Sabtu 8 Juli 2017 saat Ngaji pada Haul ke 24 Al Maghfurlah Romo Kyai Arif Mustakim yang ke 24 di Pondok Pesulukan Agung Kauman, Gus Muwafiq dari Jogjakarta yang sekaligus LDNU PBNU menyampaikan bahwa ajaran para sufi sepuh yang terkesan biasa oleh orang awam justru itulah yang menjadikan para sufi sepuh mampu mendialektika ajaran Islam secara sempurna. Misalnya saat di pondok menjalani lakon “Saalik/ menjadi murid” poro Kyai Mursyid toriqoh mengajak kita dzikir” Allah, Allah, Allah, Allah” justru inilah yang jika dibeber dalam narasi kalimat, tidak akan habis dalam satu hari/ satu malam.

Jika ditanya, kok dzikiran Allah, Allah, Allah, Allah dasar pengambilan dalilnya dari mana? Ya ngambilnya dari Al- qur’an. Jadi al Qur’an yang jumlah ayatnya 6666 ayat itu memiliki induk yang namanya Ummul Kitab (Al Fatihah), trus Al Fatihah ini punya kepala atau kurikulum dasar yaitu “Bismillaahirrohmaanirrohim” yang artinya Dengan Menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Jadi pada Bismillahirrohmaanirrohim ini ada perintah “Bismillahi” perintahnya sebutlah Nama Allah. Jadi dzikir Allah, Allah, Allah, Allah adalah upaya belajar menyebut Allah sebagaimana yang terdapat pada lafadz “Bismillah”. 

Bahkan kalau kita jeli mengamati fenomena yang terjadi akhir-akhir ini dalam bentuk kekerasan atas nama agama, semuanya dilakukann oleh mereka yang “Bismillahnya hilang”. Gus Muwafiq juga memberikan tamsil demikian: “Bagaimana mungkin orang yang hatinya mau menyebut Allah dalam setiap saat akan mempermasalahkan apa yang dilakukan orang lain? Lha wong ngurusi dirinya sendiri saja sudah repot? Makanya kalau kita semua diajar oleh Mursyid thariqah untuk melafalkan Allah, Allah, Allah, Allah adalah dalam rangka belajar bagaimana mulut kita ingat Allah, mata kita ingat Allah, tangan kita ingat Allah, kaki kita ingat Allah, bokong kita ingat Allah, lutut kita, kepala kita, sampai hati kita untuk selalu ingat Allah.

Sesungguhnya mulut yang ingat Allah saat diajak dzikir Allah, Allah, Allah, Allah ya bunyinya tetap gak berubah jadi Awoh, Alah, Awelloh atau lainnya. Sedemikian juga, mata yang ingat Allah saat diajak dzikir bukan malah terpejam ngantuk, kaki yang ingat Allah saat diajak dzikir tidak akan mengeluh senut-senut, bokong yang ingat Allah saat dzikir akan betah bukan gretehan kepanasan dan tidak tenang pingin segera pindah, hati yang ingat Allah saat dzikir tidak akan mikir “oh ini kok lama banget ya” tapi akan memancarkan aura positif sehingga mempengaruhi pikiran, dan perbuatan untuk melakukan dan menuju pada kebaikan dalam rangka “taqarub ilallah”. 

Lha kok Mata diajari dzikir, kaki, bokong, kepala, tangan, sampai hati juga diajar berdzikir? Lha bukankah ” Al yauma Nakhtimu ‘ala afwaahihim wa tukallimuna aidiihim wa tashhadu arjuluhum bimaa kanuu yak sibuun”( dan dihari qiyamat nanti mulut kita terkunci, selanjutnya tangan akan bicara dan kaki akan menjadi saksi tentang apa yang diperbuat”. Lha yang bisa maknani Al Qur’an dengan cara seperti ini sampai mewujudkan menjadi amaliyah seperti para Kyai dan ulama’ Sufi ahli Thariqah pastilah bukan mereka yang saat baca Fatihah “Bismillahnya hilang”. Pembahasan ini bukan pada perdebatan apakah “Bismillaahirrahmaanirrahim” bagian dari faatihah atau bukan. Tapi ini ada pada subtansi perintah menyebut” Allah yang ada pada lafadz Bismillahi”.

