Penulis: nur udin

Copy Paste dalam Pandangan Imam Syafi’i

Adanya media sosial dewasa ini,memudahkan kita untuk kebanjiran berita dan informasi. Seluruh kejadian di belahan dunia manapun, bisa kita dapatkan dengan mudah. Disisi lain,adanya informasi yang menyesatkan atau hoax juga melimpah ruwah.Bahkan banjirnya informasi hingga pada taraf yang amat liar. Informasi dengan mudah diterima seseorang lalu dibagikan kembali, diterima orang lain lalu didistribusikan lagi, dan seterusnya. Facebook, grup-grup Whatsapp, Twitter, Instagram, BBM, Line, atau sejenisnya pun disesaki pesan berantai yang entah benar atau salah, entah faktual atau bohong dan hanya beralibi dengan kalimat” dari grup sebelah”. Celakanya bila kabar itu salah/bohong, pasti ada pihak yang dirugikan. Fenomena copy-paste atau...

Read More

Dakwah Merangkul, Bukan Memukul.

​Suri Tauladan seluruh umat Islam adalah Rasulullah Muhammad saw. Beliau dalam masa 23 tahun telah berhasil membentuk peradaban baru yang rahmatan lil alamain. Ada tiga hal mendasar yang ditanamkan Rasulullah dalam mengawali pidato saat hijrah ke Madinah bersama para Muhajirin.  Tiga hal dalam sambutan Rasulullah ini yang jika kita cermati,maka seluruh aspek kehidupan sosial/amaliyah dan ubudiyah telah terpenuhi di dalamnya. Tiga hal tersebut terurai dalam kalimat mulia ” Ya Ayyuhannas, Afsyus Salam, wa Ath’imutthoam, wa Shollu fil lail wannaasunniyam” Wahai Manusia semua(para hadiri), tebarkan salam(perdamaian), dan berikan makanan(berbagilah),dan Sholatlah(beribadahlah) disaat para manusia tertidur). Pemilihan frase kalimat “Ya Ayyuhannas” ini menunjukkan kejelian sosial dan kecerdasan Kanjeng Nabi Muhammad saw tidak ada tandingannya. Dengan lafadz Ayyuhannas, akan berbeda rasa jika yang terucap adalah ya Ahlal Madinah atau Ya Ayyuhalladzina aamanu, kita dapat fahami,pada kalimat Ya Ayyuhannas ini, aspek yang ingin dicapai adalah persamaan dan persatuan. Karena jika persatuan dan persamaan sudah tercapai,maka tujuan lain tinggal mengikuti. Selanjutnya lafadz Afsyussalam yang bisa dimaknai tebarkan salam, yang dalam teknisnya adalah saling sapa saat bertemu. Atau dimaknai dengan tebarkan perdamaian. Karena diawali saling sapa dan saling senyum saat bertemu, maka perasaan satu saudara, satu bangsa, baik secara teretori maupun secara ragawi sudah nyambung. Intinya dengan saling menebarkan salam,perdamaian akan mudah terwujud. Disinilah Rasulullah meletakkan pondasi berbangsa bagi Muhajirin dan Ansor. Lafadz Wa Ath’imuthoam yang artinya berikanlah makanan, saat Hijrah Kanjeng Nabi Muhammad dan rombongan...

Read More

Basmalah dan Perdamaian

​Setiap mengawali pekerjaan,kita diperintahkan mengawali dengan bacaa Basmalah. Baik pekerjaan berupa kegiatan fisik maupun non fisik, maka Basmalah dimulakan untuk membuka. Basmalah yang jika dilafalkan berbunyi Bismillahirrahmaanirrahiim memiliki arti “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”. Jika dimaknani ala pesantren “Bismillaahi ngawiti ingsun kelawan nyebut asmane Allah, yang maksudnya adalah kepasrahan dan pengakuan seorang hamba kepada Allah dengan menyandarkan semua kemampuan melaksanakan pekerjaan adalah karenaNya. Arrahmaani kang welas asih ing dalem dunyo,maksudnya adalah Allah sang maha pengasih, dan tidak pilih kasih,siapa pun dikasihi. Pada lafadz Arrahmaani juga mengandung maksud bahwa sifat pengasih Allah diberikan kepada semua makhluk ciptaannya,tanpa membedakan suku,ras,agama,hewan,tumbuhan,semuanya dikasihi. Bahkan pada lafadz Arrohmaani, bisa dimaknani “kang welas asih dumateng wong Islam dan Non Islam”, jadi, jika ada doa dan harapan orang Non Islam,ini memang berkat sifat pengasih Allah kepada semuanya. Sedangkan lafadz Arrohiimi kang welas asih ing dalem akhirat bloko”,maksudnya adalah Allah memberikan kasing sayangNya khusus bagi umatnya yang Muslim,Mukmin,dan Muttaqin nanti di Akhirat. Jadi Non Muslim tidak mendapat kasih sayang Allah saat di Akhirat. Jika kita tarik benang merah dari lafadz Bismillaahirrahmaanirrahiim dengan kondisi berbangsa saat ini, maka akan kita dapati ketimpangan pemahaman pada lafadz Arrahmaani yang mana kita pinginnya kasih Allah hanya untuk umat Islam saja, sehingga yang Non Islam dikafir-kafirkan. Sayyidina Ali pernah berucap”jika engkau mencari alasan persamaan agama tidak ketemu, maka untuk saling menghormati sesama, carilah persamaan bahwa dia adalah...

