Penulis: nur udin

Saring Sebelum Sharing

Setiap kejadian heboh debat masalah ormas dan kelompoknya, saya selalu menelusuri kapan kejadian tersebut terjadi? Misalnya, kejadian ceramah UAS tentang catur, itu ceramah tahun yang lalu, tapi viralnya malah baru-baru saja. Ceramah Gus Muwafiq yang sekarang viral, ternyata, itu video 6 November 2019, satu bulan yang lalu. Pertanyaan selanjutnya, kenapa viralnya baru sekarang? Hari ini, ada pekerjaan bisnis online yang disebut Buzzer. Mereka, dapat penghasilan dari membuat keributan di jagat medsos. Tujuannya adalah, traffik internet melonjak drastis. Maka, seorang Buzzer butuh bahan untuk dijadikan olahan dan gorengan. Bahan yang paling empuk untuk dijadikan tema adalah isu agama, maka dibidiklah para mubaligh atau Kiai, baik dari ormas manapun dan firqoh manapun. Mereka dengan khusuk meneliti dan mengkaji video para mubaligh dan Kiai yang ada di media sosial. Selanjutnya, mereka ambil potongan video atau perkataan yang bisa dijadikan bahan gorengan, dan setelah proses editing selesai, dilemparlah isu tersebut ke media sosial. Jika kita berpatokan hanya pada vidio yang terpotong, maka dijamin akan terjadi adu argumen dan inilah yang diharapkan para Buzzer. Kenapa yang dijadikan bahan gorengan para Buzzer adalah para mubaligh, Kiai dan Ulama? Kenapa bukan politikus? Jawabnya simple, kalau politikus yang dijadikan bahan gorengan, konflik keributannya hanya bersifat sebentar, respon tanggapannya juga sedikit, ditambah, belakangan ini, kebanyakan masyarakat. malas dengan urusan pembahasan politik. Sebaliknya, bila isu agama dengan konsentrasi pada Mubaligh, dan Kiai yang dijadikan bahan olahan dan gorengan, konflik...

Read More

Gelombang Muwafiq

Saya yaqin bahwa nama seseorang, pasti diniati untuk menjadi sebuah harapan dan doa dari pemberi nama. Selain itu, nama seseorang bukan sekedar mudah diucapkan, tapi juga ada faktor “X” di dalamnya. Misalnya nama kanjeng nabi Muhammad SAW, saya yaqin nama Muhammad yang memiliki arti “orang yang terpuji”, ini merupakan desain Allah untuk membully orang-orang yang nantinya memusuhi kanjeng nabi. Logikanya sederhana, misalnya, ada orang Kafir Quroisy yang menyebut “Muhammad Al Kadzab”(Muhammad pembohong), masak sih orang terpuji pembohong? akal sehat kita mendengar susunan kata saja, tidak akan terima. Seperti halnya kejadian yang lagi hangat dibincangkan netizen dan spanduk hujatan pada Gus Muwafiq, saya menangkap kelucuan ketika membaca spanduk-spanduk atau meme dan apa yang ada di media sosial, khususnya terkait ceramah Gus Muwafiq. Muwafiq secara arti kata, dimaknai “orang yang berhasil/sukses”, jadi misalkan ada spanduk “Hai Muwafiq” (Hai Wong sukses), bagi saya lucu ini. Pinginnya membuli, tapi malah menyanjung. Coba kalau nama yang mau diprotes adalah Koclok, saat ditulis “Hai Koclok” orang Jawa akan menambahi “pancen yo Koclok”, ya maklum. Sedangkan arti Muwafiq di dalam kajian Fiqih. Muwafiq adalah sebutan bagi makmum yang ketinggalan Takbiratul Ikram pertama Imam, tapi masih mendapati bacaan Fatihah rakaat pertama Imam. Jadi Muwafiq masih mendapati Sholat jama’ah utuh. Selanjutnya gelombang Muwafiq ini bagaikan bola liar yang menghantam sana-sini. Misalnya muncul Taggar #KamiBersamaGusMuwafiq, langsung disusul #KamiBersamaRosulullah, saya langsung mengernyitkan dahi, bukankah ketika Rosulullah dilempari batu di Toif,...

