Hoak kok terbaik ya?, memangnya ada hoak kategori sedang dan kategori tidak baik? yang namanya hoak, tetaplah tidak baik. Kategorisasi baik dan tidaknya adalah sebagai indikator bahwa pelaku secara tidak langsung menasbihkan diri sebagai pembohong ulung. Sehingga kebohongan yang sudah ada, masih kalah tingkat kebagsatannya dibanding kebohongan si pelaku.

Seringkali orang mengucap “ambilah hikmahnya”, tapi saat memaknai hikmah itu apa? banyak yang menafsiri hikmah dengan penafsiran sesukanya. Padahal hikmah yang dimaksud adalah manfaat atau guna dari sebuah kejadian. Misalnya pada kasus hoak Ratna Sarumpaet, hikmah apa yang bisa diambil? Kita bisa mengambil pelajaran bahwa semua yang datang dari kawan, belum tentu baik, dan semua yang datang dari lawan belum tentu jelek.

Sikap grusa-grusu mengambil keputusan menandakan emosi yang tidak stabil. Karakter model begini, akan membahayakan jika dilakukan seorang pemimpin. Pasalnya pemimpin adalah panutan dan pengambil keputusan. Jika panutannya grusa-grusu dalam mengambil keputusan, maka kegaduhan akan terjadi.

Hikmah yang lain dari hoak yang dilakukan Ratna Sarumpaet adalah, jangan sampai kita melakukan hal serupa, karena dampak dari perbuatan menyebar koak tersebut tidak sekedar selesai dengan meminta maaf. Sampah digital yang ditinggalkan menjadi kenangan pahit yang menjadikan label pelaku sebagai tukang bohong. Sehingga apa pun yang dilakukan setelah kebohongan itu, akan sulit membuat orang langsung percaya padanya. Walaupun itu sebuah kebenaran.

Hikmah selanjutnya adalah mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berteman di dunia nyata dan dunia maya. Karena secara tidak langsung, teman memiliki kontribusi pada pemikiran dan perbuatan kita. Ibarat kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka aroma wangi akan kita dapatkan, tapi saat berteman dengan tukang arang, bahu sangit aranglah yang akan kita peroleh.

Belajar dari kejadian di atas, maka perlu melakukan selfcorecting terhadap perilaku kita dalam berfikir, berbuat dan bermedia sosial. Ada batas yang harus kita jaga dalam beretika. Sehingga keberadaan kita, tak sekedar ada, tapi membawa manfaat bagi sesama.

Selamatnya manusia diawali dari menjaga lisannya dari berucap hoak dan menjaga jarinya untuk tidak mengetik dan menshare informasi sebelum melakukan tabayyun kebenaran info yang diterima. Andaikata informasi yang diterima adalah benar adanya, maka perlu dipertanyakan, apakah manfaatnya saya ngeshare informasi tersebut? Sekedar dianggap sebagai orang yang paling tahu, atau memang ada manfaat lain?

Indonesia hari ini sedang berada dalam situasi tahun politik jelang pemilu 17 April 2019. Segala sesuatu pasti dikaitkan dengan politik. Kondisi ini bukan berarti membolehkan kita melakukan segalanya demi mencapai satu tujuan kekuasaan. Berpolitiklah dengan cara yang mendidik generasi. Jangan meracuni generasi bangsa dengan tinggalan perbuatan bodoh dan memalukan.

Bangsa ini perlu keteladanan dari para tokoh bangsa untuk menjadikan Indonesia tetap utuh dalam bingkai Kebhinekaan. Para tokoh bagsa harus sadar bahwa apa yang mereka lakukan, membawa dampak pada perilaku masyarakat. Jika keteladanan yang muncul adalah karakter Sengkuni, maka jangan salahkan jika rakyatmu meninggalkanmu. Masyarakat sekarang bukanlah pentol korek yang punya kepala tapi tidak punya otak sehingga jika digesek langsung nyala. Masyarakat sudah cerdas dan mampu membedakan baik dan buruk, bahkan mereka juga mampu membedakan profokasi dan informasi.