oleh: Nur Khalik Ridwan

(Alumni PP. Darunnajah dan Imam Tahlil di sebuah musholla kecil.

Sengatan NU Garis Lurus

Diskursus wacana publik belakangan di kalangan NU merambah ke fenomena menyengat. Banyak orang NU dibuat terpana munculnya arus garis purifikasi Aswaja dari kalangan Nahdliyin, seperti munculnya fenomena Gus Najih Maimun yang mengkampanyekan Daulah Islamiyah dalam tulisan-tulisannya, Gus Luthfi Bashori yang mengklaim memperjuangkan NU Garis Lurus, Kyai Idrus Ramli yang sudah berani menyesatkan KH. Abdurrahman Wahid dan Bu Hj. Shinta Nuriyah dalam video yang diunggah web NU Garis Lurus; dan munculnya web anonim NU Garis Lurus di luar web Gus Luthfi Bashori yang juga membawa jargon NU Garis Lurus.

Tulisan ini ingin memberikan kontribusi membaca NU Garis Lurus untuk kepentingan generasi baru Nahdliyin. Yang mula harus diperjelas adalah NU Garis Lurus ada tiga hal: pertama, merujuk pada kampanye media sosial Gus Luthfi Bashori dalam web pribadinya, beralamat di www.pejuangislam.com., yang dalam logonya diberi nama “Pejuang Islam NU Garis Lurus”; kedua, merujuk pada kampanye media sosial dalam web yang beralamat di www.nugarislurus.com; dan blog nu-garislurus.blogspot.com., yang juga memakai nama logo NU Garis Lurus.

Tulisan ini ingin memfokuskan pada rujukan kedua, yang beralamat di www.nugarislurus.com. Sedangkan rujukan yang ketiga, justru isinya berseberangan dengan yang kedua dan yang pertama, yang secara serampangan dan gegabah oleh Uts. Luthfi Bashori disebut berfaham liberal. Sedangkan rujukan yang pertama, merujuk pada web pribadi Ust Luthfi Bashori, yang isinya meluap-luap itu, perlu sebuah tempat tersendiri untuk membahasnya.

Hubungan antara www.nugarislurus.com dan situs www.pejuangislam.com yang dimiliki Gus Luthfi Bashori, di antaranya diklarifikasi dalam situs www.pejuangislam.com dalam surat berjudul “Klarifikasi Munculnya Blog dan Facebook NU Garis Lurus”. Klarifikasi itu berbunyi demikian.
Sehubungan dengan munculnya blog dan facebook atas nama NU Garis Lurus yang mencatut foto kami pribadi (Luthfi Bashori), serta artikel dan logo kami (ww.pejuangislam.com), jika ada isi dan blog & FB atas nama NU Garis Lurus yang merugikan kami, maka dengan ini situs kami pejuang Islam NU Garis Lurus belum pernah secara resmi membuka akun fb, fanpage, grup fb, atau blog. Saat ini muncul juga alamat link nu-garislurus.blogspot.com dikelola kaum liberal, yang isinya bersebarangan dengan situs kami Pejuang Islam NU Garis Lurus. Dengan demikian seluruh isi blog & FB atas nama NU Garis Lurus, bukan menjadi tanggungjawab kami. Mohon kepada pembuat akun blog/FB NU Garis Lurus dengan tanpa seijin kami itu segera bertobat kepada Allah dan menghapusnya dari jejaring sosial.

Wassalam

Pengasuh situs Pejuang Islam, NU Garis lurus

Ttd.

Luthfi Bashori

Klarifikasi Gus Luthfi Bashori itu menjelaskan dua hal: NU Garis Lurus yang mula-mula digagas oleh dan dikendalikan olehnya telah menjadi “ajang pertempuran”; dan tampak ada keterusterangan bahayanya NU Garis Lurus ini ketika ia menjadi liar, justru diakui sendiri oleh Gus Luthfi Bashori yang menyebutkan “jika ada isi dan blog & FB atas nama NU Garis Lurus yang merugikan kami”. Ketakutan NU Garis Lurus yang tidak berada di dalam jangkauannya, sementara wacananya dilontarkan olehnya, menunjukkan kepada publik bahwa secara inheren dan tersirat ia menyadari bahwa NU Garis Lurus yang demikian akan merugikan dirinya. Kalau dia sendiri merasakan merugikan dirinya, mestinya dia juga merasakan betapa NU Garis Lurus merugikan secara moral bagi NU dan masyarakat Nahdliyin, dan ini yang sayang kurang disadarinya.

Arus Pemurnian NU Garis Lurus

Al-Faqir ingin melihat bahwa fenomena NU Garis Lurus adalah fenomena arus pemurnian Aswaja yang tumbuh di kalangan Nahdliyin, baik yang ada di www.nugarislurus.com ataupun situs www.pejuangislam.com., terlepas tidak dimunculnyakannya pengelola situs www.nugarislurus.com. Arus ini di antaranya digulirkan dalam wacana publik oleh Gus Luthfi Bashori. Substansi isinya juga tidak berbeda jauh dengan apa yang dikampanyekan dalam situs www.pejuangislam.com. yang diasuhnya, meskipun di bagian-bagian tertentu, www.nugarislurus.com lebih keras dan serampangan.