Lha kalau ditanya” Mana dalilnya dzikir dibaca keras, para sahabat kalau dzikir diam gak ada suaranya? Ini harus difahami dengan detail, jika para sahabat dzikir diam, para sahabat dzikir dengan hati, karena beliau dekat dengan Rosulullah yang memancarkan aura positif untuk taqarrub ilallah. Lha kita? Dilafalkan dengan keras “Allah, Allah, Allah, Allah, kadang telinganya karena belum terbiasa diajak dzikir krungune ya Alwoh, Awoh. “Lha kita kalau diam meneng-menengan saat dzikir, bisa jadi mata terpejam ketiduran, mulut berucap yang lain, lutut keju-keju dan hati juga gak karuan larinya kemana”. Lha kalau ada yang tanya” itu dzikiran kok kepalanya goyang-goyang, zaman nabi dan sahabat gak ada dzikir kepalanya geleng. Lha ini karna taladzudz” ngroso enak/ kepenak. Sama kayak sampean semua saat minum kopi panas pas disruput trus gedhek sambil berucap alhamdulillah enak e. Lha kalau dzikir pakai tasbih? Zaman Nabi dan sahabat kan gak ada? Lha “ini juga dalam rangka mblajari tangan untuk ingat Allah. lak mendhingan dzikir mulute ngucap Allah, Allah, Allah, Allah trus tangane nyekel tasbih dari pada tangane ngupil?.

Memang akhir-akhir ini sikap beragama kita selalu dihadapkan pada pola “matrialisme”(segala sesuatu harus dimaterikan) materi dalam tanda kutip pertanyaan “mana dalilnya? Apakah nabi melakukannya” sehingga beragama Islam dituntut untuk skriptualist dan kaku. Ini terjadi ya karena mereka kehilangan kurikulum dasar beragama yang berupa “Bismillah”(menyebut nama Allah) karena jika menyebut nama Allahnya benar maka akan ketemu Arrahmani(yang maha pengasih di dunia) gak ada rumusnya kalau nyebut Allahnya benar lantas kesana kemari teriak kopar kapir. Karna setelah menyebut nama Allah, dia harus menjadi pengasih kepada semua yang ada di dunia tanpa terkecuali. Maka jangan heran jika dulu para Kyai Sepuh Tasawuf  saat ada ayam naik ke Masjid, yang terucap adalah Alhamdulillah, karena itu juga makhluq Allah, walaupun ayam ini buang kotoran di Masjid, sang Kyai juga berucap Alhamdulillah, karena Kyai faham, yang layak bawa telek ke Masjid ya ayam. Dan justru karena adanya ayam yang buang telek di masjid ini, ilmu fiqih tentang thaharah bisa diamalkan, sehingga benar-benar tahu apakah warna najisnya, baunya dan rasanya najis sudah benar-benar hilang atau belum? Jadi para Kyai Tasawuf ini mengajarkan perasaan, pikiran, perbuatan, dan ucapan kita untuk selalu kembali kepada Allah.

Maka selanjutnya, jika sudah mau mau menyebut Allah dan Ingat Allah serta membumikan sifat Allah dengan mengasihi semua yang ada di muka bumi ini, maka Allah juga akan mengasihi kita di Akhirat kelak. Ini yang oleh para Kyai Tasawuf ajarkan, maka bisa jadi kita seolah-olah dzikir menyebut Allah, ketika di akhirat ditanya oleh malaikat” sampean dzikir Allah? Maka si tangan mengucap mboten gusti kulo ngupil, trus kuping juga juga bersaksi bahwa dia tidak ingat Allah karena dalam telinganya hanya terngiyang suara merdu istrinya, hatinya juga bersaksi bahwa ia hanya terbersit untuk mendapat pujian orang dan sanjungan saja bahkan ia juga mempengaruhi pikiran untuk tidak betah saat dzikir bahkan kaki juga terpengaruh untuk senut-senut dan keju linu saat dzikiran. Maka sampailah pada giliran bokong yang saat dzikiran ia betah dan tetap berada ditempat dzikir sehingga ia bisa istiqomah dan tenang duduk dan ikhlas. Lha kalau demikian, bisa jadi yang lolos seleksi tes untuk masuk surga ya hanya bokongnya saja.

Apa yang dilakukan hamba dengan mau menyebut nama Allah dan menebarkan kasing sayang di dunia ini adalah dalam rangka untuk mendapat kasih sayang dari Allah kelak di Akhirat. Karena segala seuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Karena perasaan dan kesadaran inilah yang mendasari para Kyai Sepuh Tasawuf mboten gampang kagetan dan ngamukan. (bersambung).