Mendekati hari raya Idul Adha, yang biasanya ditandai dengan maraknya pelaksanaan qurban, kadang kita terlupa untuk mengambil pelajaran dari ibadah qurban dan hanya terjebak dalam rutinitas mengolah daging qurban menjadi berbagai masakan. Ada nilai-nilai keberanian, keikhlasan dan ketaatan yang dapat kita teladani dari pelaksanaan ibadah qurban sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Sehingga dengan keberanian tersebut, nabi Ibrahim menjalankan perintah dengan ikhlas dengan penuh ketaatan.

Buah dari yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah keberkahan dengan digantikannya nabi Ismail yang awalnya hendak disembelih nabi Ibrahim dengan pengganti seekor domba. Pengantian ini bukanlah skenario nabi Ibrahim AS dan nabi Ismail AS. Tapi murni digantikan oleh Allah SAW yang menghargai keberanian, keikhlasan dan ketaatan para kekasihNYA.

Pada awalnya nabi Ibrahim AS bermimpi, yang dalam mimpi tersebut diperintahkan untuk menyembelih nabi Ismail sang putra tercinta. Menyikapi hal tersebut, nabi Ibrahim berfikir keras benarkah perintah tersebut berasal dari Allah SWT dan bukan Iblis yang menyamar. Dan esok harinya, nabi Ibrahim AS bermimpi serta mendapat perintah yang sama dengan sebelumnya. Sehingga dari mimpi ke dua ini nabi Ibrahim AS mengetahui bahwa perintah tersebut benar-benar dari Allah SWT. Proses berfikir nabi Ibrahim AS yang jika dibahasakan arab adalah “rawwiy” atau memiliki padan kata “fakkir” dan sekarang kita kenal dengan hari “Tarwiyyah”(berfikir serius) dan hari setelah berfikir ini disebut hari”Arafah”(mengetahui). Sehingga nama puasa sunnah sebelum Idul Adha disebut Tarwiyah dan Arafah.

Bahkan keberkahan juga di dapatkan domba/kambing yang saat itu menjadi hewan yang menggantikan nabi Ismail AS. Keberkahan yang di dapat adalah menjadi hewan dengan spesies yang tidak punah dan cenderung bertambah jumlahnya walaupun sering disembelih untuk acara hajatan dan qurban. Padahal kambing hanya mampu melahirkan paling banyak 3 sekali melahirkan. Berbeda dengan anjing yang mampu mencapai 7 anak sekali melahirkan, tapi populasi Anjing kalah dibanding populasi Kambing yang semakin banyak dan bertambah.

Perlu diketahui juga, bahwa kambinglah yang menjadi daging favorit nabi Muhammad SAW dan haqqul yakin makanan pilihan Nabi Muhammad adalah yang terbaik untuk kesehatan dan kandungan gizinya. Hasil riset terbaru menyebutkan bahwa daging kambing bukan penyebab dan pemicu hipertensi, tapi dapat memenuhi kekurangan gizi dengan kandungan protein hewani dan lemak yang seimbang untuk kebutuhan konsumsi manusia pada umumnya.

Dalam kisah lain dituturkan dari dialog Syaikh Ibrahim bin Adham, yang suatu ketika pernah terlibat dialog dengan salah seorang kafir zindiq yang tidak percaya akan eksistensi barokah. Zindiq itu berkelekar, “Yang namanya barokah itu jelas tidak ada (hanya mitos)”. Mendengar itu, Syaikh Ibrahim lantas menanggapi pernyataannya sebagaimana dalam dialog berikut;

Ibrahim bin Adham: Pernahkah kamu melihat anjing dan kambing?

Zindiq : Ia, tentu…

Ibrahim bin Adham : Mana dari keduanya yang lebih banyak melakukan reproduksi dalam melahirkan anak-anaknya?

Zindiq : Pastinya anjing, anjing bisa melahirkan sampai 7 anak anjing sekaligus. Sedangkan kambing hanya mampu melahirkan setidaknya hanya 3 anak kambing saja.

Ibrahim bin Adham : Coba perhatikan lagi di sekelilingmu, manakah yang lebih banyak populasinya antara anjing dan kambing?

Zindiq : Aku lihat kambing lebih mendominasi, jumlahnya lebih banyak dibandingkan anjing.

Ibrahim bin Adham : Bukankah kambing itu sering disembelih? Entah itu untuk keperluan hidangan jamuan tamu, prosesi kurban Idul Adha, acara aqiqah, atau momen istimewa dan hajat lainnya? Tapi ajaibnya spesies kambing tidak kunjung punah dan bahkan jumlahnya justru nampak melebihi anjing.

Zindiq : Iya, iya, betul sekali.

Ibrahim bin Adham : Begitulah gambaran berkah.

Zindiq : Jika tamsilnya begitu, lalu kenapa justru kambing yang mendapat berkah, bukan anjing?

Syaikh Ibrahim Bin Adham kemudian menutup dialog itu dengan jawabannya yang cukup menyentil;

لأن الأغنام تنوم أول الليل و تصحى قبل الفجر فتدرك وقت الرحمة فتنزل عليها البركة. وأما الكلاب تنبح طول الليل فإذا دَنا وقت الفجر هجست ونامت ويفوت عليها وقت الرحمة فتنزع منها البركة

Karena kambing lebih memilih tidur di awal petang tapi, ia selalu bangun sebelum fajar, di saat itulah ia mendapati waktu yang penuh dengan rahmat, hingga akhirnya turunlah berkah kepadanya. Beda halnya dengan anjing, ia doyan menggonggong sepanjang malam, tetapi di saat menjelang fajar ia malah pergi tidur sampai melewatkan saat-saat turunnya kucuran rahmat dan ia pun tidak kebagian berkah.

Dari paparan di atas dapatlah kita simpulkan bahwa keberkahan harus disertai keikhlasan, ketaatan dan keberanian. Karena hanya orang-orang yang punya keberanian yang mampu mengorbankan segala yang dimilikinya dengan ikhlas, dan hanya orang-orang yang taat, yang dapat memaknai perintah sebagai manifestasi kewajiban.(Din)