Yang diperjuangkan oleh www.nugarislurus.com ini adalah propaganda dan provokasi: untuk membuat arus pengentalan sektarianise anti syi’ah, Ahmadiyah, dan kelompok-kelompok lain di dalam diskursus Nahdliyin; melecehkan tokoh-tokoh NU yang benar-benar berjuang untuk NU, seperti KH. Abdurrahman Wahid dan Gus Mus, dan juga pesantren-pesantren yang didedikasikan untuk membina kader-kader NU, seperti PP. Raudlatuth Thalibin, PP Dar at-Tauhid, PP Ciganjur, dan lain-lain; mengungkapkan eksistensi para penentang Pancasila di tubuh NU; dan ikut mengkampanyekan muktamar NU di Jombang dengan menyerukan saatnya NU menghancurkan orang-orang Syi’ah dan liberal di NU, dengan mengunggul-unggulkan dan pembelaan-pembelaan tertentu terhadap sosok KH. Hasyim Muzadi, di dalam beberapa tulisan web ini.

Dari rangkaian jalinan argumentasi, mereka ingin membuat arus daulah Islamiyah di tubuh NU dengan fondasi purifikasi Aswaja, dan dalam hal ini, mereka menampilkan tulisan-tulisan, video, wawancara, dan sejenisnya dari kalangan NU sendiri seperti Gus Najih Maemun, Gus Luthfi Bashori, Ust. Idrus Romli, dan sejumlah tokoh lain. Ada jalinan terpadu dari berbagai kampnye tulisan dan video yang ada di sini, yang ingin dibangun dengan mengarusutamakan daulah islamiyah di tubuh NU dengan fondasi puurifikasi Aswaja. Entah sadar atau tidak, orang seperti Gus Najih Maemun, Gus Luthfi Bashori, Ust. Idrus Romli, dan beberapa narasumber telah menjadi pemompa dan pemukul untuk memberikan jalan bagi arus daulah islamiyah ini, meskipun dalam detil-detil mereka bisa saja berbeda.

Al-Faqir tidak gelisah munculnya arus ini, kalau hanya berpikir untuk diri sendiri, bilcuek. Pertimbangannya, metamorfosis mereka ini akan menjadi arus daulah islamiyah di tubuh NU dengan basis ideologi purifikasi Aswaja atau pemurnian Aswaja, yang akan menempatkan mereka di luar garis politik Negara Pancasila dan UUD 45. Hasil akhirnya bisa diduga, kecil saja melihat dari sudut sejarah sosial-politik di Indonesia. Mereka yang faham sejarah Indonesia dan gerakan-gerakan Islam, akan tersenyum kecut atas arus itu, sambil garuk-garuk kepala.

Al-Faqir juga tidak gelisah, karena kok bisa Aswaja diartikulasikan begitu ya? Bisa dong, karena kalau seorang Nahdliyin tidak mengenal konsep an-Nahdliyah yang menyandingkan Aswaja NU dengan dunia baru, bangsa, kemanusiaan, dan kekuatan sosial riil di Indonesia, memang bisa terjerumus ke arus daulah islamiyah. Aswaja dan kitab kuning an sich menyediakan bacaan-bacaan daulah islamiyah juga, di samping bacaan-bacaan yang mencerahkan, karena referensi kitab kuning di kalangan Aswaja memang disusun pada abad tengah tatkala masyarakat Muslim ada dan hidup pada zaman kekhilafahan dan kesultanan Islam.

Arus mereka ini memberikan fondasi lahirnya generasi baru daulah islamiyah di tubuh NU. Dan, lagi-lagi kalau berpikir secara pribadi bilcuek, al-Faqir sendiri tidak gelisah. Seperti itu tadi, mereka tidak akan pernah besar di dalam sistem sosial-politik di Indonesia, karena bekalnya untuk mengarungi samudra luas dan dalam di Indonesia yang kompleks ini, hanya dengan satu perspektif kitab kuning semata, dan itu memperlemah mereka; dan ketidakmampuan membaca sistem sosial dan sejarah politik di Indonesia, juga titik lemah arus ini.

Kalaupun mereka bisa membesar dan bermetamorfosis menjadi memperjuangkan daulah islamiyah di kalangan NU, apalagi kalau sampai bersenjata, toh mereka dengan sendirinya akan menghadapi kekuatan TNI-Polri. Kalau sudah begitu, bukan hanya Ust. Idrus, Gus Najih, dan Gus Luthfi dan lain-lain tokoh yang dipampang dan dijadikan pemukul di NU Garis Lurus akan menggali lubangnya sendiri. Lagi-lagi, ini kalau al-faqir berfikir untuk diri sendiri dan bilcuek saja, mencermati arus daulah islamiyah di tubuh NU ini menjadi tidak menarik, dan kadang-kadang membuang waktu saja.

