عَلَيْكُمْ بِمُجَالَسَةِ الْعُلَمَآءِ وَاسْتِمَاعِ كَلَامِ الْحُكَمَآءِ .

“Hendakalah kamu bergaul dengan para ulama’ dan mendengarkan nasihat para hukama’.“
Bersama ulama’ cenderung dekat dengan Allah dan dengannya kita dapatkan petunjuk

#Nashoihul Ibad#

Kenapa kok harus mujalasah dan istima’? Dua hal itukan mengharuskan adanya interaksi langsung. 
Padahal sekarang, dengan mudah kita bisa mencecap ilmu melalui HP yang ada di tangan kita. Sering kita jumpai kalimat yang diucapkan manusia zaman sekarang sebagai beriku: “Belajar agama kan bisa sambil jalan, ora perlu mondok, moco postingan tausiah lewat medsos kan sudah bisa paham agama? Tunggu dulu bung. Bukankah Allah mencabut ilmu itu dengan mewafatkan ulama’? Bukan dengan menghapus tulisannya. 
Bisa jadi tulisan-tulisan ilmu agama nantinya semakin mudah menyebar dan sampai kepada kita. 
Namun ketika ulama’ di wafatkan, maka akhlaknya beliau sebagai teladan juga diangkat oleh Allah. Maka sejatinya para Kyai Sepuh di Pesantren dulu, ada santrinya yang tidak diajar kitab satu pun, tapi di ajar dengan nderek sang Kyai kemana pun pergi. Artinya, sang Kyai tahu bahwa karakter dari santri tersebut harus dibentuk terlebih dahulu, sebelum dimasuki pengetahuan atau bahasa sekarang menyebut” caracter before knowledge”(adab sebelum ilmu).
Ketika Ulama’ di wafatkan oleh Allah,Tulisan-tulisan nya ada, tapi akhlak keteladanan yang tidak kita dapatkan lagi. 

Pada hari ini, Kamis 16 Maret 2017 seorang Ulama’ besar pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam dan mantan Ketum PBNU KH. Hasyim Muzadi menutup usia, satu lagi berkurang ulama’ dan guru bangsa. Semoga Allah memberikan tempat yang layak untuk beliau serta keberkahan kepada semua yang ditinggalkan. Setiap ada Ulama’ Khos yang wafat, sangat lama lagi muncul Ulama’ yang sederajat ilmunya, bahkan langka yang bisa menyamai maqom keilmuan dan kemulyaan akhlaqnya.
Sekali lagi, dengan wafatnya ulama’ bukan berarti tulisan-tulisan ikut hilang, La yabqo minal Qur’ani illa rosmuhu. Teks nya ada. Tapi akhlak Qur’ani-nya tidak ada. 

Rosulullah Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak dan Allah menyifati akhlak Nabi dengan kalimat sanjungan nan indah” Wainnaka la’ala khuluqin adzim” Sesungguhnya Engkau(Muhammad) memiliki budi pekerti yang luhur. (QS Alqolam 4). Siti Aisyah dawuh, Rosulullah itu khuluquhul Qur’an. Jadi, seluruh perilaku Baginda Rasul adalah cerminan dari isi al-Qur’an sehingga berkualitasnya para sahabat ya karena pernah bermujalasah dan istima’ kalam-kalam Kanjeng Nabi secara langsung.

Mujalasah dan istima’, interaksi dengan ulama, membuat kita ketularan akhlak ulama’. Bahkan jika di prosentase, ilmu yang bisa keluar melalui ucapan itu hanya 50 persen. Yang keluar melalui tulisan separohnya yang diucapkan. 
“Sayyidina Ali bilang Saluuni qobla an tunqidzuni. Tanyalah aku sebelum aku mati. Sebab dengan ditanya maka ilmu yang tersimpan akan keluar. ”
Belajar Al-quran apalagi, kita harus ketemu guru secara langsung. Sebab Alquran itu almanqulu ilaina bittawatturi. Sampai kepada kita secara berantai. 
Allah ke malaikat jibril. Jibril ke Nabi Muhammad. Nabi kepada sahabat. Sahabat kepada tabiin. Tabiin kepada tabiit tabiin. Lalu ke para ulama baru kepada kita. Adakah yang ngajarkan agama tanpa akhlak? Ada sebuah cerita di Syria, di sebuah daerah di Syiria ada seorang yang ngajar agama  di masjid selama 40 tahun. Tapi setiap ke WC pintunya tak pernah ditutup. Belakangan baru ketahuan kalau orang ini yahudi. Hal seperti inilah yang membuat Syria hancur. Jadi, perhatikanlah akhlak orang-orang  yang denganya kamu bergaul serta mendapatkan ilmu darinya.

Oleh karenanya belajar ilmu tidak cukup hanya dengan modal HP di tangan dan paketan penuh atau modal datang ketempat yang ada syafa’at wifi. Perlu berinteraksi dan mendengarkan dawuh para Ulama’ secara langsung, serta mengetahui akhlaqnya. Bisa jadi orang yang selalu nge share tulisan petuah atau puitis di media sosial adalah sekedar broadcast atau memviralkan saja, tanpa membaca dan tahu isinya. Walaupun tidak semua demikian, tapi dengan Mujalasah dan Istima’ ibarat orang sakit, diagnosa yang diberikan kepada si sakit oleh dokter akan kebih akurat jika si sakit dan dokter bertemu langsung dalam satu tempat nyata, tidak sekedar menebak dan memperkirakan saja.