Zaman semakin dimudahkan untuk mengakses internet. Kalau dahulu Bandung Bondowoso hampir mampu menyelesaikan seribu candi dalam satu malam, sekarang seorang programmer juga mampu membuat seribu situs web dalam satu malam. Saking mudahnya, situs – situs yang mengklaim dirinya sebagai sumber berita terpercaya pun bermunculan bak jamur di musim hujan. Kemudahan ini muncul karena pembuatan website bukan lagi hal sulit. Berita palsu atau hoax pun bertebaran. Bahkan akses internet juga sangat mudah, hanya bermodal uang dua ribu perak, kita bisa menikmati wifi gratis dari warkop di desa- desa sampai pelosok pegunungan. Oleh karenanya, berita hoax pun berseliweran dimana-mana, sehingga strategi dan metode mengetahui hoax menjadi penting untuk menyaring informasi yang masuk dengan begitu deras.

Sayangnya, kemudahan membuat website berita ini tak diikuti dengan kemampuan jurnalistik memadai. Pun, beberapa media arus utama yang mulai meninggalkan prinsip – prinsip utama jurnalistik. Akurasi berita menjadi nomer sekian. Kecepatan mengalahkan ketepatan. Prinsip yang dipakai bergeser menjadi kejar setoran. Persaingan di era digital seakan menjadi alasan pembenar untuk tindakan ‘tayang saja dulu, urusan benar atau tidak itu urusan belakangan’.

Belum lagi jika website yang seolah – olah situs berita itu dibikin memang untuk mendulang klik demi iklan. Masak ada orang masih nulis judul dan narasi satu paragraf, yang nge like sudah ratusan. Pertanggung – jawabannya situs – situs seperti ini sangat susah diharapkan. Kebanyakan berita yang mereka buat adalah berita sensasional dengan kalimat “Heboh, Subhanallah, Astaga dll” dan atau penuh kebohongan. Bagi pengelola situs semacam ini, adalah halal untuk menyebarkan berita palsu atau hoax. Mereka tidak berfikir masalah moral atau akhlak, pikiran mereka hanya pada keuntungan pribadi baik secara materi atau ketenaran. Kalimat simpelnya mereka bersemboyan” Menebar Kebencian, Menuai Ketenaran dan Uang”. 

Kehadiran media sosial juga mendukung penyebaran sebuah berita secara massif. Sebagian besar dari kita tentu pernah menyebarkan sebuah informasi atau berita melalui media sosial yang kita punyai. Entah itu dengan menekan tombol like, share, retweet, forward atau broadcast. Tak masalah jika informasi atau berita yang kita sebarkan memang mengandung kebenaran atau penting bagi banyak orang. Lalu bagaimana jika ternyata kita menyebarkan informasi atau berita yang berisi kebohongan? Apakah kita hanya berdalih dari kelompok sebelah?

Sebelum ikut menyebarkan kebohongan, ada baiknya kita lebih bijak dalam menerima sebuah informasi. Luangkan waktu sejenak untuk menelaah apakah informasi itu benar atau tidak. Selain berdosa, keseringan menyebarkan berita hoax, bisa membuat kita dicap bodoh oleh teman – teman kita di media sosial. Yang sanksi sosialnya adalah kita tidak akan dipercaya.

Saat sebuah informasi melintas di timeline media sosial kita, jangan langsung ikut menyebarkannya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat kita menerima sebuah informasi atau berita;

1. Teliti dalam melihat data dan fakta suatu berita.

Contoh kasus adalah hoax tentang Satpol PP yang menendang juru ketik. Menurut si penyebar informasi awal, kejadian tersebut terjadi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, si pelaku Satpol PP konon melakukan itu atas perintah gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Padahal, kalau mau melihat lebih teliti, sekilas kita bisa tahu bahwa kejadian itu bukan terjadi di Indonesia. Wajah Satpol PP dan juru ketik itu tampak jelas adalah ras India. Dengan melihat hal ini, kita sudah bisa meragukan kebenaran berita tersebut.