Akan tetapi al-faqir menjadi gelisah kalau berfikir tentang NU ke depan, sebagai bagian dari komunits Nahdliyin. Arus seperti Gus Najih, Gus Luthfi, dan Ust. Idrus yang dipampang dan menjadi pemukul di NU Garis Lurus, akan meletakkan fondasi bagi arus Daulah Islamiyah di NU vis a vis negara Pancasila, meskipun itu dibungkus dengan halus dengan cara apa pun, dengan kitab-kitab kuning dan lain-lain. Kegelisahan al-faqir bukan terletak akan besarnya mereka mempengaruhi NU; juga bukan karena terletak hebatnya mereka mengusai kitab kuning; dan juga bukan terletak pada betapa shuhbah-nya mereka dengan kalangan arus daulah islamiyah lain, seperti shuhbah-nya Kyai Idrus dengan Adian Husaini dan kalangan daulah islamiyah lain; dan shuhbah-nya Gus Luthfi Bashori dengan kalangan yang memperjuangkan arus daulah islamiyah di Indonesia; dan sementara mereka memusuhi orang-orang yang benar-benar NU, seperti Gus Dur, seperti dilakukan Ust. Idrus Ramli. Bukan terletak pada itu kalau al-faqir gelisah.

Kegelisahan al-faqir justru terletak pada efek dari apa yang dilakuan NU Garis Lurus ini merembet ke kyai-kyai lain yang diprovokasi dengan purifikasi Aswaja itu. Ditambah, para guru di kampung-kampung ini tidak memiliki cara pandang di mana posisi mereka di tengah arus perubahan dan arus kelompok yang memanfaatkan ide-ide itu di Indonesia. Pada sisi lain, mereka sendiri tidak merepresentasikan kekuatan sebenarnya di dalam arus perubahan di Indonesia, karena hanya mengandalkan kitab kuning dan selebari dari seminar ke seminar, terutama untuk kasus Ust. Idrus Ramli; dan kalau sudah ada dalam posisi itu, mereka tidak akan bisa memandu bangsa Indonesia, karena mereka sudah menempatkan diri sendiri dalam pagar yang dibuatnya sendiri. Yang terjadi justru mereka akan terjebak untuk memusuhi orang-orang NU sendiri, dan mujahid-mujahid yang mengangkat derajat masyarakat NU.

Jadi, ibarat ayam jago, NU Garis Lurus berkokok di siang hari, prematur. Padahal arus perubahan sesungguhnya di Indonesia terletak pada basis kekuatan ekonomi, pengetahuan-pengetahuan baru termasuk teknologi, dan kepemilikan senjata (diprepresentasikan oleh TNI). Dapat diduga dengan tidak memiliki basis ini, mereka akan tersingkir dengan sendirinya dalam arus perubahan. Akan tetapi kampanye mereka bisa meninabobokkan kyai-kyai di kampung untuk meneruskan dan memperjuangkan daulah islamiyah. Efeknya, kyai-kyai di kampung itu kalau tidak bisa direm akibat provokasi mereka, akan bermetamorfosis menjadi seperti Ajengan Masduki yang berkultur Islam tradisi yang masuk NII, vis a vis negara Pancasila. Mereka akan menggali kubur untuk para kyai-kyai NU di kampung dengan dalih dibungkus Aswaja lurus, yang sejatinya akan bermetamorfosis menjadi vis a vis dengan negara Pancasila dan UUD 1945.

NU Garis Lurus dengan sendirinya bisa dibaca sedang menjerumuskan kyai-kyai Nahdliyin di kampung-kampung ke dasar yang dalam melawan negara Pancasila, secara sadar atau tidak. Padahal para penggerak NU Garis Lurus yang anonim itu, dan tokoh-tokoh yang ditampilkannya untuk memprovokasi bisa saja beralih haluan, karena mereka kelas menengah santri pesantren di NU. Akan tetapi kyai-kyai NU di kampung yang tidak memiliki akses politik, ekonomi, dan media, dan telah terprovokasi akan masuk jebakan. Kalau sudah begitu mereka tidak bisa lari lagi kalau sudah tersudut dan disudutkan. Sementara arah percaturan global dan nasional tidak dipahaminya; tidak bisa ditebak dengan garis lurus, dengan kacamata kuda.

Telah benderang, kalau yang punya senjata marah, Baasyir saja bisa dicokok, apa belum menjadi bukti, padahal Baasyir itu punya asykar dan berlatir militer; dan Kartosoewirjo saja hancur apa belum menjadi ibrah. Melasnya, para guru kita, yaitu kyai-kyai NU di kampung yang tidak pernah belajar militer dan tidak memiliki asykar, tetapi diprovokasi menjadi berani lantang membusungkan dada: kami pejuang syariat Islam akan melawan thaghut Pancasila, inilah NU Lurus.”

Dari sudut inilah al-faqir betul-betul gelisah, arus daulah islamiyah akan menjadi fondasi menggali kubur kyai-kyai NU di kampung-kampung berhadapan dengan negara Pancasila dan UUD 1945, sambil kelompok daulah islamiyah lain di luar NU riang bertepuk tangan, karena mereka menyaksikan kyai-kyai NU mendapat gilirannya. Bukanlah mereka ini juga punya dendam kepada NU yang ikut terlibat dalam negara Pancasila dan ikut mengubur NII? Hanya orang yang bukan NU, atau semata berkedok NU, yang tidak memiliki rasa welas kepada kyai-kyai NU di kampung, yang notabene adalah guru-guru kita sendiri.

