Negara maju umumnya menempatkan belajar sebagai tujuan hidup sehingga istah penyebutannya adalah “belajar sepanjang hayat atau life long education”. Berbeda dengan negara berkembang yang menempatkan belajar sebagai tujuan untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga apabila pekerjaan sudah didapatkan, maka mereka sudah tidak mau belajar lagi karena tujuannya sudah final. Dari dua mainstream inilah dapat kita sebut dengan istilah education for ends or education for means.

Pandangan yang menempatkan belajar sebagai tujuan hidup sepanjang hayat, akan selalu haus untuk sekolah dan mencari pengetahuan baru, karena mereka sadar, dengan semakin rutin belajar dan sekolah, maka semakin banyak hal yang belum mereka ketahui. Mereka memahami perintah tidak sekedar bacalah, tapi iqra’ dimaknai sebagai kata perintah yang berarti “telitilah”, dan hal tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh penuh ketekunan.

Disisi lain, pandangan yang mayoritas dimiliki bangsa berkembang adalah pemikiran bahwa belajar adalah cara mendapatkan pekerjaan. Sehingga jika sudah mendapat pekerjaan, mereka lupa bahwa mereka masih mendapat kulit luar belum sampai pada isinya. Perintah iqra’ dipahami sebagaimana arti kata sebenarnya. Terkadang pula, mereka yang sudah belajar, justru mengumpat apa yang sudah mereka lakukan gegara mereka tidak mendapatkan pekerjaan. Sehingga kekecewaanlah yang didapatkan.

Problematika kedua hal di atas adalah masalah cara pandang, sebagaimana cara pandang yang luas akan menghasilkan lompatan-lompatan yang selangkah atau dua langkah lebih cerdas. Sementara cara pandang yang kedua, cenderung stagnan dan menyalahkan kepada orang lain ketika terjadi kegagalan. Apa yang didapatkan selama belajar tidak sampai menancap dalam hati dan sekedar lewat saja.

Belajar tidak sekedar hanya menjalani rutinitas pergantian hari dan mencapai batas usia. Tapi lebih dari itu, belajar adalah proses menemukan, memahami, dan mengaplikasikan seluruh hasilnya dalam kehidupan. Selain itu, belajar butuh waktu yang lama, buktinya sepanjang hayat pun serasang kurang digunakan untuk belajar. Apalagi belajar tidak terbatas hanya diruang kelas, tapi seluruh alam dan lingkungan yang ada adalah tempat berfikir, dan belajar memaknai hidup, untuk menggapai cita-cita hidup yang sempurnayakni kebahagiaan dunia dan akhirat.