Siapa yang tak kenal Angry Bird? Ya, burung pemarah yang sering kita lihat di dunia film kartun. Pola burung ini rela mengorbankan anak atau siapa pun asalkan ia sendirk tidak hancur. Memang tidak nyata sih, tapi pola tayangan seperti inilah yang akan menjadi candu bagi generasi muda.

Kalimat diatas adalah ulasan dan kritik dari sudut pandang lain. Bisa jadi Angry Bird hanya sekedar hiburan tanpa maksud apa pun. tapi begitu 1 September 2017 media International dan media Arab Saudi menyiarkan kematian Hatf Saiful Rasul pemuda Indonesia berusia 12 tahun dalam perang bersenjata bersama pasukan ISIS di Suriah. Anggapan Angry Bird hanya khayalan tanpa maksud apa pun menjadi pudar sendiri. Karena masih ada juga orang tua yang tela mengorban kan anaknya demi mabok agama.

Dalam foto yang diunggah Reuters, Hatf Saiful Rasul, berpose dengan senjata laras panjang ketika ikut berperang bersama kelompok militan Negara Islam (ISIS) di Suriah sebelum kematiannya pada 1 September 2017. Bocah asal Indonesia ini meninggal dunia ketika usianya baru menginjak 12 tahun.

Kantor berita Reuters mencatat, Hatf termasuk 12 Jihadis Indonesia dari pondok pesantren Ibnu Mas’ud yang mencoba pergi ke Suriah pada 2015 lalu. Pesantren Ibnu Mas’ud sejak lama dikenal sebagai wadah radikalisasi dan tempat persembunyian tersangka teroris. Pada Agustus lalu, salah seorang pengajarnya ditangkap polisi karena membakar umbul-umbul merah putih.

Hatf ini merupakan anak dari Syaiful Anam alias Brekele yang merupakan terpidana pemboman pasar Tentena, Poso. Dia sudah divonis 18 tahun penjara. Link: https://m.detik.com/news/berita/861125/brekele-divonis-18-tahun-penjara. Dan Hatf berangkat ke Suriah atas izin dan perintah ayahnya.

Sebenarnya Bapaknya yang mabok agama, anaknya yang jadi tumbal. Begitulah “Angry Bird” sang burung pemarah.

Enghkau tidak faham, khoirunnas an fauhun linnas(Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya). (Din)