Aswaja Minus an-Nahdliyah

Dari sudut an-Nahdliyyah, arus daulah islamiyah di dalam NU Garis Lurus dan serapahan-serapahannya kepada tokoh-tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk NU, perlu dilihat kembali. Memang Aswaja bisa saja dipeluk oleh berbagai kelompok. Di Indonesia, Aswaja yang Syafi`iyah saja, di antaranya ada NW, al-Washliyah, Perti, dan lain-lain. Akan tetapi jelaslah bahwa setiap Aswaja belum tentu NU. Padahal setiap orang NU mesti dan harus berpijak untuk kepentingan NU dan masyarakatnya di tengah sistem sosial dan arus perubahan yang ada di Indonesia. Dalam hal itu, gagasan bukan semata untuk gagasan. Tetapi sejauh mana gagasan itu mampu bisa digunakan untuk membantu dan mengangkat derajat orang Nahdliyin, dengan optik luas dan jauh ke depan, yang kadang harus meliuk-liuk, tidak sekadar garis lurus.

Dari sudut an-Nahdliyyiah juga, setiap orang yang merasa menjadi NU terikat oleh keputusan-keputusan yang dilahirkan oleh organisasi NU kalau dia ingin membawa nama NU dan Nahdliyin, termasuk hasil-hasil Bahsul Masail NU, keputusan Khittah NU, dan lain-lain. Kalau ada orang NU yang justru mengampanyekan daulah Islamiyah, sebagaimana dalam NU Garis lurus yang mengatasnamakan NU dan bersebarangan dengan jamiyah NU yang telah menganggap NKRI final dan Pancasila syah sebagai dasar negara, jelaslah perlu diberi teguran. Bahkan dalam berbagai hal lain, tampak bersebarangan secara frontal, maka dapat diposisikan bahwa orang seperti ini dapat dipertanyakan dari sudut an-Nahdliyahnya, walaupun bisa saja dianggap syah secara Aswaja, karena memang Aswaja bukan NU saja.

Dari sudut an-Nahdliyah, juga perlu dilihat bahwa Aswaja diterapkan dalam kondisi dan konteks di Indonesia, berliku-liku dan berbelok-belok. Dari sudut ini, kalau menganggap bahwa NU lurus itu seperti NU Garis Lurus atau seperti Gus Luthfi, Ust Idrus, dan Gus Najih dan tokoh lain yang menjadi pemukul di NU Garis Lurus misalnya, maka yang lain dianggap sebagai bengkok. Padahal justru NU Garis Lurus itu yang tidak memahami sejarah NU yang berbelok-belok, dan karenanya NU Garis Luruslah seben arnya yang menyempal dari tradisi sejarah NU. Sebab dalam perjalanan sebuah bangsa, berjalan lurus itu bisa saja menjadi seperti kuda, kepala batu, dicucuk hidungnya, pakai kacamata tebal, nggak boleh noleh kanan dan kiri, alias tidak canggih dalam melihat keadaan; dan sejarah NU itu jelas berbelok-belok seiring dengan situasi sosial dan politik.

An-Nahdliyyah juga berarti al-ukhuwah an-Nahdliyyah, melengkapi al-ukhuwah al-Islamiyah, al-basyaraiyah dan al-wathaniyah, dan ini penulis usulkan dimasukkan sebagai nilai-nilai yang mesti dihidupkan di kalangan NU. Dengan ini, memusuhi secara frontal orang-orang yang benar-benar hidupnya didedikasikan untuk masyarakat NU, seperti Gus Dur, Gus Mus, KH. Said Aqil Siraj, NU Garis Lurus benar-benar perlu dipertanyakan dari sudut Ukhuwah Nahdliyah-nya. Karenanya, patut dipertanyakan ke-NU-annya, meskipun mereka mungkin telah membungkusnya dengan Aswaja.

Beberapa tokoh yang dijadikan sebagai pemukul di NU Garis Lurus, tampaknya salah mengira dan menakar diri terlalu tinggi, karena sering diundang seminar ke sana kemari dan telah menjadi selebriti. Hanya karena kepintaran dan kecerdasan mengutip kitab-kitab kuning, tidak cukup. Bukankah kepintaran yang demikian tidak berbading lurus dengan seberapa besar orang yang membela dan menjadi pengikutnya; dan tidak berbanding lurus dengan mesti mendapat ridha Allah dan para masyayikh NU yang telah meninggal. Kalau dengan kepintaran itu, lalu digunakan semaunya justru untuk menghantam orang-orang NU sendiri, seperti pemukul yang ditampilkan NU Garis Lurus, Ust Idrus yang menyesatkan KH. Abdurrahman Wahid dalam sebuah video yang diunggah, al-faqir tersenyum kecut.

Bukankah Lebih baik berdiksusi dalam keluarga besar Nahdliyin, dimana letak hal-hal yang bisa dipandang sama dan di mana letak yang tidak bisa sama, harus saling dihormati, sebagaimana Mbah Bishri menghormati Mbah Wahab meskipun tidak sepakat dalam hal-hal tertentu. Akan tetapi kalau sudah melangkah seperti itu, menyesatkan KH Abdurrahman Wahid; menganggap Gus Mus sebagai pion pesantren liberal; dan menghantam secara frontal dan kasar KH. Said Aqil Sirajd, dan lain-lain al-faqir benar-benar kecut. Bayangkan, orang-orang daulah islamiyah di luar NU sendiri tidak ada yang sefrontal itu terhadap tokoh-tokoh kita ini, tetapi para pemukul dari kalangan NU sendiri mengumbar kepintaran itu menjadi kebodohan yang menjerumuskan.

