Apa yang terjadi di Malang merupakan puncak kejengahan melihat ulah manusia bodoh yang dikasih hati tapi ngelonjak. Kabarnya juga segera disusul Bali, dan kota lain di Indonesia. Kalimat manusia bodoh, lebih pas bagi HTI, karena gaya mereka saat bertemu masalah selalu ngeles dan pura-pura bodoh, padahal ya bodoh beneran. Silahkan krosscheck kebodohan HTI saat menolak upacara dan mengatakan haram hormat bendera merah putih, padahal di kerajaan Saudi Arabia yang induknya Wahabi berpusat, juga menghormat bendera. Mereka tinggal dan subur di Indonesia tapi tidak mengakui sistem pemerintahan Indonesia. Makan, minum, tidur, dan nikah di Indonesia, seluruh aktifitas ekonomi dan lainnya juga di Indonesia, tapi menyebut pemerintah sebagai thoghut/ berhala.

Masih terkait kebodohan HTI, terkait penggunaan bendera hitam dan putih disebut liwa’ dan rayyah, dibuku mereka disebutkan bahwa penggunaan bendera hitam adalah untuk penanda pasukan perang dan putih adalah penanda keberadaan sang Jendral pemimpin pasukan. Lantas apakah aksi dijalan atau demo bisa disebut perang? Kalau iya, kenapa panglimanya tak dijelaskan dengan bendera putih? Padahal Indonesia bukan negara perang, dan tidak diperbolehkan mengibarkan bendera perang di negara damai. Apakah bukunya disebut salah ketik? Salah ketik kok sampai satu buku.

Lantas mereka menyebut liwa’ dan rayyah sebagai bendera tauhid, kapan istilah bendera tauhid muncul? Jawabnya, ya jamannya HTI sekarang ini. Maknanya mereka taqiyyah, juga melakukan segala cara demi tujuan. Andaikan sistem pemerintahan kita bukan republik dan bukan sistem demokrasi, tak akan mungkin HTI bisa nenteng bendera ngalor ngidul.

Bumi Malang menurut saya Istimewa, bukan hanya karena memiliki sejarah kejayaan Singosari dan memiliki berbagai sisi historis raja-raja besar yang pernah jaya di jamannya, tapi sejumlah tokoh besar lahir dan berjuang di Malang era kemerdekaan. Misalnya yang saya tahu, pimpinan Hisbulloh dari Malang, Kyai Masykur, Satu tokoh yang diminta mbah Wahab untuk publikasi terkait berdirinya NU ke Eropa, Kyai Said Pondok Ketapang, karena beliau mahir berbahasa Inggris, Jerman, dan Belanda. Ada pula Subhan, Z.E tokoh muda NU lahir di Malang, besar di Kudus dan menjadi ekonom muda NU yang telah memiliki kantor di Washington dan sering menjadi dosen tamu di kampus Amerika.

Bahkan, wafatnya Hadrotussyekh Hasyim Asy’ari adalah saat beliau mendapat kabar bahwa agresi militer Belanda 1948 telah berhasil menguasai Malang, yang berarti Hisbulloh Malang berhasil dipukul mundur oleh Belanda dan sekutu. Begitu kabar itu disampaikan kepada Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari beliau yang dalam keadaan sehat, tiba-tiba shock dan wafat karena cinta beliau kepada tanah air, terkhusus Malang. Jadi, bukan hal yang aneh jika Arema, hari ini mensuarakan kecintaan pada NKRI dan menolak bahaya laten HTI.

Selama ini ketika berbicara bahaya laten, kita pasti langsung mengarah pada bahaya laten komunis. Padahal komunis sudah lama dibubarkan dan dinyatakan terlarang di Indonesia. Berarti bahaya latrn HTI lebih baru lagi, soalnya mereka dibubarkan sebelum sempat aksi memberontak. Ibarat orang yangbkadung semangat luar biasa, tiba-tiba harus coolling down karena dibubarkan pemerintah.

Orang Jawa membuat perumpamaan “ibarat udun arep mbledos. Ning gak sido-sido, malah dikaplok sak bantere, tapi gak oleh sampek pecah udune” rasanya sakit banget pokoknya, wajar jika matinya HTI tidak tenang. Mereka akan menggunakan berbagai wujud kamuflase taqiyyah termasuk membohongi pakai istilah bendera tauhid. Jika dahulu gara-gara kalimat Ahok “Jangan Mau dibohongi pakai Al-Qur’an digunakan mereka menghakimi Ahok dan memenjarakannya, maka Jangan mau dibohongi bahwa itu bukan bendera HTI, harus kita sampaikan! Jelas kok itu adalah bendera HTI.

Membela Kalimat Tauhid, soal demo dan aksi panggung mulai teknik mixing, sampai penggunaan baground sound atau tukang bilali saat orasi sampai dekorasi panggung dan penata gerak ayunan bendera serta ketahanan mental. HTI bisa dibilang terlatih, mereka dibekali dengan pengetahuan bagaimana menjadi pembicara yang mampu menyihir audien walaupun modalnya pengetahuan pas-pasan. Mirip dengan Kasebul (kaderisasi satu bulan) milik PKI yang dibimbing Peeter Beek di Solo yang mampu melahirkan kader handal dan tahan segala situasi dan kondisi.

Berangkat dari kepahaman terhadap bahaya laten HTI inilah, akhirnya Aremania mendeklarasikan untuk menolak keberadaan arwah HTI yang mau dibangkitkan kembali setelah mati dibubarkan pemerintah.

Istimewanya Malang yang tak banyak dimiliki daerah lain adalah, sampai hari ini masih banyak santri-santri Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari yang masih dikaruniai umur panjang dan masih mengamalkan ijazah dan wirid dari Hadrotus Syekh dan para guru lainnya yang tersebar diberbagai pelosok Malang. Belum lagi tokoh-tokoh Malang yang hari ini mewarnai kancah Nasional dalam berbagai wilayah akademik, eksekutif, legeslatif, eksekutif, yudikatif dan tokoh dibidang lainnya. Intinya, Malang tidak mau kapusan dengan HTI.
#waspadaiBahayaLatenHTI
#KitaIndonesia
#NKRIHargaMati