Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita. Sebulan penuh kita belajar membunuh hawa nafsu dengan berpuasa tidak hanya menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dari sejak fajar sampai matahari terbenam, tapi juga menahan ucapan dan lidah kita dari hal-hal yang menyebabkan berkurang atau menghanguskan pahala puasa kita.

Kita telah menjalani puasa, sebagai latihan awal menahan amarah. Kita sering menghadapi problem dalam segala sektor kehidupan baik domain domestik maupun publik.  Tentu, hal ini harus bisa diterapkan untuk bulan selanjutnya yaitu 11 bulan. Sebab,  ciri utama ibadah diterima oleh Allah swt adanya pengaruh dalam kehidupan riil.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : ( لَا تَغْضَبْ ). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (لَا تَغْضَبْ ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah RA  ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, lalu Nabi SAW bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR. al-Bukhari].

Hadis ini secara riil dapat dibuktikan kebenarannya melalui hasil penelitian ilmiah sebagaimana dilakukan University of Valencia yang menemukan bahwa  orang yang marah memiliki kondisi pikiran yang negatif dan adanya peningkatan denyut jantung, tekanan darah dan testosteron, tapi kadar kortisol agak menurun.

Dalam penelitian lain dikemukakan bahwa fluktuasi kadar hormon serotonin terjadi naik turun  ketika seseorang kelaparan dan keadaan stres.