Konteks Global dan Lokal

Arus daulah islamiyah di kalangan NU ini juga bisa dilihat dengan melihat konteks global dan lokal. Penting ini dilihat, meskipun bisa saja mereka yang menjadi pemukul dalam NU Garis Lurus berargumentasi bahwa yang dilakukannya sebagai wacana ilmiah, tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang al-faqir bicarakan itu. Kalaupun ini dianggap benar, posisi ini justru menempatkan mereka dalam arus kenetralan pengetahuan, seakan steril dan sebagai murni kegelisahan individual. Padahal madzhab seperti ini dipegangi kaum positivistik di kalangan dunia barat, disenangi kaum liberal barat. Sementara mereka sendiri melawan Islam liberal, jadi tampak kenaifannnya di titik ini. Belum lagi mereka memiliki proyek pemurnian Aswaja yang di kalangan gerakan pemurnian saja, ini sudah terbukti gagal, adalah titik kritis lain. Oleh karena itu, dapatlah dibaca, mereka secara sadar atau tidak, dengan kenaifan-kenaifannya, keterbatasan-keterbatasan bacaannya tentang Indonesia dan dunia, justru berani dengan lantang digambarkan NU Garis Lurus, akan meetakkan fondasi bagi jalan daulah islamiyah di NU, di tengah situasi yang komplek di aras global dan lokal.

Penting kemudian melihatnya dari sudut konteks global dan local munculnya arus daulah islamiyah di NU. Dalam konteks global, di timur tengah sedang gencar-gencarnya terjadi tragedi negara-negara yang akan mengalami kemunduran drastis dalam beberapa generasi ke depan: Suriah, Irak, Mesir, Lebanon, Suriah, Palestina, dan lain-lain. Di Suriah dan Irak, orang-orang Sunni yang terjebak dalam pusaran wilayah yang dikuasai kelompok petempur salafi-wahhabi justru yang menjadi korban: dari kalangan salafi-wahhabi mereka tidak akan dipercaya, karena mereka bukan wahhabi; dan dari negara nasional Irak Suriah, mereka dianggap membantu ISIS. Padahal sejatinya yang bertempur adalah negara-negara nasional yang sedang berubah karena dua poros bertarung antara Arab Saudi dkk melawan poros Iran untuk memperebutkan pengaruh politik, dan penataan ulang penguasaan ulang gas-gas bumi; dan AS- Rusia di poros globalnya.

Permusuhan sektarian digunakan anasir-anasir yang ada dalam peperangan ini oleh kampanye wahhabi-Saudi sebagai perang Sunni-Syi’ah. Faktanya, justru orang-orang Sunni seperti Syaikh Ramadhan al-Buti mendukung negara nasional, di dalam pemerintah nasional Suriah, dan terbunuh oleh sebuah bom yang dilakukan di masjid ketika ia mengajar; dan orang-orang Sunni di Irak mendukung pemerintah nasional Irak dari kalangan Kurdi, Turkmen, dan Arab, kontras dengan kampanye yang disebarkan kaum salafi-wahhabi di Irak bahwa Sunni melawan Syiah atau Syiah melawan Sunni. Faktanya, pemerintah nasional di Suriah dan Irak sedang bertempur dengan pemberontak yang didukung awalnya oleh negara-negara tetangga; dan yang mendukung pemerintah nasional mereka itu banyak sekali dari kalangan sunni.

Melihat konteks lokal, ada dua hal penting: pertama, di Indonesia arus NII formal telah pupus, tetapi anak cucu mereka dalam beragam faksi masih terus muncul; dan kelompok yang menginginkan negara Pancasila diganti dengan negara Islam masih ada, baik yang terlibat dalam partai politik ataupun yang tidak terlibat. Kelompok-kelompok ini, hanya akan mungkin bisa berjuang lebih keras, manakala NU bisa ikut mendukung agenda negara Islam dan khilafah. Di tengah situasi seperti ini, mereka menyadari bahwa berhadapan secara frontal dengan kalangan NU, yang sudah banyak para aktivis, kalangan terdidik, dan kiai-kiai canggih yang terintegrasi dengan negara Pancasila, akan sangat kesulitan. Cara paling memungkinkan adalah bagaimana membentuk arus daulah islamiyah di NU dari dalam NU sendiri, dengan memanfaatkan kitab kuning dan Aswaja; bertujuan untuk mengiris NU.

Kedua, kekuatan sesungguhnya di Indonesia sebenarnya adalah: kelompok perusahaan transnasional, tentara, Islam, dan nasionalis; sementara partai politik hanya sebagai wujud tertentu dari pertarungan ini. Di kalangan Islam, kekuatan bersenjata yang ingin menabalkan arus daulah islamiyah telah dilumpuhkan secara meyakinkan dengan hancurnya NII pada 1962. Kelompok NII baru dalam generasi teroris dan lain-lain, hanya sebagai riak-riak yang tidak akan pernah menjadi arus besar daulah islamiyah. Dari sudut ini, yang tersisa dari kekuatan arus Islam adalah kekuatan gagasan yang muncul dari Islam, sementara kekuatan ekonomi dan politik telah lemah, hancur.

