Penulis: nur udin

MAKHLUK TERSOMBONG!

  Merasa paling pintar, ya itu sombong. Merasa paling cantik, paling tampan, memamerkan harta… ya, itu sombong. Namun adakah yang lebih sombong daripada merasa diri lebih suci, lebih mulia? Adakah yang lebih sombong daripada mengklaim surga untuk anda dan menyebut yang lain penghuni neraka? Bukankah sebuah kesombongan yang nyata, ketika kau menghujat yang lain sebagai sesat, kafir, munafiq… sebab saat kau mengatakan itu, anda merasa lebih suci? Agama memang mengajarkan ciri-ciri kafir, sesesat, munafiq. Tetapi dalam konteks keseharian, tidak elok melontarkan hal tersebut kepada orang lain. Orang-orang yang mengerti, akan merasa malu mengatakan perkataan-perkataan seperti itu karena dia tahu hal itu sangatlah tidak PANTAS untuk dikatakan. Ketahuilah, keimanan adalah wilayah hati. Dan soal hati, adalah wilayah Tuhanmu. Terlalu sombong jika kau merasa lebih tahu hati seseorang daripada Tuhanmu. Dan perhatikanlah ulama’-ulama’ dan tokoh-tokoh masyarakat kita dengan wawasan yang luas, ilmu tinggi… Tetapi mereka sangat rendah hati, jarang sekali menghujat yg lain sebagai sesat, karena dia tahu hal itu justru akan merendahkan dirinya. Sebaliknya, dia tampil dengan kata-kata yang sangat menyejukkan, mendamaikan, memuliakan. Namun perhatikanlah kata-kata dari orang-orang yang merasa paling suci itu. Sangat royal kopar kafir, sesat, munafiq… Semua surga sudah diklaim, dikapling, tidak ada lagi yang tersisa. Ulama moderat dicap sesat, ulama toleran dicap munafiq. Hah, hebat! Hebat sekali kesombongannya! Bukankah dia berkata hanya untuk menelanjangi dirinya sendiri bahwa dia adalah sombong? “Maka janganlah mengatakan dirimu suci. Dialah...

Read More

NU PAGAR BANGSA

Jika seseorang ingin menghancurkan rumah, maka hancurkanlah terlebih dahulu pagarnya, begitulah pepatah yang berbunyi. NU telah menjadi pagar Indonesia semenjak NU berdiri pada 31 Januari 1926, telah setia menjaga kedaulatan NKRI dan tetap konsisten kepada dasar negara yaitu Pancasila dan UUD. Perjuangan NU bukan hanya omong kosong, mulai dari santri dan para kyai ikut terjung langsung ke medan perang melawan penjajah yang telah merobek bangsa ini, bahkan Muslimatpun ikut berperang. Jika teman-teman tahu bahwa di NU Muslimat ialah perkumpulan ibu-ibu NU, mereka rela memegang senjata untuk melawan penjajah. Pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa bahwa seluruh bangsa Indonesia harus berjihad melawan penjajah, Sehingga pada hari pahlawan 10 November, berkat resolusi Jihad yang difatwakan KH. Hasyim Asyari, kemudian digaungkan oleh Bung Tomo, Surabaya mampu mengusir tentara sekutu. Inilah fatwa Jihad, Jihad melawan penjajah demi keutuhan bangsa bukan Jihad melawan bangsanya sendiri dengan cara keji untuk merebut kekuasaan. Ketika Indonesia Merdeka, maka yang pertama dirumuskan ialah dasar negara. Salah satu panitia sembilan yaitu KH. Wahid Hasyim, ayahanda KH. Abdurrahman Wahid. Ketika ada keputusan untuk menghapus kata “Menjalankan sesuai Syariat Islam” KH. Wahid Hasyim setuju sehingga Indonesia tanpa lebel Islam harus bertoleransi kepada wilayah yang penduduknya mayoritas non Muslim. Perjuangan NU dalam sejarah sangat panjang. Mendapatkan kemerdekaan tidak semudah HTI demo dijalan untuk mendirikan khilafah, Bukan seperti ISIS dan teroris lainnya dengan cara meneror bangsanya sendiri, Bukan seperti Kelompok...

Read More

Mataraman dalam Perspektif Historis

Menilik nama ”Jawa” yang melekat pada ”Jawa Timur”, sekilas menumbuhkan kesan bahwa sifat sosial dan budaya masyarakatnya pasti monokultur. Kenyataannya tidak. Jawa Timur sangat plural, beragam. Budayawan Universitas Jember, Ayu Sutarto (2004), membagi wilayah Jatim ke dalam sepuluh tlatah atau kawasan kebudayaan. Tlatah kebudayaan besar ada empat, yakni Jawa Mataraman, Arek, Madura Pulau, dan Pandalungan. Sedangkan tlatah yang kecil terdiri atas Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep). Tlatah kebudayaan Jawa Mataraman berada di sebelah barat. Wilayahnya paling luas, membentang dari perbatasan Provinsi Jawa Tengah hingga Kabupaten Kediri. Dinamai seperti ini karena masih mendapat pengaruh sangat kuat dari budaya Kerajaan Mataram, baik pada masa Hindu-Buddha maupun era Kesultanan Mataram Islam yang berpusat di Yogyakarta dan Surakarta. Karena itu, adat istiadatnya pun mirip. Tlatah ini dapat dibedakan lagi ke dalam subwilayah kebudayaan yang lebih kecil. Budayawan Dwi Cahyono membaginya menjadi Mataraman Kulon (Barat), Mataraman Wetan (Timur), dan Mataraman Pesisir. Pembagian ini didasarkan pada jejak sejarah dan budaya lokal yang berkembang di sana. Bahasa menjadi ciri yang paling mudah untuk membedakan ketiganya. ”Dari segi kedekatan budayanya dengan Jawa Tengah, Mataram Kulon lebih kuat. Bahasa sehari-hari yang digunakan lebih halus dibandingkan Mataram Wetan. Wilayahnya merupakan bekas Keresidenan Madiun,” ulas pengajar Universitas Negeri Malang ini. Sebelah timur Mataraman adalah tlatah Arek. Batas alamnya adalah sisi timur Kali Brantas. Sungai ini menjadi penting sejak abad keempat, baik segi perdagangan...

Read More

Pelatihan Cyber Dakwah Lakpesdam NU Tulungagung

Kegiatan pelatihan Cyber Dakwah LAKPESDAM NU Tulungagung yang dilaksanakan pada Sabtu, 24 dan Minggu 25 Desember 2016 bertempet di Aula PCNU Tulungagung. Pelatihan ini bertujuan untuk membidik dakwah di dunia maya yang belum tergarap secara maksimal oleh PCNU Tulungagung. Sebagaimana kita ketahui, dakwah di dunia maya saat ini masih didominasi oleh situs-situs yang menebar kebencian dan permusuhan. Oleh karenanya setelah dilaksanakannya pelatihan Cyber dakwah ini, seluruh peserta dapat mengambil peran dalam berdakwah di dunia maya dengan menampilkan dakwah yang ramah, santun, dan mencerahkan umat. Peserta yang hadir dalam pelatihan ini adalah perwakilan dari: PC RMI Tulungagung, PC IPNU dan...

Read More

Video Terbaru

Loading...