Banyak yang mengira bahwa yang namanya dakwah ekonomi adalah upaya mengajak santri untuk menjalankan usaha yang memiliki nilai uang atau mengira bahwa dakwah ekonomi merupakan gerakan mengajak santri untuk bergelut di dunia bursa saham. Bukan itu maksudnya bro. Dakwah ekonomi adalah upaya menumbuh kembangkan nilai-nilai kepercayaan, kerja keras, profesionalisme, dan jejaring bersama untuk mewujudkan kesuksesan jama’ah dan jam’iyah. Nilia-nilai di atas kita sampaikan dan kita tanamkan kepada para santri untuk menjadi bekal mereka bersosial dan bermasyarakat. Tentunya tetap dibarengi pengetahuan agama yang bersumber dari sanad yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.
Tanpa nilai-nilai tersebut, santri akan menjadi individualis dan ekstrimis. Karena merasa paling segalanya dibidang agama dan memandang segala sesuatu hanya dari sudut pandang hitam dan putih. Oleh karenanya dakwah ekonomi menjadi sebuah gerakan untuk memahami sesama santri dan masyarakat dalam kerja-kerja profesional, saling percaya, memiliki etos kerja keras, dan mampu berjejaring.

Bagaimana membangun rasa saling percaya kepada warga Nahdliyin. Terutama dalam urusan duit. Disini saja susahnya bukan main. Kadang sesama Nahdliyin malah tidak percaya tapi dengan orang diluar Nahdliyin malah sangat percaya. Aneh juga rasanya, tapi itu faktanya. Belum lagi pada urusan keterwakilan, entah keterwakilan warga masyarakat dalam legeslatif atau keterwakilan dalam event-event tertentu. Misalnya keterwakilan dalam legeslatif saja, berapa persen warga Nahdliyin yang percaya mewakilkan haknya kepada warga Nahdliyin yang mengikuti kontestasi pemilihan kepala desa, bupati, gubernur, legeslatif, sampai presiden. Kebanyakan mereka mengalihkan pilihannya bukan kepada kader NU karena tidak mempercayai kader NU sendiri. Ya walaupun ada beberapa kecil faktor X yang menguat sehingga tidak memilih kader Nahdliyyin. Ini kan akhirnya yang disebut NU tidak yakin dengan NU nya.

Rasa percaya merupakan modal awal dalam segala hal. Dalam urusan ekonomi, tanpa modal rasa percaya, tidak mungkin sebuah transaksi ajan terjadi, apalagi investasi. Tidak mungkin orang akan melepaskan modalnya kepada orang yang tidak ia percaya. Perlu usaha yang lebih keras lagi untuk menularkan virus saling percaya kepada sesama Nahdliyin. Bukan hanya urusan bisnis. ekonomi, pilihan politik, pilihan sekolah, bahkan pilihan menantu pun juga harus percaya dan dipercayakan kepada Nahdliyin. Tapi memang ada jaminan juga untuk menjadi predikat “layak dipercaya”. Oleh karenanya perlu diaspora kader (penyebaran kader) dibidang keahlian. Sehingga dengan kemajemukan kader, kita mengambil berbagai peran untuk mewujudkan Islam Nusantara yang Rahmatan lil’alamiin. Jangan sampai terjadi penumpukan keahlian yang sama (homogen) terjadi di NU.

Selanjutnya bagaimana membangun etos kerja yang baik. Kita semua sudah tahu kalau dalam urusan waktu, kita itu paling suka molor alias jam karet dan paling santai. Bahkan ada slogan salah menurut saya “lek gak molor gak NU”. Ini saya sebut NU lama, NU harus berubah, umapama undangan rapat ya harus jelas jam 18:00 sampai jam 20:00. Jadi yang punya acara setelah jam 20:00 masih bisa nglakoni acara selanjutnya. Budaya menulis jam 18:00 sampai selesai, harus dirubah demi etos kerja. Banyak ruang yang masih kosong dan belum digarap oleh NU. Oleh karenannya etos kerjalah yang bisa memaksimalkan peran NU menggarap ruang kosong tersebut.

Bagaimana membangun profesionalisme. Ini juga masalah. Karena seringkali kita selalu toleran terhadap kesalahan-kesalahan kecil di dalam berbisnis. Padahal dari kesalahan-kesalahan kecil itu bisnis bisa ambruk. Menegakkan profesionalisme itu susah-susah gampang. Susahnya jika profesionalisme itu harus ditegakkan kepada Gus/Lora/Ajengan atau teman satu pondok yang jadi rekan bisnis. Gak enaknya luar biasa. Gampangnya kalau itu ditegakkan terhadap diri sendiri. Misal kita punya stasiun TV, trus ada haflah di pondok mintanya diliput live, padahal waktunya “prime time”(waktu yang paling laku mahal untuk iklan) trus karena pondok, kita mau bilang tarif sebenarnya juga gak enak, tapi kalau gak bilang tarif sebenarnya, oprasionalnya darimana? Ini posisi sulit. Pun ini masih satu permintaan di satu pondok. Bayangkan jika permintaan di 3 pondok, di acara banom NU atau acara lainnya. Trus mintanya harga pertemanan. Disinilah profesionalisme susah minta ampun.

Membangun jejaring, apakah jejaring produksi, jejaring mitra atau jejaring pasar (market) harus kita bangun. Menurut LSI, warga Indonesia yang mengaku Nahdliyin per data tahun 2016 jumlahnya ada 91% lebih. Jumlah yang sangat fantastis untuk digerakkan menjadi jaringan dan mitra atau jejaring market. Bayangkan saja jika jumlah 91%  itu pelaku usahanya Nahdliyyin, barang yang dijual hasil dari Nahdliyyin, pemanfaatnya juga Nahdliyyin, Zakatnya juga untuk Nahdliyyin. Ini akan jadi kekuatan besar yang sangat disegani oleh siapa pun dan dibidang apa pun. 

Tapi ingat. Justru karena hal itulah NU di serang dan berusaha dihancurkan. Semua Nahdliyyin dibuatkan mainan agar sibuk bermain tanpa berfikir jamiyyah apalagi jama’ah. Diciptakan propaganda agar sesama Nahdliyyin tidak percaya, tidak komitmen, dan akhirnya saling hujat dan saling sikat.

Jika dahulu NU hanya dikenal sebagai ahli baca kitab dan berpendidikan rendah, kini sudah beda jamanya, doktor dan profesor yang dimiliki NU sudah luar biasa banyaknya. Oleh karenanya sudah saatnya NU mempertegas kebersamaan, saling percaya, ber etos kerja tinggi, dan berjejaring untuk maju bersama, sukses bersama dan mewujudkan Islam Nusantara yang Rahmatan Lil ‘aalamiin.(Din)