Read More

Piknik Biar Nyentrik,Jangan Lupa Bahagia di Tengah Dilema Etnik

Kereta Dhoho Jurusan Surabaya lewat Kertosono telah tiba di stasiun Tulungagung tepat pukul 05: 59 WIB terdengar dari mikrofon stasiun yang disambut sorak kegirangan rombongan kami yang bertujuan menggunakan fasilitas ini untuk piknik di libur sekolah tahun ini. Kami satu rombongan 8 orang sengaja memilih moda transportasi yang dikendalikan oleh Masinis ini karena permintaan si kecil dan keponakan yang penasaran pingin mencoba naik kereta api. Lho …Thomase Endi kok gak melu? Pertanyaan dari keponakan saat kita sudah duduk di dalam kereta. Yang disusul pertanyaan lain dengan keluguan dan fantasi dunia film kartun. Bahkan ada keponakan yang bertanya di saat kereta sudah sampai Kertosono” iki wis jalan ya keretane”, Subhanallah sedemikian besar halusinasi dan pengaruh dunia maya kepada dunia nyata. Perjalanan kami penuh warna pertanyaan polos bocah kecil ndeso yang punya keinginan tinggi untuk tahu apa yang mereka lihat, termasuk ketika ada penumpang yang pindah tempat duduk dan digantikan penumpang lain yang menunjukkan karcis dengan nomor bangku tersebut, ada yang bertannya apa makanan kereta?, sawah milik siapa?, Kereta lewat jembatan nyebrang sungai kok gak basah?, bahkan pertanyaan “ naik kereta kok hanya pakai karcis? Kok gak bayar pakai uang?, yang semua pertanyaan mereka kami jelaskan satu persatu agar mereka faham. Bahkan saat sampai di Kertosono Gerbong Kami yang awalnya berada di bagian paling belakang, berubah menjadi paling depan karena bagian Lokomotif depan berpindah dan berganti posisi. Perpindahan ini diringi bacaan...

Read More

Berkah Kuliner Gus Dur

​Membincang sosok Gus Dur memang multidimensi. Ibarat sumber mata air yang tak pernah kering walaupun diambil airnya setiap hari. Diantara sisi menarik Gus Dur adalah kebiasaan kuliner Gus Dur yang masyhur sejak beliau masih di pondok maupun saat menjadi mahasiswa di Mesir, Baghdad dan saat berkelana di Eropa. Salah satu tulisan AS Hikam dalam buku “Gus Dur ku Gus Dur Anda Gus Dur Kita” menuturkan bahwa Gus Dur saat kuliah di Mesir dan Baghdad, adalah koki handal yang mampu memasak dengan rasa lezat dan biaya sangat murah. Dalam cerita tersebut dituturkan bahwa di asrama mahasiswa, setiap mahasiswa mendapat giliran untuk menjadi koki yang sekaligus mencari bahan belanjaan dan melaporkan berapa biaya masak untuk hari itu.  Saat yang paling ditunggu mahasiswa di basecamp adalah saat Gus Dur menjadi koki dengan menu andalan Sup Kepala Ikan, lezat tapi murah. Pada suatu saat pas giliran Gus Dur masak, tiba-tiba ada kegiatan mendadak yang mengharuskan Gus Dur tidak masak dan digantikanlah oleh kawan Gus Dur. Sewaktu sampai di pasar tempat biasa belanja, tiba-tiba kawan Gus Dur ini ditegur oleh penjual ikan, “mana kawan kamu si Abdurrahman itu?, Dia itu orang hebat, sangat sayang pada Kucing. Setiap belanja disini, si Abdurrahman selalu membeli kepala Ikan untuk 20 kucing piaraannya, makanya aku selalu memberikan dengan harga murah kepala ikan itu untuk temanmu si Abdurrahman”. Sang Kawan Gus Dur kaget dan buru-buru beralih dari sang penjual...

Read More

Video Terbaru

Loading...