Sesama manusia, tak usah ngaku yang paling mulia.

Sesama Islam, tak usah klaim yang paling benar.

Sesama NU, tak usah bilang yang paling lurus.

Umat Nabi itu macam-macam, ada ahli ibadah ada pula yang suka maksiat, semuanya saudara satu bangsa.

Hidupmu terlalu serius di tengah rencana Tuhan yang misterius.

Gak ada yang diciptakan Tuhan sia-sia. 

Ahok sang penista agama yang sering ngomong jorok itu ya ada gunanya.

Habib Rizieq sang yang sering berani berkata blak-blakan itu ya ada gunanya.

Jika belum siap menghadapi semua. 

mari berprasangka baik sambil muhasabah.

NU pernah berjasa terhadap Indonesia, tapi tak berharap imbalan dari Negara.

Asal anak bangsa hidup rukun, itu sudah lebih dari segalanya.

Jika bicara imbalan, Nabi adalah orang yang paling rugi. Beliau berjuang mati matian demi Islam, tapi keluarganya tak mendapatkan jabatan.

Nabi dilahirkan di Makkah, beliau hijrah di Madinah, tapi kekuasaanya ada di Syam.

Siapa yg berkuasa di Syam ? 

Mereka adalah bani Umayah.

Walisongo berjuang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Setelah mencapai kejayaan, toh keturunan Brawijaya yang memegang kekuasaan : Raden Patah.

Kiai dan santri ikut berdarah-darah mengusir Penjajah, tapi NU tak pernah marah, saat Soekarno yang jadi presiden Indonesia.

Ah… itulah dunia. Kurang alim apa para Ulama, toh Soekarno yang Islam kejawen justru bisa mengantarkan Indonesia berdaulat.

Bagi NU asal umat Islam bisa sujud dengan tenang, santri bisa ngaji tanpa bimbang, Negara damai tanpa perang, itu sudah cukup mereka senang.

Apalagi yang dicari ?

Kyai dan santri tak pernah berpikir muluk-muluk. Apalagi sampai ngotot mendirikan Khilafah.  Sebab mereka sadar Tuhan Maha Merencana.

‏Mari kita kembali pada Khitah NU yang legowo, sumringah dan Rahmatan lil ‘alamin.

 Sambil berdoa : 

ربنا ماخلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذابا النار

Aja ngelek- ngelek sing apik, Yen ana sing elek ya didandani supaya apik nanging yo kudu sabar lan sadar. 

Sampaikan Kebenaran walaupun itu Pahit.

Ngaku wong NU kudu iso Lembar lan Jembar.