi sesat, ini nambah ngawurnya untuk ukuran statemen kedubes.

Pasalnya, Osamah Suaiby sebagai kedubes, bukanlah orang yang tak sekolah diplomasi, dan pastilah mengerti tugas yang harus dilakukan dalam berdiplomasi. Bahkan sampai pada etika dan tata cara komunikasi sebagai kedubes, pastilah negara yang menugaskannya sudah membekalinya. Maknanya, secara pasti, saat Osamah menulis di twiter, ia sadar posisinya adalah representasi negaranya. Kecuali Osamah Suaiby dalam kondisi dibawah pengaruh mabuk lem FOX.

Saya sebut mabuk lem FOX karena biasanya pasca salah, lantas minta maaf dan beralasan khilaf atau twiter dibajak, walau pun sejatinya juga biasa saja. Jika memang statemen via twitter tersebut representatif kedubes yang mewakili negaranya, Osamah juga blunder, karena bendera hitam tersebut saat terpasang dipelataran parkiran belakang tempat tinggal habib Rizieq Syihab di Saudi, negara Saudi menyebut itu adalah bendera kelompok pemberontak atau bisa disebut ISIS. Piye jal? Di Saudi dianggap pemberontak, masak disini dijadikan teman dan dibela?

Lha kalau cwitan tersebut personal statement, maka yang perlu dilakukan Osamah Suaiby adalah belajar nahan syahwat tinggi nulis dengan mengalihkan nulis di kain polos dan ngambil canting sehingga menghasilkan batik tulis atau belajar nahan sabar dengan nulis pada diary offline.

Tapi jika tulisan via twitter tersebut karena ilham yang Osamah Imani, maka sebenarnya cuitan Osamah mengingatkan kejadian 97 tahun yang lalu, ketika Saudi ingin menjalankan penyeragaman madzhab bagi semua yang ada di Saudi dan penghancuran situs-situs sejarah Islam termasuk akan dilaksanakannya pembongkaran makam Rosulullah karena dianggap bid’ah dan sesat. Apa yang harus diingat dari kejadian 97 tahun dan yang dilakukan Osamah saat ini? Jika dahulu NU dengan statemennya mengirim komite hijaz mempertahankan dan memprotes Saudi, hari ini NU juga memprotes Saudi. Titik posisi isunya juga sama, radikalisme fundamentalis.

Maka hal inilah yang saya sebut, dari “Cuitan Menuju Posisi Berdiri”. Masalah berikutnya berkembang kemana? Terserah angin dan nahkoda yang mengarahkan perahu berlayar mengarungi samudra. Maka bukan masalah apa yang saya punya, menentukan posisi dimana saya, adalah penting dalam kerangka mengambil miqot untuk menentukan langkah selanjutnya.