Penulis: muhammad alimuddin

Prabu Harian Kencana

​Prabu Hariang Kencana atau Mbah Panjalu, berdasarkan kisah yang di ceritakan secara turun temurun dari juru kunci yang tidak lain adalah keturunan dari Prabu Hariang Kencana, bahwa penyebaran agama islam di daerah panjalu di  juru kunci. Sejarah Syeh panjalu atau Syeh Ali bin Muhammad bin Umar Putra dari prabu Boros ngora atau syeh abdul iman. Prabu Boros Ngora atau syeh abdul iman diceritakan bahwa beliau adalah putra dari Prabu Cakra Dewa yang di tugaskan untuk mencari ilmu sejati yang nantinya akan di jadikan ageman kerajaan dan rakyat panjalu. Secara singkat diceritakan, bahwa prabu boros ngora diberikan sebuah gayung yang berlubang oleh ayah handanya yaitu Prabu Cakra Dewa, yang harus di isi dengan air dan di bawa pulang ke panjalu dalam keadaan selamat atau tidak bocor. Beliau mencari ilmu tersebut diseantara pulau jawa, dan ternyata tidak ada yang berhasil, kemudian beliau menyebrangi pulau sumatra sampai ke Jazirah arab. Di sebuah padang pasir, beliau berteduh di bawah batu, merenung dan berfikir apakah ada ilmu semacam itu sambil melihat gayung yang penuh lubang yang harus diisi dengan air dan harus dibawa dengan selamat ke Panjalu. Kemudian datang seorang laki-laki tua yang membawa tongkat datang pada beliau dan mengajak ke rumahnya. Laki- laki itu berjalan, kemudian Prabu Boros ngora mau mengikuti dari belakang. Tapi kebetulan tongkatnya tertinggal dan tertancap di tanah. Prabu boros ngora bermaksud mengambil tongkat itu dengan tangan satu, tapi tongkat...

Read More

Rewang Budaya Nusantara

​Indonesia memang kaya akan tradisi dan budaya yang merupakan warisan leluhur yang dilestarikan oleh masyarakat di wilayahnya. Beberapa diantaranya ada yang berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi ada  pula yang murni merupakan ritual suatu daerah tertentu. Salah satu tradisi yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia adalah gotong royong membantu saudara ataupun tetangga yang sedang mengadakan hajatan yang dikenal dengan istilah rewang. Tradisi ini rata-rata masih begitu kental di daerah pedesaan dan sangat jarang di daerah perkotaan yang penuh dengan kesibukan individu. Rewang biasanya diawali dari tuan rumah yang berkunjung ke rumah tetangga dan saudara pada jauh-jauh hari sebelum ia mengadakan hajatan dengan tujuan meminta bantuan tenaga untuk mempersiapkan acara hajatannya sampai selesai. Beberapa hari sebelum hari H mereka akan datang dan mulai mengerjakan apapun demi suksesnya hajatan itu. Hampir semua yang datang ini membawa bahan makanan mentah ataupun makanan yang sudah siap saji untuk membantu kebutuhan hajatan. Nah, disinilah rewang mulai berlangsung.  Meskipun terlihat sederhana, tetapi makna yang terkandung sangat mendalam. Silaturahim terjalin begitu unik, keakraban muncul di antara mereka, baik yang sudah kenal maupun yang awalnya salinh asing. Seakan mereka adalah saudara yang sudah lama tidak bertemu sehingga saat itu mereka melepas rasa kangen dengan canda tawa yang begitu renyah. Tidak jarang dari sini terjalin hubungan kekeluargaan baru, ada yang saling menawarkan jasa, barang bahkan sampai pada menawarkan sebuah perjodohan.  Seharian penuh mereka mempersiapkan hajatan dan esok harinya akan...

Read More

Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khatib Khutbah?

