Berikut adalah kutipan dari karya Nur Kholik Ridwan penulis buku” NU & Bangsa 1914-2010 Pergulatan Politik & Kekuasaan” yang memaparkan apa yang menjadi alasan kita ber NU dengan melihat apa yang menjadi alasan KH. Wachid Hasjim. Yang konon untuk menjatuhkan pilihan organisasi NU, beliau butuh 4 tahun dengan menimbang dan membandingkan dengan organisasi lain. Sehingga beliau KH. Wachid Hasyim benar-benar mantap dalam ber” NU.

KH. Wachid Hasjim adalah tokoh hebat yang lahir dari kalangan NU. Beliau pendiri bangsa Indonesia yang dalam usia muda meninggal dunia. Dialah tokoh yang menentukan dalam mengusulkan rumusan Ketuhanan dalam Pancasila itu, menjadi Ketuhanan yang Maha Esa, sehingga diterima semua pihak di PPKI. Tak diragukan, bagi bangsa kita Indonesia, dan bagi NU, perjuangannya sangat hebat.

Alasan KH. Wahid Hasjim memilih NU lebih hebat lagi, begini alasannya:

Pertama, Alasan radikal revolusioner. Sebagai orang muda, KH. Wahid Hasjim membaca banyak literatur. Menurutnya, tidak ada perhimpunan apapun yang 100 persen memuaskan. Alasan radikal revolusioner, kecepatan dan ketangkasan, sering menjadi pertimbangan kaum muda terpelajar yang kritis untuk bergabung. NU sering diasumsikan, sebagai gerakan yang lamban dan tidak revolusioner.

Akan tetapi, alasan radikal revolusioner, kecepatan dan ketangkasan bergerak, ternyata tidak menjamin keberhasilan sebuah organisasi. Ada organisasi radikal revolusioner, tetapi tidak dapat menarik simpati dan anggota. 10 tahun berdiri baru punya 10 cabang. Apalah artinya keradikalan, kalau dia tidak dapat memperluas anggotanya, maka yang penting dalam berjuang, bukanlah gagah-gagahan, tetapi hasil dari perjuangan itu sendiri. Maka alasan radikal revolusioner perlu ditinggalkan.

Kedua, Alasan banyaknya kaum terpelajar. Jika berhitung berpa banyak kaum terpelajar di NU? Maka saat itu bagi KH. wachid Hasyim masuk dan memilih NU sebagai organisasi menjadi tidak menarik, karena saat itu, NU miskin kaum terpelajar. Akan tetapi setelah diselidiki KH. Wahid Hasjim, banyaknya kaum terpelajar, tidak menjamin organisasi itu akan berhasil dan maju. Banyak organisasi yang didirikan kaum terpelajar, juga mengalami keruntuhan dan tidak maju. Maka alasan soal kaum terpelajar disingkirkan. Yang penting, organisasi itu bukan hanya mengandalkan otaknya saja, katanya, tetapi juga mentalitas atau budi pekerti. Dan hanya NU yang dapat memberikan kepuasan mentalitas itu.

Ketiga, Alasan NU terlalu streng dalam tuntutan agama. Bagi kaum muda, mungkin akan canggung masuk NU, karena para ulama menuntut anggota NU, apalagi pengurusnya untuk teguh menjalankan ketentuan agama. Akan tetapi, menurut KH. Wahid Hasjim, bagi yang ingin betul-betul memajukan masyarakat Islam (dan bangsa tentunya), maka tuntutan-tuntutan yang dikehendaki ulama-ulama yang ada di NU itu, malah mendorongnya untuk masuk. Dan yang telah menjadi anggota, akan menjadi batas ujian yang memelihara dinamika mereka agar terpelihara dengan baik. Dan ini memperkuat soliditas organisasi dan menjadi kuat. Organisasi yang kuat solid lebih dibutuhkan, dan pasti lebih menarik bagi orang. Di dalam strengnya ulama-ulama NU itu, juga penuh humor dan kesederhanaan, dan ini juga daya tarik lagi.

Ke empat, Alasan ulama Memonopoli keputusan. Menurut KH Wahid Hasjim, tidak seluruhnya betul bahwa ulama memonopoli. Mereka yang menyelidiki secara sungguh-sungguh, akan menemukan para ulama itu hanya berperan menjaga pelajaran-pelajaran Islam, jangan sampai dilanggar oleh anggota-anggotanya. Dalam menjaga pelajaran-pelajaran Islam itu, para ulama disebutnya tidak jumud dan beku. Tetapi senantiasa dapat menyesuaikan perkembangan-perkembangan, asal saja tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Itulah alasan yang dipakai oleh KH. Wahid Hasjim masuk NU dengan bahasa dari saya yang diambil dari Karangan Tersiar. Padahal saat itu dia ditawari banyak perhimpunan yang ingin mengajaknya bergabung. Malah dia memilih NU. Alasan-alasan itu,  masih relevan hingga hari ini untuk dibaca, kecuali soal yang terpelajar. Saat ini, NU justru banyak memiliki kaum terpelajar; dan hal penting bahwa adanya banyak kaum terpelajar tidak bisa menjamin keberhasilan sebuah organisasi. Mentalitas yang penting. 

Para ulama NU, juga menentukan hukum sesuatu tidak serampangan, karena dia harus musyawarah dalam sebuah forum besar untuk memutuskan suatu persoalan, dan senantiasa menyelaraskan dengan perkembangan zaman.

Telah terbukti, anak-anak muda yang membikin organisasi-organisasi yang menurut mereka revolusioner pun banyak bertumbangan. Apalah artinya organisasi dibuat, tetapi tidak bisa bertahan, dan tidak memiliki anggota. Dan akhirnya tidak memberi mashlahah. Impian kemajuan dan perbaikannya tidak bisa terwujud. Dalam kerangka alasan itu, NU mampu menjembatani keinginan anak-anak muda, dan keberlangsungan tradisi orang tua, yang dijaga para ulama.

Alasan-alasan KH. Wahid Hasjim itu memberikan pelajaran kepada kita. Bagi anak-anak muda sekarang, alasan-alasan itu bisa ditambah dan dipercanggih.

Kalau belum bisa bergabung dengan NU, tidak perlu ikut-ikut mencela Nahdlatul Ulama. Kalau berharta dan belum bisa menjadi NU, bantulah Nahdlatul Ulama. Kalau sudah masuk tetapi tidak menjadi pimpinan, maka berkumpullah dengan para ulama dan mujahid di kalangan mereka. Kalau sudah menjadi pimpinan, jadilah orang yang menyadari bahwa NU ini dilahirkan para ulama dan wali-wali Alloh. Kalau berbeda dengan pimpinan NU, lebih baik diam atau memberi masukan yang positif, dan8 mendoakannya. Tak perlu membuat NU tandingan.
Mari kita bersyukur menjadi NU.