“Kok sepi pada kemana ya?” Tulis seorang teman di grup WA kemarin sore. Saya jawab, lha selama ini sampean juga gak peduli dengan grup, ya wajar kalau sekarang sepi. “lho…apa hubunganya saya gak peduli dengan grup dan kejadian sepi sore ini kang?”(tanya sang teman). Lha kalau yang ada di grup saja tidak peduli, bagaimana grup bisa hidup? Coba sampean pikir bro, jika orang satu grup punya kelakuan dan pikiran sama kayak sampean?” jawabku, ya minimal njempol atau kasih emoticon senyum lah. Bukan hanya clear chat tanpa baca. Jangan harap orang menghargai kita, jika kita tidak bisa menghargai orang lain. Tandasku pada sahabat yang cukup akrab tersebut. Betul juga kang pendapat sampean, kalau satu grup yang anggotane dua ratusan, terus gak peduli tahunya ya hapus semua pesan tanpa baca, pasti silaturrahmi gak jalan. Sahut sang teman. “lha ngerti ngono bro” timpalku yang dijawab dengan emo ROTFL tanda mencairnya suasana komunikasi.

Sekilas dialog di atas bukan hal yang penting dan perlu untuk dicermati. Tapi coba kita lihat dengan analisa sederhana. Apa yang terjadi jika kita berada di grup WA dengan pola komunikasi “semau gue?” pasti semangat silaturrahim berkomunikasi di grup akan hilang dan yang tersisa adalah ego personal dan sekedar formalis.

Dewasa ini kita dimudahkan dengan teknologi alat komunikasi dengan sarana HP Android. Serasa kita bukan hanya sebagai makhluk sosial, tapi sudah bergeser menjadi makhluk dunia sosial. Segala yang kita lakukan terabadikan di medsos. Makan, diupload, piknik, sedih, bahagia, berdoa sampai tidur pun juga tayang. Bahkan ada guyonan” kalau nyari keberadaan teman di dunia nyata gak ketemu, silakan cari di dunia maya, pasti ketemu”.

Jika kita kategorisasikan pengguna Medsos di Indonesia, masih tergolong pendatang baru bagi peradaban dunia sosial. Sehingga tak jarang, yang dilakukan kayak anak kecil yang baru pegang mainan baru, semua orang diberi tahu bahwa dia punya mainan dan bisa mainkan. Bahkan prinsip mencoba dan salah pun di dalilkan dalam argumen pembelaan bermedsos. Tanpa memaknai subtansi komunikasi yang dimudahkan dengan fasilitas HP Android.

Subtansi komunikasi adalah “penyampaian pesan kepada yang dituju, dan terbalasnya pesan” jadi ada pola dialog, bukan monolog.  ada komunikasi dua arah yang saling merespon tema komunikasi, walau pun sekedar njempol. Banyak personal yang memiliki grup WA sampai puluhan jumlahnya, tapi disetiap grup itu dia tidak pernah membaca dan berkomunikasi dengan sesama anggota? Lantas dimana fungsi komunikasinya bro?

Kita masih ingat apa yang menjadi slogan Nokia sebagai perusahaan alat komunikasi yakni “conecting the people”, mestinya dengan semangat penghubung antar personal, Nokia bisa menguasai pasar sampai hari ini, tapi justru ambruk dan kalah dengan pendatang baru yang lebih faham dengan kebutuhan pasar. Bisa jadi kita berada di grup WA telah lama, tapi kita tidak mengerti isi karakter anggota grup tersebut. Maka dalam komunikasi, kita akan dikalahkan mereka yang baru tapi mampu memerankan diri sebagai komunikator.

Kadang kita juga sering ngedumel dan jengkel saat membaca web atau fanpage yang isinya hasutan, fitnahan, atau umpatan sumpah serapah yang menurut kita sangat tidak layak tapi memiliki pengikut(follower) dan jumlah penyuka(liker) ribuan bahkan jutaan. Sementara disisi lain ada web atau fanpage dengan isi moderat, memiliki nilai pengetahuan baik agama atau universal, bahkan membawa pesan damai tapi pengikut dan penyukanya hanya ratusan. 

Kenapa hal ini terjadi? Inilah sebenarnya kecerdasan kita di uji, para pengikut dan penyuka adu domba atau hasutan lebih kompak dan murah dalam memberikan klik jempol pada fanpage atau web mereka bahkan sampai rela menggunakan robotik agar liker dan followernya konsisten sehingga saat diketik keyword di google saat melakukan pencarian, milik merekalah yang selalu muncul.

Trus yang web dan fanpage moderat, mencerahkan, membawa pesan perdamaian? Berada dibawah karena kita tidak terbiasa nge like atau nge follow. Kita egois dan tidak cerdas dalam bermedsos. Kita selalu berhitung apa untung saya? Tanpa berfikir eksistensi kelompok besar antara yang tertata dan tercerai. Kebenaran yang tidak tertata akan dikalahkan oleh kejahatan yang tertata dengan rapi. Minoritas yang kompak, akan mampu menggeser mayoritas yang terpisah-pisah dan tidak terikat.

Oleh karenanya, perlu reorientasi dalam bermedia dan pembiasaan nge klik web atau fanpage yang memiliki nilai moderat, memberi pengetahuan, dan membawa semangat perdamaian demi mewujudkan eksistensi mengisi dunia maya dengan konten ramah, bukan marah, pengetahuan bukan berita palsu(HOAX) dan perdamaian bukan justru perpecahan.

Kesadaran bahwa dunia maya adalah dunia ketiga yang harus diwarnai dengan isian positif harus dibangun dan menjadi arus utama dalamberkomunikasi dan berinteraksi bermedia sosial. Jangan sampai kita hanya ngedumel tanpa berbuat atau apatis dan skeptis melawah kelompok negatif yang nyaring dan tertata. Masalah kita adalah masalah belum sadar bahwa mengisi dunia maya juga penting dan setiap kita punya nilai guna bagi yang lainnya.

Oleh karenanya mari kita ubah untuk berperilaku sadar dalam bermedia sosial tanpa melupakan subtansi komunikasi dan mengisi dunia maya dengan konten positif serta tidak pelit untuk nge klik web atau fanpage kelompok pembawa perdamaian, pengetahuan dan kebenaran. Serta perlu meninggalkan budaya share dan copast tanpa berfikir dahulu “darimanakah sumber beritanya? apakah berita yang saya share ini benar? Kalau benar, apa manfaatnya bagi saya?”. Karena bisa jadi, justru kitalah yang membesarkan kelompok yang jelas pembawa fitnah dan membawa perpecahan dengan tanpa sengaja nge share dan mempublikasikan berita dan kabar mereka. 

Mari kita ubah perilaku bermedia sosial menuju kecerdasan untuk mewujudkan dunia maya yang di isi dengan konten perdamaian, pengetahuan, pencerahan, dan kenyamanan bagi seluruh alam.

#Penulis adalah Pimpinan di Media online Lakpesdam dan Dosen Muda di STAI Diponegoro Tulungagung.