Di antara shalat yang disunnahkan ialah tahiyatul masjid, yaitu shalat dua rakaat ketika masuk masjid sebelum duduk. Menurut Imam al-Nawawi, kesunnahan shalat ini sudah disepakati oleh mayoritas ulama (ijma’) dan makruh meninggalkannya kecuali ada udzhur . Kesunnahan mengerjakan shalat ini didasarkan pada hadis riwayat Abu Qatadah, Rasulullah SAW berkata: إذا دخل أحدكم المسجد فليصل ركعتين قبل أن يجلس Artinya:“Apabila kalian masuk masjid hendaklah shalat dua raka’at sebelum duduk” (HR: Ibnu Majah)    Hadis ini menunjukan secara jelas anjuran shalat tahiyatul masjid. Namun persoalannya, pada saat shalat jum’at, khususnya setelah khatib naik mimbar,  sebagian orang seringkali merasa bingung untuk menentukan pilihan: apakah mengerjakan shalat sunnah atau langsung duduk demi mendapatkan kesunnahan menyimak khutbah. Persoalan ini pernah melanda seorang sahabat pada masa Rasulullah. Kebetulan pada waktu itu Rasulullah SAW bertindak sebagai khatib jum’at. Dikarenakan datang terlambat, demi menyimak khutbah keagamaan, sahabat tadi langsung duduk dan tidak shalat tahiyatul masjid. Rasul pun akhirnya menegurnya. Beliau berkata:  صل ركعتين خفيفتين قبل أن تجلس Artinya:“Shalatlah kamu dua rakaat dengan ringkas (cepat) sebelum duduk” (HR: Ibn Hibban)    Rasulullah SAW tetap memerintahkan shalat dua raka’at sekalipun khutbah jum’at sedang berlangsung. Ini menunjukan saking sunnah dan utamanya shalat tahiyatul masjid. Khusus bagi orang yang terlambat, dianjurkan mempercepat shalatnya agar dapat mendengar khutbah jum’at. Berdasarkan hadis ini, Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab mengatakan:      واما إذا دخل والإمام يخطب يوم الجمعة أو غيره فلا يجلس حتى يصلي التحية ويخففها     “Apabila...

Read More

Revolusi Media

Tumbuhnya kelas menengah muslim perlu di imbangi dengan strategi dakwah yang tepat dan efektif. Revolusi media dengan tampilannya media sosial menjadi bagian penting untuk menerapkan dakwah di era digital. Di indonesia, pengguna internet semakin meningkat, dengan akses media sosial yang terintregasi. Para pengguna media sosial, cenderung menyampaikan pesan, pikiran dan mengakses informasi dari media-media baru sebagai platform visioner. Data yang di rilis WeAreSosial di tahun 2015 saja pengguna Internet di Indonesia sudah mencapai kisaran 72,7 juta meliputi berbagai element masyarakat. Dari data ini sekitar 72 juta merupakan pengguna aktif media sosial, yang diakses dari 60 juta akun media mobile....

Read More

Hormati Pendapat tak berarti menerimanya

Pakar tafsir Al-Qur’an Quraish Shihab mengajak kalangan pesantren dan seluruh masyarakat untuk senantiasa menghormati perbedaan dan mengembangkan budaya Islam yang damai. Ia  menegaskan, menghormati pendapat yang berbeda bukan berarti menerimanya. Ia menyampaikan hal itu saat berkunjung ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Senin (26/12), bersama keluarga besar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta. Forum dialog digelar di Aula Gedung Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng dan diikuti oleh ratusan kiai dan pengajar Al-Qur’an dari seluruh Jawa Timur. “Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki budaya yang sangat plural. Karena itu, semua pendapat yang berbeda, harus kita hormati. Dan, menghormati pendapat yang berbeda itu bukan berarti menerimanya,” kata ayah dari presenter Najwa Shihab ini. Quraish lalu mencontohkan bagaimana muslimah Indonesia zaman dulu hanya mengenakan kerudung yang diselempangkan di kepala, dan tetap menampakkan sebagian rambut mereka. Berbeda dengan jilbab yang dikenakan perempuan zaman sekarang, yang menutupi seluruh kepala. Menurut dia, para ulama zaman dahulu membiarkan praktik tersebut bukan tanpa dasar. Pasalnya, setiap pemikiran dan praktik keagamaan tidak bisa dilepaskan dari budaya yang berlaku di masyarakat. “Pasti para ulama waktu itu mempertimbangkan konteks budaya yang berkembang di masyarakat,” ujarnya. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an ini pun mengajak kalangan pesantren untuk menjadikan konteks budaya sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan pemikiran dan studi Al-Qur’an. “Dalam konteks studi dan pengembangan nilai-nilai Al-Qur’an, jangan sampai penafsiran kita tidak sejalan dengan budaya yang berkembang di masyarakat,” imbuhnya. Meski demikian, menurut lulusan...

Read More
  • 1
  • 2

Video Terbaru

Loading...