Kamis, 27 April 2017 pada puncak Harlah NU ke 94 di aula PCNU Tulungagung, Kyai Anwar Iskandar pengasuh pondok Al Amin Ngasinan Kediri yang juga alumni Lirboyo Kediri, menyampaikan bahwa konsep Ijtima’iyah NU adalah: Tawasut, Tawazun, I’tidal, Tasamuh, dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Oleh karenanya apa yang dilakukan warga NU tidak ngawur hanya berdasar kecondongan masyarakat dan media masa atau bahkan hanya berdasarkan hobi saja. 

Negara kita adalah negara bangsa” Nation state” bukan negara agama. Ini yang disepakati oleh founding father bangsa Indonesia. Kesepakatan ini berdasarkan semangat Nasionasilme, Kebhinekaan dan Kenusantaraan yang dijiwai dengan Ketuhanan yang Maha Esa. 

Aneh rasanya jika hari ini ada yang berteriak dan mengusung Khilafah seperti HTI, mereka tidak ikut andil dalam mencetuskan konsep negara yang diusung para pendiri bangsa, lha kok tiba-tiba pingin mengganti ideologi negara dengan ideologi mereka. Maka, gampangnya kalimat yang terucap untuk HTI adalah” kembali pada ideologi yang benar atau keluar dari Indonesia?”.

Pertarungan ideologi sejak dahulu sudah terjadi, sejak bangsa ini berdiri, kaum liberal, kaum sosialis komunis, kaum Nasionalis religius, kaum religius sudah berdarah-darah mempertarunggan gagasannya dalam mengusung ideologi bangsa ini. Maka, akan butuh biaya yang terlalu besar jika hari ini dipertarungkan lagi. 

Semua warga bangsa dilindungi dalam menjalankan agama dan keyakinan. Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Negara melindungi warga negara untuk berserikat dan menjalankan agama dan keyakinannya. Ini harus difahami bahwa kejadian memilih pemimpin Muslim adalah wujud menjalankan konstitusi pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Lha yang jadi masalah adalah jika semuanya langsung dihadapkan pada dua pilihan hitam dan putih. Misalnya: tidak ikut demo 212, 411 dan seterusnya langsung dikatakan tidak bela Islam dan bela Ahok. Ini logika macam apa ini? Tidak ikut 212, 411 dan seterusnya juga karena konstitusional menjalankan pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Jadi yang tidak ikut itu justru yang faham kostitusi.

Negara ini jangan berdasar agama, jangan pula berdasar sekuler, jangan berdasar liberal, tapi negara berdasar kebangsaan. Ini sudah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa. Mari kita buka wawasan kita, dahulu ada ulama’-ulama’ seperti Abdurrahman al Barzounj dari Prancis yang akhirnya kita kenal disini sebagai sebutan al Barzanji, trus orang Tulungagung biasa nyebut Berjanjen, itu nama daerah di Prancis, Barzounj. Kita kenal Al  Qurtuby dari Cordova Spanyol. Pengarang Alfiyah Ibnu Malik dari Spanyol sehingga wajar jika para santri dan kyai ada yang ngefans dengan Madrid dan Barca. Lha karena ulama’-ulama’ kita juga dari sana. Bahkan ada Al Bukhori dari daerah kekuasaan Uni Soviet atau sekarang Rusia. Wawasan kita harus luas sehingga tidak gampang dibohongi para pembuat berita palsu dan para pemilik kepentingan yang mengadu domba bangsa ini.

Khilafah sudah selesai 1924 saat Turki Ustmani digulingkan. Jadi yang diusung HTI itu bukan lagi Khilafah ala Rosulullah atau para sahabat atau para tabi’in. Tapi Khilafah ala kepentingan mereka sendiri bukan kepentingan bangsa Indonesia. Oleh karenanya, mari kita teguhkan semangat berorganisasi untuk menghidupkan NU, bukan hidup dari ngakali NU. Ingat, siapa saja yang ngakali NU dan berbuat jahat pada NU, pasti akan hancur. Ingin bukti? Sejarah sudah membuktikan bagaimana PKI hancur lebur, Belanda juga keok, Jepang, Sekutu juga hancur, dan Kalau tidak percaya silahkan coba, Siapa pun yang musuhi NU, pasti hancur.

Mengakhiri tausyiahnya, Kyai Anwar Iskandar mengajak hadirin untuk berdo’a supaya bangsa Indonesia diberikan keamanan dan ketentraman, sehingga terwujud baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur.