Penulis: nur udin

Hadrotus Syekh

Gelar yang disematkan oleh ulama di tanah Haromain kepada dua ulama nusantara dan salah satunya adalah K.H Hasyim Asy’ari pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama dan satunya adalah seorang syarifah dari Palembang. Gelar Hadrotus Syekh diberikan kepada seseorang yang telah mampu menghafal 6 kitab hadist besar beserta sanad dan matannya. Diantara 6 kitab hadist tersebut adalah Kitab hadist karya Imam Bukhori, Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi, Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah. Dalam hal ini, mbah Hasyim hafal diluar kepala semua isi kitab tersebut yang jumlah hadistnya ada ratusan ribu. Bermodalkan pengetahuan agama dan kemampuan berdakwah serta kemampuan memimpin, kemudian mbah Hasyim yang sudah punya pondok dan santri dari berbagai penjuru nusantara, lantas mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai upaya membendung bahaya Wahabi yang menguasai tanah Hijaz dengan membunuh Syarif Husain generasi terakhir Turki Ustmani. Sekilas kita akan melihat kondisi berbeda hari ini, jika mbah Hasyim saja sudah ngopeni umat, dan santri masih menyempatkan membuat organisasi sebagai wadah perjuangan menegakkan Ajaran Aswaja li i’lai kalimatillah, maka pertanyaan bagi yang kiai dan tak mau berjuang di NU, apakah anda lebih alim dan lebih pinter dari mbah Hasyim Asy’ari? Selanjutnya, mengapa mbah Hasyim dan para Ulama’ mendirikan Nahdlatul Ulama’ saat itu? Selain untuk membendung pengaruh Wahabi yang mulai dikumandangkan di Hijaz, alasan dibentuknya NU adalah karena aspirasi Ahlussunnah wal Jama’ah tidak bisa dititipkan kepada organisasi lain. Jika dahulu, mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab...

Read More

Medsos dan Tren Politik 2019

Ketika sebuah kata disebut di dalam al Qur’an, maka kata tersebut memiliki sejarah, peran, fungsi atau ada sebab lain. Bahkan jumlah pengulangan penyebutannya juga memiliki maksud tersendiri. Misalnya nama Fir’aun disebut 1 kali dan Ali Fir’aun disebut 6 kali. Menurut berbagai sumber, pengulangan penyebutan Ali Fir’aun tersebut menunjukkan bahwa Ali Fir’aun (orang-orang yang mengitari Fir’aun) lebih berbahaya dibandingkan Fir’aun. Jadi tidak salah jika siapa pun pemimpinnya, justru yang terpenting adalah melihat siapa yang mengitari sang pemimpin. Dalam konteks Pilpres 2019 penting melihat siapa yang mengitari kedua pasang capres cawapres. Misalnya kategori ulama, akademisi, negarawan, dan tokoh muda, silahkan cermati dan teliti masing-masing personal yang mengitari kedua pasang capres. Teliti rekam jejak visual maupun rekam jejak akhlaq dari perjalanan masing-masing orang yang mengitari kedua capres. Secara garis besar, saya mencatat ada tiga tren perubahan perilaku politik yang berbeda dari perilaku politik 2014 dalam kontestasi pemilu dan demokrasi. Ketiganya adalah: Semakin maraknya hoak dan kampanye hitam, kamuflase politik, dan politisasi masjid. Hoak dan kampanye hitam memang bukan hal baru dalam percaturan politik, derasnya hoak dan kampanye hitam pada pemilu 2019 seakan semakin sulit menemukan orang yang waras tanpa pembahasan politis. Semua gerak masyarakat langsung diposisikan berhadapan antara kawan dan lawan, singkat kata, sebutan yang muncul kalau bukan 01 ya 02. Kehidupan dan segala aspeknya seakan dipaksa untuk mengerucut pada dua pilihan tersebut. Sedangkan kamuflase politik adalah, retorika palsu yang sengaja disusun...

Read More

Memilih Pemimpin bukan Pemimpi

Pemimpin adalah orang yang dikagumi oleh orang lain atau bawahan atau pengikut, sehingga ada kecenderungan apa yang dilakukan dan dimilikinya cenderung diikuti sebagai trend dan ditiru. Pendapat ini lahir dari dua paradigma kepemimpinan, pertama aliran yang melihat kepemimpinan berdasar sifat dengan mengedepankan pada konsep pemikiran yang kedua, kepemimpinan yang melihat keberhasilan kepemimpinan ditentukan oleh perilaku pemimpin. Walaupun dalam berbagai kajian, kepemimpinan juga bisa dikaji dari sudut pandang proses, yang mendefinisikan bahwa kepemimpinan adalah rangkaian proses interaksi antara bawahan (pengikut) dan atasan (pemimpin) yang di dalam interaksi tersebut terkandung pola pikir (paradigma), komitmen dan perilaku. Satu hal yang perlu diingat, kepemimpinan sebagai suatu proses selalu terjadi dalam situasi. Esensi kepemimpinan adalah kepengikutan yaitu bahwa penyebab seseorang diterima sebagai pemimpin, jika ada orang lain yang menjadi anak buahnya(pengikutnya). Sehingga dalam perjalanan mendefinisikan apa kepemimpinan? Lahirlah definisi bahwa kepemimpinan adalah seni atau proses mempengaruhi orang lain sedemikian rupa, sehingga mereka mau melakukan usaha dalam mencapai tujuan kelompok. Konsep melakukan usaha yang dimaksud adalah bekerja disertai dengan semangat penuh kepercayaan diri untuk berhasil. Karena ini bagian dari niat seseorang menjalankan sebuah rangkaian kerja. Butuh optimisme yang tinggi dan ditunjang dengan proses yang rasional dan terukur. Ada tiga komponen utama dalam kepemimpinan, pertama: sosok pribadi pemimpin yang bisa dilihat dari pola pikir, sikap atau disebut paradigma dan komitmen. Jika pola pikir pemimpin cenderung skeptis dan psimis, maka bisa ditebak, komando tidak akan berjalan, bahkan...

Read More

Hiruk Pikuk Pilpres Semakin Gila

Kemarin ada capres datang ke salah satu kantor ormas Islam bersama Mbak Yeni Wahid, ketika diminta untuk menjadi imam sholat berjama’ah, malah nolak dan menunjuk mbak Yeni untuk jadi Imam dengan alasan keturunan keluarga Kyai. Lha masalahnya, ini imam sholat, yang haruse laki-laki jadi imam walau pun ada perempuan hebat yang lebih fasih bacaan qur’annya. Adalagi capres yang bilang alpatekah dengan Jawa medok pol, diteriaki Islam karbitan dan PKI, ee saat di Ponpes Jombang, beliau menjadi imam sholat berjama’ah bersama para keluarga pondok. Pun kabarnya beliau akan hadir dalam undangan tes baca qur’an yang dilayangkan oleh salah satu lembaga dari Aceh, lha pasangan lainnya yang pernah menyebut hulaihi wa salam, malah kabur menolak hadir. Waktu natal juga demikian, ada yang buat meme bahwa pasangan salah satu capres diedit sehingga menyerupai sinter klas simbol kristiani pembagi hadiah saat natal. Padahal disisi lain capres yang satunya justru merayakan natal dan berjoged-joged. Demikian tersebut anehnya musim pilpres, yang Kyai diteriaki kafir, yang jelas ikut merayakan natal malah di Kyaikan. Lagian, salah siapa yang mempermasalahkan natal. Pernah juga ada calon wapres yang ziarah makam ulama’, tapi malah gak ngerti etika ziarah dan melangkahi makam yang diziarahi, tambah lagi aksi wudhu pakai air satu gayung dengan mencelupkan kedua tangan sampai akhir, padahal kondisinya, didepan gayung adalah kolah tempat wudhu dengan air melimpah. Ia seakan memperagakan wijik/isuh yang digabung dengan wudhu ataubdisebut wushu, dengan air...

Read More

Pelantikan ISNU Tulungagung

“Saya berikan tantangan untuk ISNU, mampukah ISNU Tulungagung khususnya, menciptakan aplikasi portable di dalam android yang berbasis tematik, misalnya aplikasi ulumul hadist, tafsir, rijalul hadist yang semuanya berbasis keilmuan Aswaja An Nahdliyah” Kalimat penggalan yang disampaikan gubernur Jawa Timur terpilih dan akrab disapa Bunda Khofifah Indar Parawansa dalam pelantikan ISNU Kabupaten Tulungagung, masa khidmat 2018 -2022, pada hari Sabtu, 29 Desember 2018 pukul 15:00 WIB, bertempat di pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso. Kalimat diatas diawali dengan ceritera bunda Khofifah terkait peran penting ISNU dalam pertarungan geopolitik dan geostrategis sebagaimana yang telah diramalkan Gus Dur, bahwa pada tahun 2.000 nan, kejayaan dunia akan diawali dari Asia dan khususnya Indonesia. Pernyataan Gus Dur bukanlah tanpa alasan, peradaban dan budaya di dunia mulai mencari jati dirinya, karena mereka mulai mengalami kegelisahan hidup dan kebahagiaan hidup, karena ternyata materi berlimpah dan sistem pelayanan canggih di negara mereka, tak mampu menjawab apa itu kebahagiaan hakiki. Dari pernyataan inilah kemudian Gus Dur menerangkan bahwa Asia punya solusi untuk semuanya, dan bagian penting di Asia adalah kekuatan Indonesia sebagai pemilik jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan mayoritas berfaham Sunny. Maka segmen yang harus diambil ISNU adalah “bagaimana merubah pola pikir dunia dengan pola pikir Aswaja An Nahdliyah, yang di dalam manhajul fikr Aswaja, ada Tawasud, Tawazun, Tasamuh, dan I’tidal. Hanya dengan menjadikan pola pikir Aswaja sebagai Manhajul Fikr, maka peradaban baru dalam bingkai rahmatan lil...

Read More

Video Terbaru

Loading...