​Suri Tauladan seluruh umat Islam adalah Rasulullah Muhammad saw. Beliau dalam masa 23 tahun telah berhasil membentuk peradaban baru yang rahmatan lil alamain. Ada tiga hal mendasar yang ditanamkan Rasulullah dalam mengawali pidato saat hijrah ke Madinah bersama para Muhajirin. 

Tiga hal dalam sambutan Rasulullah ini yang jika kita cermati,maka seluruh aspek kehidupan sosial/amaliyah dan ubudiyah telah terpenuhi di dalamnya. Tiga hal tersebut terurai dalam kalimat mulia ” Ya Ayyuhannas, Afsyus Salam, wa Ath’imutthoam, wa Shollu fil lail wannaasunniyam” Wahai Manusia semua(para hadiri), tebarkan salam(perdamaian), dan berikan makanan(berbagilah),dan Sholatlah(beribadahlah) disaat para manusia tertidur).

Pemilihan frase kalimat “Ya Ayyuhannas” ini menunjukkan kejelian sosial dan kecerdasan Kanjeng Nabi Muhammad saw tidak ada tandingannya. Dengan lafadz Ayyuhannas, akan berbeda rasa jika yang terucap adalah ya Ahlal Madinah atau Ya Ayyuhalladzina aamanu, kita dapat fahami,pada kalimat Ya Ayyuhannas ini, aspek yang ingin dicapai adalah persamaan dan persatuan. Karena jika persatuan dan persamaan sudah tercapai,maka tujuan lain tinggal mengikuti.

Selanjutnya lafadz Afsyussalam yang bisa dimaknai tebarkan salam, yang dalam teknisnya adalah saling sapa saat bertemu. Atau dimaknai dengan tebarkan perdamaian. Karena diawali saling sapa dan saling senyum saat bertemu, maka perasaan satu saudara, satu bangsa, baik secara teretori maupun secara ragawi sudah nyambung. Intinya dengan saling menebarkan salam,perdamaian akan mudah terwujud. Disinilah Rasulullah meletakkan pondasi berbangsa bagi Muhajirin dan Ansor.

Lafadz Wa Ath’imuthoam yang artinya berikanlah makanan, saat Hijrah Kanjeng Nabi Muhammad dan rombongan tidak membawa bekal yang cukup apalagi uang, jadi kebutuhan pangan yang merupakan simbol aspek sosial, juga menjadi prioritas yang dipenuhi oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw. Secara sederhana, ketika kita ingin membentuk logika,maka logistik harus terpenuhi terlebih dahulu.

Lafadz yang ketiga adalah wa Shallu fil lail wannaasunniyam, dan sholatlah di malam hari disaat para manusia tertidur. Dari lafadz ini,apakah Rasulullah memerintahkan sholat malam? Betul,selain itu, ada pesan tersirat bahwa dalam aspek ibadah Rasulullah berpesan agar menjadi konsumsi pribadi.

Dampak dari Kalimat pidato Rasulullah yang singkat dan penuh makna tersebut adalah,para Ansor dengan senang hati memberikan fasilitas kepada para Muhajirin dan para Muhajirin menghormati dan menghargai para Ansor sehingga terjadilah persaudaraan yang kuat antara sahabat Ansor dan Muhajirin dalam bingkai bernegara.

Sangat berbeda jauh dengan kondisi bangsa Arab saat ini yang mengedepankan ke Sukuan dan sekte aliran. Bahkan kondisi dakwah di Indonesia hari ini, sangat memprihatinkan. Justru yang didahulukan adalah aspek Ibadah yang jika dalam melaksanaka amalan ibadah tidak sama, maka sudah dianggap musuh dan layak direnggut hak dan nyawanya. Begitupun  mereka sering berdalih berdalih mengikuti dakwah Nabi Muhammad saw. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad saw mengajarkan mencari persamaan, perdamaian,persatuan,dan kebersamaan?. Wallahu a’lam.