Mengenal Islam bukan hanya memahami teks agama baik Qur’an atau Hadist, tapi mengenal Islam juga harus mampu memahami akar budaya melalui situs dan praktek keberagamaan yang ada. Sehingga faham nilai apa yang ada dalam sebuah ritual ibadah, tidak sekedar ikut-ikutan (Gus Muwafiq menuturkan). 

Misalnya dalam praktik pelaksanaan ibadah haji. Apa nilai yang ada pada ibadah haji? Tak lain adalah meniru apa yang dilakukan oleh nabi Ibrahim alaihissalam. Kita kalau mau haji, juga biasa tiru-tiru, biasanya di alun-alun dibuatkan replika ka’bah dari papan kayu disebulah proses meniru tersebut dengan “latihan manasik haji”, lha kalau jamannya njeng nabi Muhammad SAW? ya gak ada latihan manasik. Maka dalam bacaan sholat ada penghormatan khusus untuk nabi Ibrahim. Bahkan tempat nabi Ibrahim berdiri disebut “maqom Ibrahim” tempat nabi Isma’il bermain disebut Hijr Isma’ail dan proses Dewi Hajar berlari antara Shofa dan Marwah disebut Sa’i. Yang intinya proses Haji adalah taqorub kepada Allah agar seprti taqorubnya nabiyullah Ibrahim kholilullah(kekasih Allah). Jadi yang diajarkan para mursyid tariqoh adalah bagaimana taqorub kepada Allah bukan yang lain. Inilah maksud kita diperintah menyebut Allah terlebih dahulu dan untuk selanjutnya menyerahkan segala puji dan penghormatan hanya layak bagi Allah tuhan yang merajai seluruh alam. Sehingga alurnya jelas dari “Bismillahirrohmainirrohim” lantas “Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin”.

Dahulu, Kanjeng nabi Muhammad SAW mencari situs Nabi Adam saat bertemu dengan Siti Hawa saat diturunkan ke bumi, yang akhirnya ketemu dan sekarang kita kenal bernama “jabal rahmah” (Tugu kasih sayang kalau anak milenial menyebutnya) dan menjadi aneh kalau ada yang mengatakan ziarah dan nguri-nguri situs peninggalan haram. Ya mbok lihat akar budaya yang diajarkan Rosulullah. Beliau ketika di Makkah, berpakaian dan gaya surbannya juga gaya Makkah dan sedemikian pula ketika beliau di Madinah, pakaian dan gaya surban beliau juga gaya Madinah. Beliau seakan menunjukkan bahwa kearifan lokal menjadi modal utama untuk membentuk negara bangsa, karna umat Rosulallah yang terdiri dari berbagai suku dan bangsa dengan tujuan untuk saling mengenal. Berarti kalau tujuanya saling mengenal, maka wajar jika ada perbedaan dan harus menerima perbedaan. Karena apa pun dan bagaimana pun, semuanya juga makhluknya gusti Allah.

Misalnya ada ras mongoloit yang modelnya kayak kita orang di benua Asia, kecil, agak pesek, kulitnya sawo matang, ya sudah diterima dan di syukuri dengan mengucap “alhamdulillah”. Jangan lantas ngiri ikut-ikutan dengan ras smith yang berada di daerah Eropa misal Saudi, Turki, yang kulitnya bersih, janggutnya lebat oleh jenggot, perawakanyan tinggi besar. Lha kok sekarang banyak orang gak bisa terima keadaan. Sudah tahu ras mongoloit susah tumbuh jenggot lebat, ee miara jenggot jumlahnya 12 biji, sampai beli minyak firdaus habis 3 botol juga gak kunjung lebat jenggotnya. Berarti sikap tidak bisa bersyukur atas segala bentuk penciptaan, menunjukkan bahwa kita belum tuntas pada memahami maksud dari “alhamdulillahi robbil aalamiin”.

Dan kalau sudah menyadari bahwa segala puji adalah milik Allah tuhan yang merajai seluruh alam, maka kita wajib memiliki kasih sayang kepada semua makhluk dan semua manusia, entah sesama muslim atau pun beda agama, sehingga kalau saja kemarin pas Pilkada Jakarta sikap rohman dan rahim yang digunakan, maka tidak akan keluar kalimat “bunuh Ahok”. Dan mayoritas masalah yang muncul dalam kehidupan beragama akhir-akhir ini adalah karena tidak mau menerima keadaan sesuai fakta, tapi berusaha berubah dengan menjadi pribadi ;; di bumi Indonesia, dan tega membunuh saudara satu bangsanya dengan dalih atas nama agama dalam term “Jihad”. 

