Benarkah NU sebagai Organisasi yang khusus membidangi Amar Ma’ruf saja, tanpa melakukan Nahi Munkar? Dan FPI adalah eksekutor Nahi Munkar sebagai pelengkap NU? Pertanyaan ini seringkali muncul dikalangan masyarakat akhir-akhir ini.

Memahami sebuah redaksi ayat atau hadist tidak cukup berbekal mengetahui terjemahnya saja, perlu disiplin ilmu yang spesifik membahas tentang bagaimana sebuah ayat diturunkan dan bagaimana sebuah hadis diposisikan tidak bertentangan dengan teks al Qur’an. Karena salah satu fungsi hadist terhadap al Qur’an adalah menjelaskan apa yang belum dijelaskan dalam al Qur’an.

Menurut Muhammad Syahrur, di dalam penggalian hukum Islam, kita  harus berdasar patokan “batas atas” (had al ulya) dan “batas bawah” (had al sufla). Di antara batas atas dan bawah inilah, umat boleh menafsirkan, memainkan pandangannya, pahamnya, pendapatnya dan seterusnya. Yang penting tidak boleh melampaui batas atas dan bawah yang menjadi patokan.

Misalnya kita kontekskan dalam Hadist,” Man Ro’a minkum munkaran fal Yughoyyir bi yadih, fain lam yas tati’ fa bilisaanihi, fain lam yas tati’ fa biqolbihi (al hadist, au kamaa qoola). Dari hadist ini, batas atas (Had Ulya) dakwah adalah “dengan tangan” dan batas bawahnya (Had Sufla) adalah “dengan hati”. Dari cara yang tertinggi sampai terendah. Ndak boleh bagi kita melampaui batas atas itu, misal dengan berdakwah pakai pentungan apalagi pedang. Itu terlaluh kata Bang Rhoma! Sebaliknya, juga tidak dibenarkan kita tinggal diam saat keburukan dan kemungkaran terjadi di depan mata. Seyogyanya, kita harus berada di batas terendahnya, yakni dalam hati. Misal,astaghfirullah….tapi dalam hati lho ya.

Begitu sampel praktik teori batas Syahrur ini.

Lha yang perlu kita perjelas adalah: pemaknaan dakwah dengan tangan itu praktiknya bagaimana?. Apakah digebuk? Diperangi? Dijewer? Dikampleng? Dijitaki? Digunduli? 

Mari kita pahami argumen lazim dalam ilmu metodologi tafsir. Sebuah dalil, pasti bersifat tematik. Ia pasti tak berdiri di atas satu dalil. Ini, kata Fazlur Rahman, disebut sebagai metode tafsir tematik. Baik dari lingkup ayat atau pun hadits. Dan relasi antara ayat dan hadits itu hirerakis.  Ayat lebih utama daripada Hadits. Tidak boleh penafsiran kita terhadap sebuah hadits mengalahkan maksud yang terkandung dalam sebuah teks ayat yang satu tema. Karenanya, secara tekstual, ayat dan hadits tak mungkin bertentangan, sebab fungsi hadits dalam ilmu tafsir ya sebagai penafsir ayat.

Maka, jika diterapkan, ayat tentang seruan berdakwah ( ud ‘uu ilaa sabiili rabbika bil hikmati,wal mauidlatil hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan) dengan pembatasan pada “hikmah”, “mau’idhah hasanah”, dan “jidal”, maka, Ayat ini tidak boleh ditabrak dengan penafsiran hadits “dakwah dengan tangan”. Sampeyan tidak boleh manafsirkan dakwah dengan tangan itu sebagai pembolehan memukul orang, sebab jelas-jelas ayat itu bunyinya haruslah dengan hikmah (kasih-sayang), mau’idhah hasanah, dan jidal(perdebatan)yang ahsan, bukan kopar-kapir dan sumpah serapah. Kecuali Sampeyan termasuk orang yang kurang menganggap gebukan pentungan di kepala orang adalah sebagai ekspresi kasih sayang.

Tentu saja, kategorisasi batas atas dan batas bawah ini akan selalu bekerja dalam sistem relasi kuasa/pengetahuan ala Michel Foucault(kuasa melahirkan pengetahuan dan pengetahuan menghasilkan kekuasaan). Diakui atau tidak, dipahami atau tidak. Kepada keluarga sendiri, ya kita leluasa untuk mendakwahkan dengan cara obrolan langsung, nasihat, teguran, hingga jeweran di telinga. Sebab mereka berada di dalam genggaman kuasa/pengetahuan kita.

Dengan demikian, segala bentuk dakwah yang mencerca pihak lain, menyakiti orang lain, apalagi memukul orang lain, yang memantik dampak negatif secara relasi sosial, haruslah dihindari. Sebab tidak sesuai dengan prinsip-prinsip berdakwah sebagaimana dimaksud.

Mari berdakwah yang santai saja, ndak usah tersengal-sengal saking kebeletnya hendak mengubah dunia seisinya menjadi seperti Sampeyan, atas nama dakwah fi sabilillah sekalipun. Bagaimanapun, Pluralitas/ Kebhinekaan alias keragaman paham, pilihan hidup, hingga agama, adalah hukum alam. Kehendak Allah. Menentang pluralitas sama dengan melancangi kehendak Gusti Allah, yang tentunya amat sangat su ul adzab bagi derajat seorang kawulo( kumowani).

Dalam konteks di atas, maka mengatakan NU sebagai organisasi yang hanya “Amar Ma’ruf dan tidak ada Nahi Munkar” bisa jadi yang mengatakan hal demikian adalah orang yang kurang piknik atau ngopinya kurang kental. Karena, jika kita mengikuti alur sebuah Teks, maka para Kyai dan pendiri NU tidak mungkin memahaminya sampai lepas konteks. Juga menjadi gamang ketika kita menyebut, aksi mendakwahkan ajaran Allah swt dengan cara menggunakan kekerasan dan pentungan bahkan mendeklarasikan aksi itu sebagai wujud Nahi Mungkar.