NU dalam hal itu memiliki potensi kuat secara ekonomi, pendidikan, dan gagasan. Kuat secara ekonomi dan pendidikan, karena NU mendukung negara nasional Pancasila dan memungkinkan ia terlibat dalam proses membangun dan memperoleh manfaat dari pembangunan. Kalau mau jujur, sebenarnya kekuatan NU itu hanya tinggal dari sudut kultural-pesantren, kemungkinan besar membangun jaringan ekonomi-pendidikan, dan munculnya lapisan terdidik yang luas. Dengan kekuatan NU seperti ini, kelas terdidik NU akan memungkinkan mengkonsolidasikan basis ekonomi, gagasan pengetahuan, gerakan sipil, politik, pendidikan, dan lain-lain, dan ini akan mengganggu kemapanan basis lama kekuatan sosial di Indonesia, termasuk mengejutkan mereka yang memiliki senjata.

Dalam situasi dan konteks itu, cara melemahkan NU secara mudah adalah dengan memanfaatkan basis pengetahuan NU sendiri, yaitu menghidupkan anasir garis keras di tubuh NU untuk memecah konsentrasi NU yang konsen di dalam negara Pancasila dan turut serta dalam membangun, menghormati Pancasila, dan UUD 1945. NU harus berurusan dengan hal-hal laten sektarian, dan perang gagasan kembali, tentang Syiah, Ahmadiyah, dan sejenisnya, sehingga tidak sempat mengkonsolidasikan kekuatan ekonomi dan kekuatan-kekuatan lain dalam arus pembangunan nasional. NU dan lapisan terdidiknya harus dikembalikan ke kandang, diisolir, dipukul, dan pariahkan kembali agar mengurus perang sektarian.

Dengan melihat hal-hal demikian, dapat dijadikan pertimbangan:

Mereka memiliki jejering dengan kalangan arus dulah islamiyah di luar NU yang tidak di-jahr-kan kepada publik, dan ini sebenarnya mudah saja bisa dibaca, dari shuhbah-nya para pemukul yang ada di NU Garis Lurus dengan para aktivis daulah islamiyah di Indonesia.

Para aktivis daulah islamiyah di Indonesia, banyak bersentuhan, bertimbalbalik, dan bahkan ada yang diilhami oleh gerusan-gerusan pengetahuan salafi wahhabi, meskipun secara formalnya mereka membangun pengetahuan anti wahhabi di NU, yang melihat pertarungan global di Timur Tengah sebagai perang antara Syiah dan Sunni. Dalam titik ini, NU Garis Lurus berpotensi membuat kekaburan-kekaburan fenomena di Timur Tengah sebagai hancurnya negara-negara nasional di Irak dan Suriah melawan para pemberontak, diubah menjadi persoalan sektarian. Mereka ingin menjadikan Indonesia adalah bagian dari pertempuran di Timur Tengah, dan NU Garis Lurus menyediakan kayu bakar itu di kalangan Nahdliyin, yang rujukan-rujukan pembenarnya bisa dicari dari kitab kuning.

Untuk proyeksi demikian, mereka tentu melihat sulitnya melakukan itu di NU, karena NU sudah terintegrasi dengan Pancasila dan UUD 45, sehingga kader-kader NU menjadi nasionalis, dan jumlah kadernya begitu banyak. Untuk memukulnya, mereka mengamputasi Islam liberal sebagai biang kerok, dan stigmatisasi yang terus menerus; dan pada saat yang sama IsIam liberal dan Ulil sendiri membuat blunder. Dengan serampangan mengikuti arus daulah Islamiyah lain, sebagaimana tergambar dalam NU Garis Lurus, mereka member cap Islam liberal kepada tokoh-tokoh NU yang harus disingkirkan; dan manakala tokoh-tokoh NU dan anak-anak muda NU memperjuangkan anti kekerasan sektarian, dianggap membela Syiah, Ahmadiyah, membela thaghut Pancasila, dan lain-lain. Padahal mereka yang mendaku Islam liberal itu hanya beberapa gelintir orang yang dikomandani Ulil Abshar Abdalla, dan itu tidak ada kaitannya dengan NU, karena tidak berkaitan dengan baom atau lembaga di NU. Gus Mus dan Gus Dur diperluas dengan cap itu. Turunan dari ini, kalau mereka sudah tidak bisa menganggap orang lain sebagai Islam liberal, akan keluar dengan serangan komunis masuk NU, dan lain-lain atau yang sepadan. Dari sudut ini, mereka mencapai tujuan antaranya, yaitu keserampangan ini merepotkan para aktivis NU yang dianggap mereka liberal, yang sebenarnya adalah lapisan terdidik di kalangan NU, dan yang jelas-jelas bukan bagian dari Islam liberal dan bukan komunis. Tujuan akhirnya adalah akan memperlemah konsolidasi Nahdliyin untuk ikut terlibat dalam proses pemberdayaan masyarakat NU dan membangun bangsa Indonesia; memisahkan masyarakat Nahdliyin dengan Pancasila dan UUD 45, yang menganggap setiap warga negara sama di hadapan hokum; dan mengembalikan generasi Nahdliyin ke titik bawah lagi.

