Senin, 10 Juli 2017 adalah kesempatan untuk melihat secara nyata kondisi masyarakat desa bagian pinggiran dan pelosok pegunungan di wilayah kecamatan Sendang kabupaten Tulungagung melalui acara monitoring evaluasi program P3MD. Pada kesempatan tersebut, kami bagi Tim menjadi empat untuk pemerataan dan efisiensi waktu, karena wilayah pegunungan dengan kondisi geografis yang luas dan medan jalan yang banyak lubangan, maka waktu 1 jam adalah alokasi yang dibutuhkan untuk menempuh jarak dari satu desa ke desa yang lain.

Mengawali kegiatan ini, kami berfikir untuk sekalian rihlah, mencatat dan menyempatkan ngobrol, diskusi dengan warga dan tokoh masyarakat khususnya tentang kondisi NU di wilayah tersebut. Dengan catatan tanpa mengurangi esensi kegiatan program monitoring dan evaluasi yang dilakukan.

Desa Talang menjadi tujuan pertama untuk melakukan rihlah yang kami sebutkan di atas. Betapa kaget dan haru, karena begitu banyak minat para tokoh muda dan tokoh sepuh untuk mewujudkan lembaga pendidikan NU di desa ini. Konsep berfikir mereka sederhana, “Jika tidak ada simbol NU yang nyata, dengan apa kami mengenalkan NU pada generasi kami?. Dan menurut kami, simbol NU yang bisa berkelanjutan adalah dunia pendidikan ala NU” begitu pemaparan benerapa tokoh yang sempat saya ajak ngobrol dan menunjukkan lokasi yang menurut mereka representatif untuk didirikan sekolah yang mereka maksud.

Selama ini kami berjalan apa adanya, ya bekerja, bermasyarakat, jama’ah, yasinan, tahlilah, selamatan, gendurenan, diba’an walaupun juga jaranan sebagai wujud membaur bersosial, tapi amaliyah kami adalah NU yang pernah kami pelajari dari kecil dan diajarkan orang tua kami dahulu saat mengirim kami ke pondok pesantren. Jika kami selama ini tidak membahas struktural NU di masyarakat, semata karena kami tidak punya kawan berkeluh kesah dan sambat membincang NU struktrual mas”. Keterangan ini membuat saya getar dan sesak campur aduk gak karuan seraya berucap lirih “Ternyata masih ada dipelosok pegunungan santri-santri mbah Hasyim yang walaupun tidak nyantri langsung pada beliau tapi memegang teguh amaliyah NU”. 

Pesan mereka secara jelas terucap dan saya catat saat itu: “Bagaimana secepat mungkin lembaga pendidikan NU bisa terwujud, masalah tempat kami siapkan mas”. Siap. Jawaban saya seraya nyruput kopi yang dari tadi terabaikan di pojok meja warung tempat kami diskusi setelah melihat lokasi proyek kegiatan dan lokasi yang dimaksud persiapan untuk lembaga pendidikan NU.

Setelah kegiatan di Talang selesai sekitar pukuk 12:00, kami bergeser ke Nglutung. Sebuah desa dengan kondisi jalan yang cukup bervariasi antara makadam dan aspal yang bergelombang pun jarak pemukiman yang lumayan jauh dari hutan dan perkebunan tebu milik warga. Spontan kami berhenti setelah empat puluh lima menit berjalan, gegara kami melihat sekumpulan anak-anak perempuan dengan busana muslim jilbab hitam, baju putih, rok hitam dan menenteng tas plastik berisi buku dan Juz Amma.  Saya menghampiri kelompok anak-anak ini dan berucap salam kepada mereka, seraya bertanya rumah pak Khudori mana nduk ya? Mereka menunjukkan arah kami kejauhan. Langsung saya susul dengan pertanyaan” lha trus sampean ini mau acara apa nduk? Kok sragaman seperti ini?”, badhe ngaji dateng masjid ngriku lo. “Setiap hari?” (tanya ku) inggih, kecuali Jum’at. Saya sudahi pertanyaan itu dan berucapkan terimakasih pada mereka seraya berucap salam saya lanjutkan menuju arah balai desa Nglutung tanpa menuju rumah pak Khudori karena pertanyaan itu hanya pembuka saja karna saya tahu pak Khudori adalah tokoh sekitar dusun itu.

Sesampainya di Balai desa Nglutung, kami mengerjakan kewajiban monev dan disela-sela mengunjungi lokasi proyek, kami sempatkan bertanya dan ngobrol kepada kedua perangkat desa yang menemani kami menuju lokasi proyek. Kami bahas masalah Sutari warga ber KTP Nglutung yang beberapa minggu sebelumnya terduga teroris dan ditangkap di Banyuwangi. Menurut pemaparan beberapa nara sumber, Sutari sudah 5 tahunan lebih merantau, pertama ke Papua, trus pindah-pindah sampai Bali dan terakhir pulang ke Nglutung pas pilkades 2014 an. Itu pun Sutari hanya sebentar karena di Nglutung dia tidak punya tempat tinggal keluarganya sudah meninggal semua, yang ada hanya bu liknya. Lha Sutari ini tidak punya KK di Nglutung, data KTP yang di upload itu KTP SIAK yang berakhir 2012 saya faham Sutari karena SD dan SMP dulu seangkatan mas (Salah satu perangkat desa memungkasi keterangan tentang Sutari). Tapi begini mas, disini masyarakatnya macem-macem, di dusun Tlogo agamis dan banyak yang anaknya di pondokkan ke Ngunut atau ke Mangunsari, lha kalau sekitar Balai desa, Nasionalis mas. Tapi mayoritas Nglutung ya Genduren, Tahlilan, Selamatan, penake ngomong NU lah. Pungkas Mbah Wakidi yang juga nimbrung diskusi di poskamling pinggir jalan.”ya pokok ada pengumuman kayak banner kecil-kecil kayak itu(sambil menunjuk pengumuman penerimaan siswa baru dari salah satu pondok di Tulungu) insyaallah masyarakat kenal dan tahu pondok mas. Soalnya kalau dusun sini memang belum banyak yang pinter ngajak umat berjama’ah, Tahlilan dan amliyah lainnya, kalau amaliyah ya sudah NU, tapi yang bisa mengajak ke NU dan menjelaskan NU itu apa dan bagaimana? Itu belum nampak mas. Masyarakat dusun sini dan sekitar, kebanyakan mondokkan anak ya karena saudara yang sudah mondok dan karena selebaran atau pamflet yang dipasang ditempat umum begitu penuturan salah satu perangkat desa yang mendampingi kami ke lokasi proyek. Dan melihat waktu sudah menunjukkan jam 14:30 kami pun kembali ke balai desa untuk melanjutkan kegiatan lain dibidang administratif.

Perjalanan kami lanjutkan ke desa Krosok dan sudah ditunggu sejak pagi dan langsung kami berpencar untuk memaksimalkan waktu. Kami diantar oleh perangkat desa untuk melakukan pengecekan lokasi, kebetulan kami sudah akrab sebelumnya karena mbah modin adalah mahasiswa yang pernah saya ajar di kampus. Mbah modin mengawali cerita dengan kalimat singkat bertema “kenakalan orang tua”. Menurut mbah Modin, yang nakal itu tidak hanya remaja, tapi juga orang tua, mereka yang mengenalkan anak kepada jaranan atau pengajian, mereka jua yang mengenalkan anaknya kepada kebaikan dan keburukan. Jadi, kalau ada anak nakal, ya pasti ada orang tua yang nakal (tutur mbah Modin).

Madrasah disini banyak Pak, tapi tidak sampai tamat, sudah habis muridnya. Tapi anak-anak daerah sini ada juga yang mondok ke Ngunut dan pondok lain di Tulungagung. Ya semuanya tidak lepas dari peran para orang tua dan tokoh agama setempat. Kalau tokohnya sering memberikan wawasan pendidikan dan agama, ya banyak juga yang akhirnya warga sekitar mondokkan anak dan mendorong anaknya kuliyah. Lha kalau orang tua gak perduli pendidikan? Ya sudah. Ini yang saya sebut kenakalan orang tua. Kalau masalah amaliyah keseharian masyarakat desa adalah NU pak, tapi mereka tidak kenal NU. Tahunya ya Islam. Ini tugas kita bersama untuk njlentrehne mereka. Ziarah Wali hampir tiap tiga bulan, tahlil merata, yasinan dan manaqib juga ada, genduren, selamatan juga komplit. Tapi mereka tidak kenal struktur NU. 

Sekilas hasil rihlah saat “Berdesa dan Belajar Ber NU”. Selanjutnya tinggal action terhadap masalah dan memberikan umpan balik sebagai problem solving.