Berkhidmad pada NU, merupakan manifestasi dari mengaharap syafaatnya para Ulama dan Wali Allah. Dan perlu difahami, berkhidmad pada NU tidak harus di SK sebagai pengurus, tidak di SK pun juga tetap berkhidmad. Dan Jangan sampai membuat tandingan di dalam NU termasuk di Banom NU( Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU,PMII). Kita berkhidmad pada NU untuk belajar dan ndandani diri kita, jangan bilang ndandani NU, salah niat kalau mau ndandani NU, wong yang rusak bukan NU nya kok yang di dandani NU nya.

Ada hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari dari Hammad bin Zaid, ia berkata: “…Aku bertanya kepada Amr bin Dinar Aba Muhammad:

“Apaklah engkau mendengar Jabir bin Abdullah membawakan hadits dari Rasulullah, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengeluarkan sekelompok orang dari neraka dengan syafaat?” Amr bin Dinar menjawab: “Ya”.

Imam Bukhari, ar-Riqaq, pada bab Sifatil Jannah Wannar, No. 6558.
Dan Kitab Imam Muslim, al-Iman, No. 191. Mendifinisikan “Syafaat adalah pertolongan yang diberikan dari seseorang kepada orang lain guna memberikan manfaat dan menolak mudharat”. Syafaat itu secara haqiqi adalah milik Allah, tetapi kemudian Allah mengizinkan kepada mereka yang diberi idzin dan kemulian oleh Allah, sebagaimana firman-Nya: Dan berapa banyaknya malaikat di langit, mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhoi-Nya (QS. An-Najm, ayat 26).
Syafaat yang paling agung adalah dari Kanjeng Nabi Muhammad, para Nabi, lalu para wali dan para ulama, dan juga orang-orang mukmin yang shalih, juga syuhada. Banyak hadits yang menyebutkan keterangan terkait hal ini. 
Syafaat itu berguna ketika orang mau meninggal, menghadapi hari berbangkit dan siksa dari neraka. Adapun bentuk syafaat itu  bisa berbentuk, masuk surga tanpa hisab, diringankan siksanya, dan mudah kematiannya, karena didoakan pemberi syafaat, diringankan siksanya di kubur, karena doa pemberi syafaat, dan lain-lain.

Kita harus bersyukur menjadi NU, karena NU didirikan para alim ulama dan banyak para guru yang diyakini menjadi wali, juga orang-orang shalih. Tentu mereka yang mendirikan NU itu tidak tinggal diam terhadap jamaah organisasi yang didirikan. Kita harus bersyukur kalau ditentukan Allah menjadi orang shalih, tetapi tidak semua orang adalah orang shalih. NU memiliki banyak pendiri dan mujahid yang menggunakan manhaj metode NU, dan tergolong orang-orang sholih, dan guru-guru yang memberi manfaat pada umat.

Ada KH. Hasyim Asy`ari, KH. Abdul Wahab Hasbulloh, KH. Bihsri Syansuri, KH. Ridlwan Abdullah, KH. R. Mas Alwi, KH. R. Asnawi Kudus, KH. R.As’ad Syamsul Arifin, KH. Maksum Lasem, KH. Khudhori, KH. Bishri Musthofa, KH. Syafaat Banyuwangi, dan guru-guru pesantren yang tidak bisa disebut satu persatu, rela mendoakan NU. Ada dari kalangan habaib, ada kyai kampung, imam musholla kecil, imam masjid jami, imam thoriqat, dan lain-lain. Mereka ini terdiri dari para ahli fiqh, ahli tauhid, dan ahli tasawuf. 
Banyak lagi perkumpulan-perkumpulan thoriqat, ahli ratib, ahli sholawat, dan jamaah pengajian yang bergabung dengan NU. Guru- gurunya yang min ahli dzikir rela mendoakan NU dan jamaahnya agar selamat di dunia dan akhirat. Mereka tersebar di seantro Indonesia.
Orang-orang sholih ini,  menurut imam al-Ghazali di dalam kitab ad-Durratul Fakhirah fi Kasyfi Ulumil Akhirah, ketika membicarakan keadaan penghuni kubur, disebutkan begini:
“Keadaan keempat ini khusus untuk para Nabi dan wali. (Ruh) mereka diberikan pilihan, di antara mereka ada yang mengitari bumi hingga hari kiamat. Banyak yang memimpikannya di waktu malam…”
Ada di antara wali-wali Allah dan orang-orang shalih yang dikasihi Allah diberi izin, ruhnya untuk tetap mengitari bumi sampai kiamat, dan tentunya menemui murid-muridnya, terus mendoakan lewat alam mereka. Sementara telah jelas, tidak ada keraguan, para ulama dan orang-orang shalih itu, rela bergabung dengan NU, meskipun banyak organisasi-organisasi Islam telah berdiri. Juga pada saat ini banyak ulama dan kyai bergabung dengan NU.