Dari sudut ini, sadar atau tidak, mereka memanfaatkan orang-orang yang bisa digunakan untuk memukul NU sendiri di jantungnya; bahkan dimanfaatkan orang tanpa memanfaatkannya secara langsung, dengan megalomania cita-cita daulah islamiyah­-nya. Mereka yang kritis dan mengkaji sejarah siapa di belakang kelompok-kelompok daulah islamiyah di Indonesia pasca NII hancur tahun 1962; dan siapa di belakang HTI yang seakan-akan di muka pro-khilafah tapi di dalam dibelokkan menjadi ormas didaftarkan ke Depdagri dan mengakui Pancasila, tentu akan mudah memahami alur ini.

NU Garis Lurus yang tidak mencantumkan siapa sebenarnya pengelola dan komunitas mana yang mengembangkan ini, justru memperkuat dugaan demikian. Web ini berusaha memicu pergolakan internal NU dan dimanfaatkan oleh orang tertentu, agar lapisan terdidik NU terus menerus mengurusi soal laten percekcokan sektarian. Yang bisa dimanfaatkan untuk itu adalah figur-figur untuk seperti Ust. Idrus Ramli, Gus Najih, Gus Luthfi, dan lain-lain-lain. Dari jantungnya sendiri, mereka menghantam orang-orang yang telah bertahun-tahun berjuang untuk NU dan menegakkan muruah NU di jagad Indonesia dan dunia, sepertu Gus Dur dan Gus Mus.

Al-Jadid dan al-Qadim

Kenaifan lain, juga bisa dirujuk dari filosofi NU, al-muhafazhah alal qadim ashs-shalih wal akhdzu biljadidi al-ashlah. Dan sebagaimana dinoktahkan dalam Khittah NU: “NU mengikuti pendirian bahwa Islam adalah agama yang fithri yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki manusia. Faham keagamaan yang dianut oleh NU bersifat menyempurnakan nilai-nilai yang baik yang sudah ada dan menjadi miliki serta ciri-ciri suatu kelompok manusia seperti suku maupun bangsa, dan tidak bertujuan menghapus nilai-nilai tersebut” (Khittah NU No. 3. ayat 3).

Fondasi yang diletakkan Khittah NU ini adalah nilai-nilai yang berkembang di pesantren dan masyarakat NU yang membentuk watak kemanusiannya yang menghargai kearifan dan tradisi lokal; Islam yang rahamtan lilamain yang secara operasional dijabarkan oleh KH. Abdurrahman Wahid dengan pribumisasi Islam; dan diungkapkan di pesantren dengan idiom al-muhafazhah `ala al-qadim ash-shalih wal-akhdzu biljadid al-ashlah.

Tentu saja ada dimensi-dimensi baru yang mungkin dan bisa kita terima dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Buktinya sendiri, NU dalam Bahsul Masail untuk konteks maudhuiyah, telah membicarakan hal-hal baru, seperti perempuan, nashbul imam dan demokrasi, lingkungan, Pancasila dan UUD 45, ekonomi kerakyatan, dan lain-lain. Meskipun tentu saja ada hal-hal baru yang belum dijawab, di antraranya soal rekonsiliasi nasional, eksploitasi pertambangan, monopoli waralaba-waralaba yang merambah sampai ke desa, pasar bebas ASEAN, problem demografi, dan lain-lain.

Dengan menilik hal ini, maka jalan arus daulah islamiyah di kalangan NU Garis Lurus ini sama sekali sekali bukan jalan alternatif yang baik bagi generasi baru Nahdliyin. Mereka tidak memeberikan ruang dimensi al-ijad biljadidi al-ashlah, dan terus menerus hanya berfikir al-muhafazhah ala al-qadim. Untuk memantapkan itu, supaya kelihatan benar-benar NU, mereka anti wahhabi dan ini sudah jelas.

Dengan mengikuti pola, arus argumentasi, dan arah yang dikembangkan arus pemikiran NU Garis Lurus ini, efeknya akan memotong generasi NU yang sudah terintragsi dengan negara bangsa, Pancasila dan UUD 1945; dan ini akan menempatkan generasi NU ke depan dalam kebuntuan-kebuntuan di tengah kepungan sistem sosial yang serba canggih; akan menempatkan generasi NU sebagai orang-orang asing di tengah perang bintang wawasan sosial, ilmu-ilmu sosial, dan perkembangan-perkembangan yang baru; dan akan menjadikan anak-anak terdidik NU sebagai gembel dan paria sosial.

Arus daulah islamiyah mereka ini hanya akan memberikan jawaban dari kepintaran-kepintaran dalil kitab kuning, yang al-faqir sendiri awalnya kagum, tetapi kemudian memandangnya naif. Al-Faqir kemudian menyadari bahwa, jauh lebih penting dari kepintaran adalah kebijaksanaan, kelembutan, kesopanan, inkisyaf, dan keberanian mensinkronkan yang baru dengan yang lama.

Yang merepotkan, mereka yang menjadi pemukul di NU Garis Lurus ini tampak menikmati irama ketika di manaa-mana dianggap orang yang sangat pintar, lihai mengutip kitab kuning dan bisa membabat Syiah, Ahmadiyah, dan lain-lain itu. Meskipun, dalam penglihatan yang lebih luas; tanpa memiliki kemampuan bagaimana mengatasi hubungan Islam dan negara nasional, Pancasila dan UUD 45; tanpa kemampuan membaca sejarah kelompok-kelompok sosial dan pertarungannya di Indonesia dan kepintaran melahap kitab kuning, justru menjerembabkan masyarakat Nahdliyin, karena mereka tidak meletakkan jalan keluar hidup bermartabat di dalam negara nasional Pancasila.

