​Membincang sosok Gus Dur memang multidimensi. Ibarat sumber mata air yang tak pernah kering walaupun diambil airnya setiap hari. Diantara sisi menarik Gus Dur adalah kebiasaan kuliner Gus Dur yang masyhur sejak beliau masih di pondok maupun saat menjadi mahasiswa di Mesir, Baghdad dan saat berkelana di Eropa.

Salah satu tulisan AS Hikam dalam buku “Gus Dur ku Gus Dur Anda Gus Dur Kita” menuturkan bahwa Gus Dur saat kuliah di Mesir dan Baghdad, adalah koki handal yang mampu memasak dengan rasa lezat dan biaya sangat murah. Dalam cerita tersebut dituturkan bahwa di asrama mahasiswa, setiap mahasiswa mendapat giliran untuk menjadi koki yang sekaligus mencari bahan belanjaan dan melaporkan berapa biaya masak untuk hari itu. 

Saat yang paling ditunggu mahasiswa di basecamp adalah saat Gus Dur menjadi koki dengan menu andalan Sup Kepala Ikan, lezat tapi murah. Pada suatu saat pas giliran Gus Dur masak, tiba-tiba ada kegiatan mendadak yang mengharuskan Gus Dur tidak masak dan digantikanlah oleh kawan Gus Dur. Sewaktu sampai di pasar tempat biasa belanja, tiba-tiba kawan Gus Dur ini ditegur oleh penjual ikan, “mana kawan kamu si Abdurrahman itu?, Dia itu orang hebat, sangat sayang pada Kucing. Setiap belanja disini, si Abdurrahman selalu membeli kepala Ikan untuk 20 kucing piaraannya, makanya aku selalu memberikan dengan harga murah kepala ikan itu untuk temanmu si Abdurrahman”. Sang Kawan Gus Dur kaget dan buru-buru beralih dari sang penjual ikan. Padahal niat awal kawan Gus Dur adalah membeli kepala ikan untuk memasak sup kepala ikan seperti yang biasa dimasak Gus Dur. Akhirnya kawan Gus Dur pun masak dengan menu ikan yang harganya tentu lebih mahal,dan rasa yang tidak bisa menandingi sup kepala ikan ala Gus Dur.

Bahkan kebiasaan kuliner (culinary habit) Gus Dur juga sangat luar biasa hafal dimana letak kuliner lezat di masing-masing daerah, entah di warteg maupun di restoran bintang lima, Gus Dur paham menu istimewa di tempat itu. Bahkan sampai gorengan dan rujak buah yang nongkrong di depan gedung PBNU, awalnya juga karena kebiasaan Gus Dur yang mejanya tidak pernah sepi dari buah dan gorengan (menu wajib untuk organisasi yang anggotanya lebih dari 40 juta). Bahkan sempat pula saat Gus Dur di Istana Negara, beliau sudah jenuh dengan menu dan masakan kepresidenan yang diatur serba ketat, dengan cara dan kecerdikan Gus Dur, tiba-tiba hadirlah gorengan ala PBNU di Istana negara tapi minumnya tetap Equil, yang tentu membikin ketawa setiap penikmatnya.

Saat Gus Dur di Jombang, kuliner kesukaan Gus Dur adalah Kikil, dan lokasi warungnya tetap,sehingga warung itu sampai saat ini menggunakan nama “Kikil Kesukaan Gus Dur”, dan serasa belym komplit jika berziarah ke makam Gus Dur jika belum mampir di warung kikil kesukaan Gus Dur ini. Luar biasa, sang Guru Bangsa yang membawa berkah bagi masyarakat dan lingkungannya.