Pasca Kemerdekaan sampai pada tahun 1960 pergerakan politik di Indonesia bisa kita sebut sebagai politik aliran. Sebagaimana terlihat ideologi Marxisme-Komunisme diwakili oleh Partai Komunis Indonesia(PKI), Ideologi Kapitalis secara defacto diwakili oleh Partai Sosialis Indonesia( PSI) memang agak kontras ada partai sosialis mewakili ideologi Kapitalis….lha tapi nyatanya begitu kok. Ideologi Nasionalis diwakili Partai Nasionalis Indonesia(PNI), sementara Ideologi Islam Modernis diwakili Masyumi dan Ideologi Islam Nusantara(Islam Nasionalis) diwakili Partai NU. Mereka bertarung sejak menjelang kemerdekaan dan berpuncak pada sidang konstituante 1959.

Politik aliran dan ideologi itu diejawantahkan dalam bentuk bermacam-macam,tidak hanya pada kebijakan politik tapi juga pada lambang dan warna. Misalnya warna Merah identik dengan PKI dan PNI, warna Biru identik Masyumi dan warna Hijau identik dengan NU…bahasa anak sekarang”ijo-ijo Benderane NU”ini sesungguhnya adalah pengejawantahan ideologi.

Tidak berhenti pada warna saja, ternyata pemakaian istilah juga demikian, misalnya dalam pemberian istilah hari lahir partai, saat itu masing-masing aliran ideologi berbeda dalam menyebut istilah hari lahir partai. Contohnya PKI menyebut hari lahir dengan ULTAH, Sementara PNI menyebut HUT, Partai Masyumi menyebut dengan bahasa Arab MILAD, dan NU menyebut HARLAH singkatan dari Hari Lahir.

Sangat Kontras memang, ketika kita telaah secara detail, misalnya PKI yang merasa paling agresif tetapi dalam membuat istulah justru ada unsur romantis dan pasif, karena pasangan dari ULTAH adalah PERINGATAN jadi terkesan saat mendengar ULTAH PKI, maka asumsi bawah sadar kita akan terbawa pada pemahaman PERINGATAN PKI. Sementara saat itu Partai NU yang mayoritas adalah para Ulama’ memilih istilah HARLAH yang terkesan dinamik dan revolusioner karena kata pasangan harlah adalah PERAYAAN, contohnya Perayaan Harlah NU ke 40 tahun 1966. Sementara istilah yang dipakai PNI HUT juga terlalu pasif dan tidak memiliki gelora bahkan tidak menunjukkan progresivitas sebagai partainpenguasa saat itu.

Penggunaan istilah tersebut tidak berhenti setelah terjadi proses deideologisasi dan dealiranisasi politik yang dilakukan Orde Baru. Istilah tersebut terus digunakan sampai sekarang, misalnya PNI dengan segala turunannya misalnya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI) menggunakan istilah HUT. Begitu juga PKI dengan Pemuda Rakyat, Lekra, Gerwani yang semuanya menggunakan istilah ULTAH. Kelompok Islam Modernis mulai Muhammadiyah, Partai Masyumi, dan turunannya seperti Gerakan Pemuda Islam Indonesia(GPII), Himpunan Mahasiswa Islam(HMI), Pelajar Islam Indonesia(PII), Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah(IMM), Persatuan Islam(Persis), Al-Irsyad, Majelis Mujahidin, Hizbut Tahrir Indonesia(HTI),KAMMI yang berafiliasi ke PKS semuanya sama dengan Masyumi dan Muhammadiyah yang menggunakan istilah Milad.

Demikian Pula istilah HARLAH yang saat itu digunakan Partai NU, sampai saat ini tetap digunakan NU sebagai Ideologisasi yang juga dipakai oleh Muslimat NU, ANSOR, FATAYAT, PMII, IPNU dan IPPNU. Jadi, jika ada yang bertanya apa bedanya ULTAH, HUT, MILAD, dan HARLAH? Bedanya adalah pada sejarah pergerakan politik dan ideologisasi masing-masing Partai yang berawal pada Pasca Kemerdekaan Republik Indonesian Sampai tahun 1960. Yang tentunya ideologisasi yang dimaksud sebagai wujud penegasan identitas.

Jika kemudian di era sekarang ideologisasi ini memudar dan tidak diketahui atau dalam bahasa jawa disebut”digebyah uyah”(baca:dianggap sama rata sama rasa) maka hal ini terjadi karena memudarnya politik ideologi pasca reformasi yang mengarah pada pragmatisme dilingkungan masyarakat. Yang akhirnya masyarakat hanya”ela-elu”(sokor manut/hanya ngikut) mana yang lebih populer. Pertanyaan saya, Ingin jadi wong ela-elu atau yang punya ideologi?…:mrgreen::mrgreen::mrgreen: