Jika Rhoma Irama punya “Nada dan Dakwah, maka lain lagi urusanya dengan “Cadar dan Dakwah”. Ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa bercadar hukumnya wajib. Memang tidak ada yang salah dengan pandangan tersebut, karena ada beberapa kalangan Ulama’ yang mendukung pendapat kewajiban bercadar bagi Muslimah.

Bagi saya, silahkan yang berpendapat wajibnya bercadar, tapi saya perlu memberi catatan. Ada klaim bhwa kewajiban bercadar itu adalah pendapat Jumhur Ulama’ atau sebagian besar ulama’. Lantas benarkah itu?

Coba kita buka lembaran sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Kita mulai dengan pertanyaan, “Kapan Islam masuk ke Nusantara?” Berdasarkan berbagai referensi, diperkirakan Islam masuk ke Nusantara antara abad X – XII. Kesimpulanya, orang Indonesia sudah berislam sejak saat itu.

Kita sandingkan data foto sejarah atau gambar yang ada, perhatikan bagaimana Muslimah Nusantara berpakaian? Adakah yg memakai cadar? Jawabnya “Tidak ada”. Bahkan di daerah-daerah yang dikenal ketat berpegang pada ajaran Islam seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan. Kita tidak menemukan cadar sebagai pakaian adat. Yang ada hanyalah pakaian yang menutup hampir seluruh tubuh, berupa sarung ditambah baju (kebaya atau baju kurung) lengan panjang, dan penutup kepala, itu pun masih kelihatan rambutnya.

Kenapa kita tidak menemukan cadar? Ada pendapat yang bilang, para penyebar Islam dulu gak tuntas mengajarkan syariat atau karena penjajahan. Menurut saya, pendapat ini konyol. Para penyebar Islam sudah seribu tahun, kok dianggap gak tuntas? Jika dihitung jumlah penyebar Islam dalam masa seribu tahun, entah berapa puluh ribu Ulama’ yang hidup berdakwah menyampaikan ajaran Islam, apa semuanya ngawur sehingga dalam waktu seribu tahun itu, mereka tak kunjung membuat seluruh Muslimah di Nusantara ini menjadi bercadar? Tentu mereka mendakwahkan Islam bukan secara ngawur dan tanpa totalitas.

Tengok para Ulama’-Ulama’ kita yang menjadi tokoh nasional. Sebut saja Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbulloh, Buya Hamka. Siapa yang meragukan kefaqihan dan ngalimnya beliau-beliau? Sampai pada K.H. Wahid Hasyim ayahanda Gus Dur. Bercadarkah istri dan anak-anak para ‘alim tersebut? Jawabnya “Tidak”. Kita faham bahwa deretan nama tersebut adalah Ulama’, bukan orang biasa. Tidak mungkin para Ulama’ tersebut berpandangan A, sementara anak istrinya mengamalkan beda.

Banyak juga tokoh Islam dari NU dan Muhammadiyah yang istri mereka juga nggak bercadar. Termasuk bu Sinta Nuriyah istri Gus Dur, yang sampai sekarang juga tidak bercadar. Bahkan kalau mau ekstrim lagi, istri Karto Suwiryo sampai hari kelima sebelum eksekusi Karto Suwiryo juga gak pakai penutup kepala atau jilbab. Padahal Karto Suwiryo mengusung Negara Islam Indonesia.

Saya tidak sedang mementahkan pandangan bahwa bercadar itu wajib (menurut beberapa kalangan/anda). Saya hanya menunjukkan bahwa pandangan soal cadar itu tidak tunggal. Bahkan mungkin bukan pula Jumhur, seperti klaim yang ada. Perbedaan pandangan Fiqih itu biasa. Tentu anda yang pernah belajar Ushul Fiqh akan tahu bahwa suatu pendapat Fiqih tidak boleh menyalahkan pendapat yang lain. Karena pendapat-pendapat itu hadir bersama dengan argumen yang sama kuatnya, tanpa perlu saling mengeliminasi.

Sikap untuk tidak mengeliminasi itulah yang patut untuk dijalankan dalam membincang masalah cadar. Biarkan setiap muslimah memilih busana mereka, sesuai pandangan Fiqih Ulama yang mereka pilih dan mereka ikuti.

Trus yang sekarang jadi masalah adalah, banyak orang yang tidak sanggup menerima perbedaan. Mereka menganggap hanya ada satu hukum Fiqih, yaitu wajib. Saya tidak heran dengan pandangan seperti ini. Karena mayoritas dari mereka tidak kenal apa itu Ushul Fiqih. Jadi mereka hanya menerima satu sumber, dan menjadikan apa yang mereka terima itu sebagai “suara Tuhan”.

Ada juga yang mengerti dan paham soal Ushul Fiqih. Tapi pengetahuan mereka tidak dipraktekkan menjadi sikap harian.

Jadi, pilihan untuk tidak bercadar itu sama Sahihnya dengan pilihan untuk bercadar. Maka, jalankan sesuai pilihan masing-masing. Toh nantinya setiap orang akan bertanggung jawab sendiri atas amal yang dilakukannya.

“Tapi kami wajib melakukan Amar Ma’ruf?” Sanggah mereka para pemakai Cadar. Memang, Amar Ma’ruf itu wajib, dan memang Amar Ma’ruf itu mengajak kepada kebaikan. Tapi, Amar Ma’ruf juga harus dilakukan dengan cara yang Ma’ruf.
Ma’ruf yang bagaimana? Ya dengan akhlak yang benar.

Karena yang sering terjadi adalah, perilaku orang-orang bercadar, dan para penganjur cadar, yang beranggapan bahwa pendapat mereka wajib bercadar adalah kebenaran tunggal. Sedangkan pendapat selainnya adalah salah. Bahkan Ulama yang berpendapat berbeda dengan mereka dianggap sebagai Ulama’ Syu’ dan sesat. Hal tersebut bisa dilihat bagaiman mereka memperlakukan para Ulama’-Ulama’ dan tokoh Nasional di negeri kita ini. Mulai dari celaan sampai fitnah, ditimpakan kepada beliau-beliau. Lebih parah lagi, cemoohan dan celaan itu juga dilakukan oleh anak kemarin sore yang ngajinya saja masih gagap, dan ketika didatangi untuk tabayyun, malah mewek.

Merka tidak sadar bahwa hal yang mereka lakukan Itu yang dinamakan nggak berakhlak. Ushul Fiqh tidak paham, atau kaidahnya diabaikan, sehingga akhlak terkait perbedaan pendapat ditinggalkan. Mereka berkesimpulan bahwa orang yang tidak bercadar otomatis dianggap melanggar perintah Allah SWT. Dan pelanggar perintah Allah adalah orang yang sombong, yang endingnya, orang sombong layak diperlakukan secara sombong, bahkan mereka merasa berhak menghina dan melecehkan orang yang tidak bercadar.

Mereka tidak faham bahwa muslimah yang tidak bercadar adalah mereka yang melaksanakan pendapat Fiqih yang berbeda dengan Fiqih yang mereka ikuti. Jika mereka berdakwah dengan Ma’ruf maka perbedaan ini harus dihargai, bukan untuk dihukumi sesat atau dilecehkan. Karena akhlak Islam adalah saling menghargai perbedaan. Dengan perlakuan mereka yang melecehkan Ulama’ yang berpendapat cadar tidak wajib ini saja menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sangat tidak berakhlaq.

Alangkah sayangnya, bila niat untuk mendakwahkan Islam justru berubah jadi tindakan melanggar nilai-nilai Islam. Amal baik memakai cadar, jadi tertutupi oleh amal buruk, yaitu menghina dan melecehkan orang lain yang tidak bercadar.

Padahal beramal baik tidak mebuat kita jadi wakil Tuhan, sehingga kita berwenang menghakimi orang lain sebagai sesat atau munafiq. Juga tidak membuat kita pasti masuk surga karena semuanya tergantung Rahman dan Rahim Allah SWT.