Suasana ramai dan macet. Ya, itu yang bisa kita lihat disepanjang bulan Agustus di wilayah Nusantara khususnya Indonesia karena banyaknya perhelatan acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia baik secara serentak atau perkelompok rukun tetangga. Saking banyak dan seringnya acara, sampai-sampai para panitia lupa bahwa mereka telah mengurangi hak pengguna jalan yang butuh buru-buru untuk sampai ditempat tujuan atau juga jalanan yang mestinya 20 menit sampai lokasi menjadi muter dan berbalik arah hingga sampai lokasi setelah 1 jam muter-muter dan kebetulan di lain tempat juga ada hajatan yang nutup jalan juga.

Kemudian jika diingatkan, mereka bilang “ini palung setahun ya cuman sekali kok” memang betul, tapi paling tidak, janganlah menutup jalan dalam waktu yang lama melebihi 1 hari. Karena acara apa pun kalau butuhnya waktu dalam jangkau lama ya mendingan disiasati memilih tempat.

Subtansi carnavalan memang beragam, harus mengedepankan tema acara yang dilaksanakan. Misalnya acara kemerdekaan, harus menunjukkan bagaimana tema tersebut ditampilkan sehingga ada nilai historis yang ditampilkan sebagai nilai pengetahuan pada masyarakat dan generasi mendatang.

Ada dua cara pandang mengemas acara apa pun termasuk carnaval Agustusan: Pertama, nilai acara harus punya nilai beda dengan acara yang lain. Dengan nilai beda ini tentunya akan menjadi daya tarik bagi penonton dan peserta sendiri. Nilai beda(distingsi) ini bisa berwujud kreatifitas dan keunikan tampilan yang tentunya dengan tetap mempertahankan subtansi nilai yangbdimiliki. Kita bisa belajar dari Jember Festival, ada distingsi antara value carnaval Agustusan dengan mereka, bedanya adalah Jember Festival digarap serius dan matang. Sehingga sambung antara konsep, dan pelaksana teknis lapangan.

Kedua cara mengemas acara agar memiliki daya tarik adalah adanya kehebatan dan kesempurnaan (excelence) tanpa kehebatan dan kesempurnaan, acara dan tampilan akan sukur angger sak karepe dewe atau sekedar ada tanpa mempertimbangkan unsur keamanan, kenyamanan, keindahan dan unsur biaya. Nilai lebih bukanlah pada biaya yang besar, tapi lebih pada tampilan yang maksimal dan efisien dengan mampu menemu kenali ruang kosong dalam berekpresi tanpa meninggalkan nilai Agustusan.

Jika kedua hal di atas bisa terpenuhi, maka pasti acara kita akan menjadi destinasy(tujuan) dari pesertabdan penonton. Sehingga menjadi acara yang dinanti-nantikan kehadirannya bahkan memiliki kesan yang sayang untuk dilewatkan.

Kenapa acara carnavalan kita belum bisa menjadi destinaty? Karena kita tak mampu mengemas acara kita untuk tampil dengan tampilan yang punya nilai beda, punya kehebatan dan kesempurnaan. Kita masih sekenanya saja, misalnya carnaval Agustusan hanya ajang baris para banci, kethek-kethekan, kelompok jogetan macak dengan tubuh dilumuri warna hitam rata(macak wong ireng), atau sekedar kapal-kapalan yang mondar-mandir dengan suara knalpot brong membuat telinga serasa mau pecah.

Mari kita kembalikan nilai-nilai acara Memperingati Agustusan dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia kita, dengan kegiatan yang punya nilai beda, kekuatan dan kesempurnaan sehingga bisa menarik peminat pelaksana, peserta maupun pengunjung dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kemerdekaan.(Din)