Ketika masuk kampus IAIN Tulungagung hari ini, maka suasana ngaji dan madrasah diniyah persis di pondok pesantren, akan kita dapati antara jam 07:00 sampai jam 09:00. Suasana yang diwarnai oleh lalu lalang santri dan suara mengaji atau belajar mengenal huruf hijaiyah dan menulisnya.

Suasana tersebut bukanlah rekayasa dadakan, tapi merupakan rutinitas yang menjadi budaya dan perilaku kampus dalam menumbuhkan energi positif dan atmosfer lingkungan kerja yang religius, dinamis, dan berkembang dalam perubahan zaman, karena perubahan dan menyesuaikan tuntutan petubahan adalah keniscayaan, tapi sikap dan sifat keberagamaan yang religius dan humanis juga wajib dipertahankan sebagai manifestasi Islam Rahmatan Lil ‘alaamiin.

Fenomena di atas, jika kita telusuri dari awalnya, maka muaranya akan mengarah pada kejadian pasca reformasi. Bahkan bonus yang dibawa oleh reformasi juga luar biasa dampaknya. Termasuk spirit perubahan yang menggelora diberbagai bidang dan berbagai unsur pemerintahan. Dan merupakan salah satu bonus dari reformasi yang dirasakan oleh IAIN Tulungagung saat itu yang masih bernama STAIN adalah: bonus kebebasan mahasiswa dalam bersikap kepada dosen, dan berperilaku di kampus.

Tak jarang saat itu, jika kita masuk kampus STAI Tulungagung, kita akan menemukan mahasiswa dengan tampilan kaos oblong, jeans yang jebol-jebol, perilaku bebas pokoknya, bahkan kejadian mahasiswa menyandera civitas akademik pun menjadi hal yang wajar.

memang ironi jika hal ini dipaparkan dalam cerita. Tapi itulah kondisi fakta awal sebelum tampilnya wajah baru seperti sekarang. Sehingga jika sekarang tampilan IAIN Tulungagung seperti saat ini, maka kita akan dapat mengkaji apakah penyebab perubahan tersebut? Sehingga kita dapat mengambil hikmah dari perjalanan perubahan tersebut.

Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan di IAIN Tulungagung, tapi lebih spesifiknya, penulis akan memaparkan beberapa saja yang menurut penulis menjadi faktor pembawa dampak perubahan pada perilaku dan budaya mahasiswa IAIN Tulungagung diantaranya adalah Kesadaran dan Muhasabah para dosen IAIN Tulungagung.

Kesadaran yang dimaksud lebih kepada kesadaran terhadap peran dan fungsi dosen sebagai masyarakat intelektual yang harus membawa perubahan. Oleh karenanya, mengahdapi bonus reformasi berupa kebebasan mahasiswa, para dosen IAIN Tulungagung memperankan fungsinya sebagai intelektual pembawa perubahan dengan menerapkan “hiden curiculum”.

Namanya saja kurilulum tersembunyi (Hiden Curiculum), bagaimana mempraktikkannya? Sebenarnya nama “hiden curiculum” ini dalam rangka menjelaskan bahwa kinerja menuju perubahan selalu dilakukan tanpa henti dimana pun dan kapan pun, sehingga banyak rentetan alur yang tersembunyi dan tidak dijelaskan.

Melihat fenomena dan bonus reformasi terhadap mahasiswa IAIN Tulungagung saat itu, kesadaran para dosen salah satunya adalah mengarahkan i’tibar pada apa yang terjadi pada nabi Yunus yang sempat putus asa dengan apa yang sudah dilakukan kepada kaumnya selama bertahun-tahun tapi tidak ada perubahan sama sekali sampai akhirnya keputus asaan ini membawa nabi Yunus untuk naik kapal dan sampai pula diturunkan dari kapal serta dimakan oleh ikan tapi terselamatkan ketika nabi Yunus bersandar pada Allah yang diterangkan dalam lafadz:

ﻻاله أﻻ انت سبحانك انى كنت من الظالمين

“Wahai Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, dan sesungguhnya aku adalah golongan orang-orang yang dholim”.