Mereka disulut untuk adu pintar dengan dalil dan melapangkan arus daulah islamiyah. Tampaknya mereka puas di situ. Padahal pertarungan sebenarnya untuk membela masyarakat Nahdliyin di tengah sistem sosial di Indonesia bukan di situ. Inilah kenaifan NU Garis Lurus dan para pemukul yang digunakannya. Idfin wujudaka fi ardhil humul dari Ibnu Athaillah as-Sakandari, telah dilupakan, lalu dikenallah mereka sebagai orang-orang pintar melahap kitab kuning. Tetapi para guru mengingatkan al-faqir bahwa orang pintar tidak mesti seorang yang bijaksana, dan itu terang benderang.

Memainkan Untuk Muktamar NU

Munculnya NU Garis Lurus ini bersamaan dengan akan diselenggarakannya muktamar NU di Jombang pada akhir tahun ini. Beberapa pembacaan lain bisa dilakukan terhadap NU Garis Lurus dengan mempertimbangkan beberapa hal. Mereka yang jeli akan melihat berita-beritanya mengarah pada arus untuk menjatuhkan kalangan NU yang banyak bersentuhan dengan KH. Abdurrahman Wahid (dan secara tidak langsung kepada KH. Achmad Shidiq), Gus Mus, KH. Aqil Siradj, dan lain-lain yang benar-benar orang NU. Caranya bahkan sangat frontal dan vulgar, termasuk dengan memanfaatkan sang pemukul, Ust. Idrus Ramli untuk menyesatkan Gus Dur dan Bu Sinta Nuriyah Wahid yang betul-betul orang NU; dan menuduhkan Gus Mus sebagai punggawa pesantren liberal. Pada sisi yang lain ada berita-berita yang mengunggulkan dan memuji-memuji salah seorang tokoh yang hendak mencalonkan Rais Am PBNU.

Dari situ, ada dua kemungkinan yang bisa dibaca: NU Garis Lurus ini ada hubungannya dengan salah satu calon yang ingin mencalonkan menjadi pimpinan NU itu, dan karenanya salah satu calon mengakumulasi seluruh potensi perlawanan untuk menjatuhkan lawannya dengan cara-cara kotor, serampangan, vulgar, dan forntal, sembari dia bersembunyi. Dalam pepatah, calon ini lempar batu sembunyikan tangan. Akan tetapi karena berita-berita dan apa yang dimuat di N U Garis Lurus lebih dalam dari sekadar untuk kepentingan muktamar; lebih berkaitan dengan arus purifikasi Aswaja dan daulah islamiyah, maka calon ini dengan sendirinya adalah bagian dari koneksi itu. Muktamar NU hanya salah satu bagian di mana mereka akan bertarung dan mencoba peruntungan.

Kemungkinan lain, NU Garis Lurus ini tidak berhubungan dengan salah satu calon, tetapi orang-orang yang mengelola NU Garis Lurus sadar bahwa kepentingannya bisa bertemu dengan salah satu calon yang diunggulkan dan dipuji-puji dalam berita-berita NU Garis Lurus, sembari menghabisi Gus Dur, Gus Mus, KH. Said Aqil Siradj, dan lain-lain. Muktamar NU hanya menjadi salah satu kanal saja, tetapi proyeksi yang sesungguhnya adalah meresahkan masyarakat NU, membentuk arus daulah islamiyah di tubuh NU, dan menjadikan generasi Nahdliyin sibuk berurusan dengan soal-soal sektarian.

Al-faqir semakin yakin bahwa hanya orang luar NU yang benci dan faham tentang pertarunagn sosial; yang mampu melihat kekuatan NU, dan yang tahu kelemahannya pula, yang akan bisa merepotkan NU, dan mengerjai NU, termasuk dengan memanfaatkan orang NU sekalipun. Kalau seseorang mengaku NU tentu akan mengutamakan ukhuwah Nahdliyyah, kasih sayang, dan saling menghormati, karena setiap usaha akan diserahkan pada Allah dan kebaikan jamiyah.

Sementara jelas, NU Garis Lurus dan para pemukul yang ditampilkannya, seperti Ust. Idrus, Gus Najih, Gus Luthfi, dan mungkin tokoh lain asyik berfantasi tentang gagasannya, melahap kitab-kitab kuning, pada saat yang sama mereka menyediakan kuburan yang dalam untuk kyai-kyai kampung yang tidak memiliki akses apa-apa dalam pertarungan sosial di Indonesia; dan masyarakat awam NU ke dalam arus daulah islamiyah tanpa tahu mereka ada dalam posisi mana dalam pertarungan ini.

Lagi-lagi, kalau kyai-kyai kampung kita akibat provokasi yang dilakukan arus NU Garis Lurus yang menyempal dari tradisi sejarah NU ini, dan tidak bisa direm, lalu tersudut dan disudutkan dalam situasi sosial politik yang runyam, mereka tidak bisa mengelak lagi dan tidak bisa lari lagi. Mengerikan. Inilah bencana yang ditimbulkan oleh munculnya arus daulah islamiyah yang diberi bungkus dengan Aswaja yang tidak an-Nahdliyah di kalangan NU ini. Nama mereka adalah NU Garis Lurus. Wallahu alam.