Sego Ndeso

Berdesa adalah kalimat lain dari mengabdi untuk desa dengan menata desa dan berbagi ilmu pengetahuan untuk masyarakat. Tanpa mendefinisikan arti desa, masyarakat sudah mafhum bahwa makna desa secara teretori maupun secara sosio kultur yang ada. Yakni satu kesatuan masyarakat yang mengikatkan diri berdasarkan wilayah dan kesatuan kepemimpinan dan adat istiadat setempat. Jadi ketika berada dalam wilayah yang sudah disepakati dan ditetapkan sebagai wilayah desa, maka dia disebut warga desa yang selanjutnya dia wajib mengikuti ketentuan warga desa yang diatur oleh pemerintah desa.

Ada kalimat “desa mawa cara” yang artinya setiap desa punya kearifan lokal yang menjadi kekhasan desa tersebut, entah dari unsur adat istiadat atau unsur budaya dan pergaulan. Kondisi inilah yang memperkaya khazanah pergaulan dalam bingkai kebhinekaan. Secara sosio kultur, masyarakat desa pada dewasa ini lebih sering menjadi obyek distribusi produk baik ekonomi, atau produk kemajuan teknologi komunikasi, transportasi dan pabrikasi. Sehingga tak jarang secara gaya hidup hedonis dan individualis lebih kentara dibanding gaya hidup di pinggiran perkotaan.

Geliat pembangunan desa juga semakin semarak. Dengan digulirkannya dana desa, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat mulai tersentak untuk memacu diri memenuhi kebutuhan masyarakat. Sayangnya keterlibatan masyarakat belum terwadahi semua atau belum dilibatkan semua. Oleh karenanya masyarakat harus pro aktif mengawasi dan melibatkan diri pada penggunaan dana desa di wilayahnya.

Kepedulian dan pelibatan diri dalam kegiatan desa bisa dilakukan dengan bentuk tukar informasi antar warga saat bertemu pada acara ngaji, yasinan, tahlilan dan musyawarah dilingkungan warga.  Komunisasi ini bertujuan untuk saling tukar informasi yang benar dan terbaru. Sehingga melalui forum-forum Ngaji, yasinan, tahlilan, merka bisa mencari ilmu dan sekaligus menata masyarakat.

Merubah pemikiran masyarakat memang tidak mudah, tapi jika hal yang tidak mudah ini juga tidak dimulai, maka masalah hanya jadi bayangan yang seakan besar dan menakutkan, padahal aslinya juga tidak rumit. Kita perlu merubah pemikiran dengan strategi merubah desa menuju desa yang berkembang dan maju serta berperadapan (Qoryah Thoyyibah) adalah bukan sekedar tanggungjawab pemerintah saja, tetapi menjadi tugas bersama seluruh lapisan masyarakat.

Para Kyai dan alim ulama’ memiliki peran membantu warga menjadi orang yang taqwa. Karena mustahil pemerintah yang baik akan terwujud jika masyarakat tidak memiliki perilaku baik. Maka andaikata ada yang bilang, Kyai dan Alim Ulama’ tidak punya peran dalm pembangunan masyarakat, ini statemen yang salah dan harus diluruskan. Semua lapisan masyarakat memiliki fungsi dan peran yang berbeda tapi sama-sama pentingnya.

Dengan optimalisasi peran Ulama’ dan Kyai, diharapkan perilaku masyarakat menuju masyarakat yang bertaqwa yang nantinya warga masyarakat mendapatkan keberkahan rizki yang melimpah sehingga lingkungan menjadi aman dan tentram, rukun dan damai. Akan tetapi, perlu fahami pula, bahwa maqom Kyai dan Ulama’ yang dimaksud bukan maqom elitis yang mendewakan diri tanpa mau mengabdikan diri pada melayani umat. Karena Ulama’ dan Kyai pada masa lalu, adalah beliau yang memiliki keilmuan agama, dan mampu menjadi solusi kegalauan masyarakat. Sehingga para alim dan kyai pasti memiliki hubungan dekat dengan masyarakat karena belaiu-beliau memiliki cita dakwah dengan niat suci. 

Semua harapan di atas hanya tinggal sekedar harapan, tanpa memulai dengan aksi nyata dan terget capaian serta schedul waktu yang tertata. Dimulai dari menata RT Sebagai satuan terkecil geografis lingkungan desa, selanjutnya RW, Kasun, dan desa. Maka susunan ini akan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisah satu dengan lainnya. Jika prrubahan satu desa saja sudah terwujud, maka wilayah lain akan tergerak, dan selanjutnya menjadi virus perubahan yang menyebar keseluruh penjuru wilayah Nusantara, hanya satu langkah untuk memulai semuanya yakni “adanya kemauan untuk berubah”.