Kisah nabi Yunus A.S ini memberikan inspirasi penyadaran para dosen IAIN Tulungagung, bahwa menghadapi perilaku dan budaya mahasiswa bukanlah harus marah, bukan pula mutungan, atau bahkan melawan arus dengan membuat pola berhadapan sebagai pimpinan dan bawahan. Tapi mahasiswa harus diarahkan dengan “Tekun, Tegen, Teken, dan Tekan”. Tekun maksudnya adalah, ketekunan membimbing dan mengarahkan mahasiswa untuk berperilaku religius dan intelektual sampai pada tata biacara dan sikap perilaku yang baik pula. Tegen, para dosen dalam mengarahkan mahasiswa harus benar-benar menjadi cermin dan teladan, tidak sekedar bahasa bibir. Sehingga keteladanan mutlak hukumnya. Teken, fungsi teken adalah sebagai pegangan untuk melangkah. Sedemikian juga, apa yang dilakukan para dosen dalam menyikapi bonus reformasi di tingkatan mahasiswa, harus memiliki pedoman yang baku dan bisa dipedomani oleh semua dosen. Sehingga hasil yang di dapatkan bisa sama. Dan yang terakhir slogan dosen dalam mengarahkan mahasiswa adalah Tekan, maksudnya adalah, mahasiswa mau diarahkan tujuan apa? Ini harus jelas. jadi tujuan inilah yang akan menjadi capaian dan target kegiatan.

Mengawali kegiatan perubahan perilaku mahasiswa, awal masuk mahasiswa sebelum Pengenalan Budaya Kampus, mahasiswa diajak untuk Istighosah bersama. Tujuanya adalah menyamakan frekwensi antara mahasiswa dan dosen saat masuk kampus IAIN Tulungagung, maka sandaran meminta pertolongan adalah Allah SWT. karena segala sesuatu adalah dari Allah, dan akan kembali kepada Allah. Sehingga faham “Sangkan paraning dhumadi”(darimana ia berasal dan kemana ia kembali).

pembiasaan berdoa sebelum perkuliahan dengan membaca:

رضيت بالله ربا وبالاسلام دينا وبمحمد نبيا ورسولا ربى زدني علما وارزقنى فهما واجعلنى من عبادك الصالحين

“Aku Ridha bahwa Allah adalah tuhanku dan aku ridha Islam adalah agamaku, Muhammad SAW nabiku dan rosulku. Ya Allah tuhanku, tambahkanlah padaku ilmu, dan karuniakanlah padaku kepahaman dan jadikanlah aku termasuk sebagai hamba-hambamu yang Sholih-Sholih.”

Makna yang terkandungbdalam doa ini sangat dalam, dimensi kesadaran dan keridhaan serta semua pengharapan diarahkan pada Allah, tuhan pencipta alam semesta. Disisi lain, ada keridhaan antara dosen dan mahasiswa untuk membangun frekwensi yang sama dalm melaksanakan perkuliahan.

Kegiatan tadarus dan khataman qur’an juga menjadi budaya di Kampus IAIN Tulungagung, berawal dari beberapa dosen yang mengundang mahasiswa untuk melakukan khataman rutin tiap Minggu, akhirnya energi positif ini ditularkan ke dalam kelas dan menyebar ke kampus bahkan para dosen yang backgroundnya eksak juga mengikuti kegiatan tersebut. Akhirnya diketahuilah, banyak mahasiswa yang belum bisa baca tulis al qur’an, dan kejadian ini direspon cepat dengan kegiatan TPQ dan Madrasah diniyah di pagi hari yang juga dibimbing oleh para dosen IAIN Tulungagung dibantu oleh para tokoh dan alumni pondok pesantren Lirboyo dari Tulungagung. Sehingga mahasiswa yang belum bisa baca tulis huruf hija’iyah, dibuatkanlah kelas baca tulis al qur’an untuk pemula, walau pun statusnya adalah mahasiswa.

Selain itu, para dosen juga kerja ekstra membuat catatan dalam kertas yang berisi teguran tata cara berpakaian bagi mahasiswa yang dinilai kurang sesuai dengan budaya akademik. catatan tersebut berupa lembaran kosong yang diberikan kepada petugas keamanan/ petugas parkir yang sudah dibriefing dengan SOP yang telah ditentukan. Sehingga petugas parkir langsung memanggil mahasiswa, mencatat nama dan NIMnya serta memberikan catatan itu kepada mahasiswa sembari disampaikan pula, mahasiswa tersebut segera menemui dosen tertentu yang telah ditunjuk untuk menegur mahasiswa tersebut.

Dari perubahan ditataran mahasiswa, akhirnya juga merembet kepada kumpulan dosen yang juga membentuk kelompok khataman al qur’an dan pengajian rutin ditambah sikap sosial saling berebut untuk bersedekah dalam kegiatan khataman dan pengajian kelompok dosen tersebut.

Tulisan di atas, penulis moderasi dari apa yang disampaikan oleh Dr. H. Abdul Aziz, Dekan fakultas Tarbiyah IAIN Tulungagung saat ngisi kuliah.