2. Biasakan untuk melihat atau mendengar berita tidak dari satu sumber saja.

Untuk mengetahui kebenaran sebuah berita sebaiknya melihat dari beberapa sumber, karena dengan begitu kita bisa membandingan mana berita yang masuk akal atau tidak. Wajib pula obyektif dalam memilih sumber berita, jangan hanya memilih sumber berita yang selalu menayangkan informasi sesuai keinginan. Cari sumber lain yang memiliki kredibilitas dalam menyiarkan berita.

Cara mengetahui hoax berikutnya adalah mencari sumber berita pendamping, bisa dengan mencari via Google. Ketikkan kata kunci berita yang mau dicari. Setelah muncul hasil pencarian, periksalah. Jika tak ada website berita kredibel semacam Tempo, Kompas, Beritagar, dan Detik yang memberitakannya, besar kemungkinan berita tersebut adalah hoax. Berita terkait kejadian di luar Indonesia, carilah informasi tersebut di kantor-kantor berita besar (reuters, AP, BBC, CNN). Kalau beritanya aktual dan berdampak besar, biasanya nama – nama website-website berita itulah yang muncul di halaman pertama hasil pencarian Google.

Dengan cara ini pula kita bisa menemukan klarifikasi dari sebuah hoax. Biasanya, setelah hoax tersebar, akan muncul berita atau pernyataan klarifikasi dari orang atau pihak yang merasa dirugikan.

Dalam kasus hoax Satpol PP menendang juru ketik itu misalnya, tak ada sumber berita yang terpercaya yang dapat dijadikan acuan. Berita itu hanya tersebar melalui facebook dan media sosial lainnya. 

3. Periksa sumber.

Dalam kasus hoax Satpol PP di atas tak ada sumber berita yang bisa dipercaya. Pembuat status itu hanya menyebutkan bahwa foto ia dapatkan dari seorang jurnalis Voa Islam, sebuah web yang juga meragukan kredibilitasnya, tanpa menyebutkan nama sang jurnalis. Sang pembuat hoax juga hanya menyebutkan nama pelaku dan menyebut pelaku adalah seorang PNS tanpa merinci lebih jauh, semisal kapan kejadiannya dan lain – lain

4. Tanyakan kebenaran berita dari orang yang terlibat atau melihat langsung.

Bila memungkinkan lakukan klarifikasi atau tabayyun. Cara mengetahui hoax atau kebenaran berita sebaiknya tanyakan secara langsung benar atau tidaknya berita kepada sumber berita, saksi atau pelaku yang terlibat langsung atau melihat peristiwa tersebut. Cara ini memang cukup sulit dilakukan, akan tetapi hasil yang didapatkan lebih efektif dibanding cara lain. Terkadang kita juga disewoti oleh teman yang kita tabyyuni, karena ternyata si dia juga tidak punya sumber terpercaya.

5. Cek foto melalui Google Images

Cara Mengetahui Hoax berikutnya adalah melalui gambar. Sebuah berita biasanya, dan sebagian besar, disertai foto pendukung. Penyebar hoax juga biasanya menggunakan foto untuk meyakinkan pembaca bahwa berita tersebut benar adanya. Memeriksa keaslian foto bisa menjadi cara mudah dan cepat untuk mengetahui sebuah berita asli atau hoax.

Caranya adalah dengan mengunduh foto/gambar pendukung berita tersebut lalu unggah kembali di https://images.google.com/ untuk mengetahui siapa yang pertama kali menggunakan foto atau gambar tersebut.

Jika dahulu ada yang membuat pepatah” Mukutmu Harimaumu” maka sekarang, mulut itu hanya sekedar perumpamaan yang mewakili bagaimana sebuah informasi tersampaikan. Sedangkan praktiknya adalah “Berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial”.

Oleh: Lakpesdam Tulungagung