A. Khoirul Anam pada tahun 2013 pernah menulis tentang tradisi mengkader ulama’ yang dilakukan oleh Syekh Yasin al Fadani kepada Mbah Sahal Mahfudz dengan sumber cerita Gus Rozin, yang merupakan putra Kyai Sahal dan cerita tersebut dimuat di NU online.

Pada paparan A.Khoirul Anam disebutkan, memang tidak banyak Kyai pesantren yang telaten menuangkan gagasannya secara rinci menjadi satu kitab berbahasa Arab. K.H Sahal Mahfudh, Rois Aam PBNU adalah salah satu diantara yang tidak banyak itu. Termasuk tradisi kritik dan kritis yang dilakukan oleh Kyai Sahal yang selanjutnya menjadi lantaran pertemuan guru dan murid antara Kyai Sahal dan Syekh Yasin Al-Fadani bahkan Syekh Yasin al Fadani tidak hanya mengajar dan menemani Kyai Sahal Mahfudz menulis, tetapi juga memberikan motivasi.

Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh adalah santri kelana biasa yang berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain, berdiskusi dengan banyak kiai. Saat mondok di Pesantren Bendo, Pare, ia seringkali bermalam di Kedunglo Kediri dan berdiskusi secara intensif dengan seorang Kyai di sana. Ia juga sering menghabiskan waktu dengan Kyai Bisri Syansuri di Jombang.

Perkelanaannya dilanjutkan ke Pesantren Sarang, berguru kepada Kyai Zubair. Salah satu kitab yang didiskusikan adalah Ghoyatul Wushul karya Syekh Zakariya Al-Anshori ulama Syafi’iyah abad 9 Hijriyah. Diskusi berlangsung secara intensif. Di sela menerima tamu ia diajak berdiskusi. Saat bepergian keluar kota, mereka mengendarai dokar dan diskusi pun berlanjut. Kyai Zubair juga senang membuat pancingan. Terjadilah perbincangan dan Kyai Sahal pun rajin membuat catatan (ta’liqat) dalam bahasa Arab.

Hobi menulis dilanjutkan dengan mengirimkan surat (murosalah) kepada Syekh Muhammad Yasin Padang, seorang Kyai pesohor dari Indonesia yang menjadi ulama besar dan menetap di Tanah Suci. Kyai Sahal mengomentari tulisan Syekh Yasin dalam satu kitab, membantahnya dengan argumentasi berdasarkan kitab yang beredar di Jawa. Satu surat berisi sekitar 3-4 lembar, berbahasa Arab.

Kyai Sahal terkejut, ternyata Syekh Yasin membalas surat secara serius. “Saya ini santri, berkirim surat, mengomentari pendapat beliau. Tidak dimarahi saja sudah untung,” katanya. Namun nyatanya surat Kyai Sahal dibalas oleh Syeh Yasin, dan Kyai Sahal pun mengirim surat lagi. Syekh Yasin membalas lagi. Terjadi dialog intensif jarak jauh. Surat-surat yang dikirimkan cukup panjang dan serius. Sepertinya ada perdebatan menarik dalam surat-surat itu. Dan saling kirim surat itu berlangsung sampai sekitar satu setengah tahun.

Syahdan, ketika turun dari kapal, saat Kyai Sahal menginjakkan kaki di Mekkah, seseorang tak dikenal langsung memeluknya dan menariknya ke sebuah warung. Seseorang itu tidak lain adalah Syekh Yasin sendiri. Mungkin dalam surat terakhir Kyai Sahal menuliskan bahwa dirinya akan menunaikan ibadah haji. Dan dalam pertemuan pertama itu pun mereka langsung akrab.

Kyai Sahal diminta tinggal di rumah Syekh Yasin. Setiap pagi ia bertugas berbelanja ke pasar membeli kebutuhan Syekh Yasin. Dan setelah itu Kyai Sahal berkesempatan belajar dengan seorang ulama besar yang diseganinya itu selama dua bulanan.

Dalam diskusi dan perdebatan, Syekh Yasin mendudukkan Kiai Sahal seperti teman diskusi. Barangkali ini tidak seperti kebiasaan kiai-santri di Jawa. Syekh Yasin sangat otoritatif tetapi pada satu sisi cukup egaliter.

Dua bulan pertemuan, Syekh Yasin mengijazahkan banyak kitab yang menginspirasi Kyai Sahal menulis banyak kitab. Dan ta’liqot yang ditulisnya saat belajar bersama Syekh Zubair dirapikan kembali. Terkumpul 500-an halaman dan belakangan dibukukan menjadi satu kitab bertajuk “Thoriqatul Husul”. Kitab ini sudah sampai ke Al-Azhar Mesir, menjadi rujukan para pengkaji ushul fiqih.