Mereka, para ulama telah melihat fadhilah-fadhilah yang ada dalam NU, bukan hanya melihat dengan mata kepala, tetapi juga berdasarkan penglihatan batin. Mereka telah melihat kebaikan manhajnya NU. Mereka telah melihat NU sebagai penerus Ahlussunnah Waljamaah, bukan hanya paling besar di nusantara ini, tetapi juga dapat diandalkan menjaga keberlangsungan agama Islam dan perjuangannya, di samping selaras dengan Negara di mana mereka hidup. Buktinya sekarang Afganistan, Palestina, dan negara-negara di dunia yang belajar ber NU ke Indonesia. 

Berkumpul dengan para ulama dan wali akan mendatangkan barokah, kalau kita masih hidup di dunia. Ketika sakaratul maut dan di akhirat mereka juga memberikan manfaat dan memperhatikan murid-murid dan jamaahnya, dengan izin Allah, beliau-beliau memberikan syafaatnya. Tentu saja, yang memperoleh bantuan syafaat dari mereka, adalah orang yang mencintai mereka. Karena, mereka para ulama dan wali-wali Allah itu telah rela mendirikan NU, dan berjuang dengan wasilah Nahdlatil Ulama. Dengan begitu, kalau kita ingin diberi syafaat paling tidak: menjadi muridnya atau bisa diakui jadi muridnya, mencintainya, dan melestarikan serta meneruskan perjuangnnya, dengan mengabdi lewat wasilah NU baik struktural maupun kultural, baik di SK atupun tidak di SK. Dan berjuang di NU adalah proses memperbaiki diri kita, bukan meperbaiki NU.

Kalau belum bisa bergabung dengan NU, tidak perlu ikut-ikut mencela Nahdlatul Ulama. Kalau berharta dan belum bisa menjadi NU, bantulah Nahdlatul Ulama. Kalau sudah masuk tetapi tidak menjadi pimpinan, maka berkumpullah dengan para ulama dan mujahid di kalangan mereka. Kalau sudah menjadi pimpinan, jadilah orang yang menyadari bahwa NU ini dilahirkan para ulama dan wali-wali Allah. Kalau berbeda dengan pimpinan NU, lebih baik diam atau memberi masukan yang positif, atau mendoakannya. Tak perlu buat NU tandingan. Walaupun kepandaian kita sundul langit, jangan sekali-kali membuat NU tandingan, termasuk di banomnya NU. Kecuali kalau pingin kualat pada NU.

Bersykurlah menjadi NU, karena NU dilahirkan, diteruskan, dan didoakan oleh para ulama dan para wali Allah, baik yang masih hidup atau yang sudah wafat, KH. Ridlwan Abdullah sang pencetus logo NU berwasiat kepada keluarga dan keturunannya “Jangan sekali-kali keluar dari NU, karena NU adalah organisasi yang di ridhoi oleh Allah”.

Bagi yang masih ragu-ragu dengan NU, akhirilah ke ragu-ragu an anda dengan belajar dan bertanya apa dan bagaimana NU sebenarnya kepada sumber yang dapat dipercaya, anda bisa menghubungi pengurus NU terdekat. Bagi yang tidak PD ber NU, segeralah temu kenali masalah pada anda, karena tidak mungkin outsider dapat mendifinisikan NU secara clear. Bagi yang diluar NU kalau gak suka ya diam saja. Wong maqom anda orang yang gak suka mau diapakan lagi. Ingat “Ya Jabbar dan Ya Qohhar, asma’ yang diberikan Syaikhona Kholil Bangkalan dengan utusan KH. Raden As’ad Syamsul Arifin melalui Tasbih yang dikalungkan di leher beliau”. Implikasi Ya Jabbar dan Ya Qohhar adalah, “Barang siapa yang berkhidmah untuk NU akan Mulia, dan barang siapa yang akan merusak NU akan Celaka. Dan Barang siapa yang Musuhi NU akan Hancur”. Jika tidak percaya! Silahkan dicoba.