Kita harus mampu membumikan sifat arrahman dan arrohim dalam kehidupan. Karena tidak ada yang patut disombongkan dihadapan Allah tuhan yang menguasai hari Akhir. Kenapa para ulama’ tasawuf  mengajarkan para murid untuk selalu menyebut Allah, Allah, Allah disertai dengan membumikan sifat kasih sayang kepada seluruh alam? tak lain dan tak bukan, karena kita nantinya akan dipundhut oleh Allah tuhan yang merajai hari Akhir (Maa liki yaumid diin). Dan ini perlu disiapkan. Karena setiap manusia pasti menghadapinya. Jika sudah datang malaikat maut, maka tak ada yang dapat mengakhirkan atau mengajukan waktu kematian tersebut. Ingat! Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang mampu mempersiapkan amal perbuatannya untuk dirinya kelak setelah ajal menjemputnya( al kaisu man daana nafsahu limaa ‘amila ba’dal maut). Pertanyaannya “apakah kita nanti ketika mati bagaimana? Apakah khusnul khotimah? atau syu’ul khotimah? atau malah kita bisa menempati sebagai golongan yang ketika ajal menjemput justru diundang oleh Allah SWT sebagai golongan jiwa-jiwa yang tenang, yang diminta secara terhormat untuk kembali menghadap Allah yang telah ridho dan meridhoi kita, untuk selanjutnya jiwa-jiwa yang tenang tersebut diminta untuk masuk pada kelompok hamba-hambaNya dan masuk pada surgaNya. Ini tidak ada yang tahu. Lha kalau tidak tahu kenapa tidak kita persiapkan?. Opo sampean wis nduwe kenalan wong njero njur gak gelem dzikir Allah? Gak demen taqarub nyang Allah? Gak gelem Ibadah nyang Allah? Sekali lagi, ingat! ada kehidupan setelah kematian, ada akhirat setelah dunia. Maka sungguh hebat sekali para sesepuh membahasakan dengan kalimat “Wong iku bakal bali maring sangkan paraning dumadi” (inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun) segalanya dari Allah, akan kembali kepadaNya.

Karena kita akan kembali kepadaNya, maka perlu bimbingan beribadah dan bimbingan minta pertolongan. Jangan sampai kita dibimbing oleh pembimbing yang salah, atau panduan yang digunakan pembimbing juga salah. Bahaya ini!. Sebagai “Saalik” (orang yang menempuh jalan menuju kepada  hakikat) kita perlu guru yang jelas sanad keilmuan dan sanad keguruannya. Mursyid yang mampu menjadi “murabbi ruuhina”(pendidik ruh kita/ pendidik sejati) tidak sekedar menyalahkan tanpa mengarahkan. Jika sudah bersama mursyid yang murabbi ruuhina, maka jaminan untuk menyatakan “Iyyaaka na’budu, wa iyyaka Nastain”( Kepada Panjenengan ya Allah, Kami beribadah, dan kepada Panjenengan pula, kami meminta pertolongan”. Akan jadi masalah jika disisi lain tiba-tiba kita mengaku “hanya kepada Panjenengan Kami beribadah, dan hanya kepada Panjenengan kami meminta pertolongan” tapi disisi lain kita tidak mau ” menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”. Oleh karenanya kita juga harus meminta untuk ditunjukkan kepada jalan yang lurus” Ihdinash shirathal mustaqiim”.

Tapi ingat! Yang dimaksud Shiraathal Mustaqiim disini adalah “Jalan orang-orang banyak yang Panjenengan berikan nikmat kepada mereka” (Alladziina an amta ‘alaihim). Kok pakai alladzina? iya, karena yang dimaksud adalah jalan mayoritas, dan mayoritas pasti mengarah pada jalan yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW. Islam mempunyai tujuan rahmatan lil ‘aalamiin, tapi qur’an hanya menjadi petunjuk bagi para muttaqiin(orang-orang yang bertaqwa) “hudallil muttaqiin”. Seperti yang disampaikan oleh Romo Kyai Chusaini Ilyas Mojokerto dalam mauidhoh sebelumnya bahwa “تقوى” huruf ت berarti tawadhu'(sopan santun), ق qona’ah berarti menerima kenyataan, و wiqooyah berarti menjaga diri dan ى  adalah ulfah artinya cinta damai. Jadi tidak mungkin orang yang taqwa trus dia tidak bisa sopan santun kepada sesama, tidak bisa menerima apa kenyataan (sudah Indonesia dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika ya sudah!), tidak bisa menjaga diri(dari perbuatan keji maupun perbuatan menyakiti orang lain), dan tidak termasuk kategori taqwa jika tidak bisa cinta damai.

Lantas kenapa kita meminta untuk ditunjukkan kepada jalannya rosulullah Muhammad SAW atau yang disebut jalan mayoritas (shiraathalladziina)? Karena banyak juga jalan yang ngaku sebagai jalan lurus tapi nyatanya tidak mayoritas. Merasa benar sendiri yang lain dikafirkan. Ada juga yang pingin mati sebagai Syahid, dan mujahid, tapi yang di bom juga orang Islam, dzikir di bid’ahkan, ziarah di bid’ahkan dan di musyrikkan, tawasul di haramkan. Oleh karenanya kita meminta kepada Allah untuk selalu ditunjukkan kepada jalan mayoritas, yakni jalanya rosullullah Muhammad SAW. Jika kanjeng Nabi mengajarkan kita untuk “Kamaa baarakta ‘ala Sayyidina Ibrahim” ini lima waktu kita lafalkan. Bukankah ini juga wasilah? Bukankah ini juga menghormati dan mengenang jasa kebaikan para leluhur?.

Sekali lagi ingat! yang kita mohon adalah jalan mayoritas, “bukan jalan orang-orang yang di murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat” (Ghoiril Maghduubi ‘alaihim waladh dhaalliin)”. Oleh karenanya Haul KH.Arf Mustakim yang ke 24 malam ini adalah dalam rangka kita mencari gandholan dengan cara berkumpul dan menceritakan kebaikan orang Sholih yang pastinya sanadnya sampai pada jalan mayoritas (Shiraathalladziina) yang mendapat nikmat bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang tersesat. 

Penting karenanya menegaskan konsep menyebut Allah yang diajarkan oleh para sesepuh tasawuf yang ternyata memiliki implikasi yang sebegitu luas dan begitu dalam maknanya. Semoga kita semua termasuk golongan yang  Tawadhu’, qona’ah, wiqaayah, dan ulfah atau bisa disebut “Taqwa”. (Gus Muwafiq memungkas ceramahnya).