Read More

Sambutan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. dalam Upacara Pembukaan Rapat Pleno PBNU Tahun 2019 di Purwakarta

Jawa Barat, 20 September 2019. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله سيدنا محمد ابن عبد الله وعلى اله واصحابه ومن تبع سنته وجماعته من يومنا هذا الى يوم النهضة، اما بعد. Pejabat Ra’is Am beserta jajaran Syuriah, Pengurus Harian beserta seluruh jajaran Tanfidziah, para Mustasyar dan pimpinan Lembaga dan Banom NU, Shohibul Ma’had KH Abun Bunyamin, Gubernur dan Pejabat Daerah, hadirin hadirat yang berbahagia. Alhamdulillah, sejak diberi mandat oleh Muktamar NU ke-33 di Jombang Jawa Timur, saya selaku mandataris Muktamar beserta seluruh jajaran PBNU masih diberi kekuatan untuk menjalankan mandat organisasi sampai saat ini. Alhamdulillah, di tengah situasi nasional yang dinamis, di tengah deraan isu dan fitnah yang menerpa NU dan PBNU, kita sebagai jamâ’ah dan jam’iyah tetap berdiri dan semakin kokoh. Konsolidasi melalui kaderisasi terus berjalan hingga ke tingkat bawah, dari PW, PC, hingga banom. Melalui kaderisasi, NU melahirkan kader-kader pembela amaliah, fikrah, dan harakah Ahlussunnah Waljama’ah An-Nahdliyah ditengah gelombang pasang radikalisme Islam yang membentang di depan mata. Gelombang pasang ini menemukan momentum pada Pilkada DKI 2017. Para pendukung formalisme Islam menunggangi Pilkada DKI untuk melakukan konsolidasi politik. Kemenangan dalam Pilkada DKI melambungkan aktor-aktor Islam politik ke panggung publik. Sentimen Islam politik menguat. Model Pilkada DKI hendak dioper ke perhelatan politik lain dalam skala lebih luas. Mengantisipasi gelombang pasang Islam trans-nasional yang lebih besar, Pemerintah mencabut legalitas HTI dan memberi...

Read More

Menakar Respon Instan Atas Trailer Film The Santri

Oleh K.H. Imam Jazuli. Lc. MA.* Paham radikalisme tidak pernah surut. Ideologi Islam radikal; takfiri, tadhlili, terus berganti wajah. Terus diteriakkan, sekali pun sudah di luar nalar kewajaran. Termasuk dengan melontarkan tuduhan adanya pemurtadan melalui film The Santri, besutan sutradara Livi Zheng yang didukung NU Chanel. Hanya karena perbedaan pendapat seputar hukum ikhtilat, santri masuk gereja dan “percintaan” dunia remaja? Ustad Maheer Atthuwailibi Jakarta, ustad Yahya al-Bahjah Cirebon, dan ustad Luthfi Bashori Malang, adalah contoh kecil orang-orang yang menuduh ada pemurtadan dalam film The Santri. Dalam kasus Film The Santri, tiba-tiba saja mereka menjadi ahli dan kritikus film. Cukup bermodal bahan trailler dan setumpuk kebencian dalam dada, jadilah mereka kritikus yang lantang. Bahkan, mereka sepakat memboikot penayangan film ini. Bukti yang banyak mereka soroti adalah cuplikan adegan santriwati menyerahkan nasi tumpeng kepada orang di gereja. Dengan argumen sekenanya, mereka menuduh itulah sarana pemurtadan film The Santri. Tuduhan tidak saja ‘ghuluw’ atau berlebihan melainkan melampaui keputusan para ulama dari berbagai mazhab. Padahal, empat mazhab sepakat bahwa muslim masuk gereja tidak murtad. Memang benar sebagian ulama mazhab Syafi’iyah dan Hanafiyah mengharamkan muslim masuk gereja. Pendapat tersebut dikeluarkan oleh, di antaranya, Ibnu Hajar al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj, 2/424), Syihabuddin ar-Ramli (Nihayatul Muhtaj, 2/63), Qalyubi dan Umairah (Hasyiatu Qalyubi wa Umairah ala Syarhi al-Mahalli ala Minhajit Thalibin, 4/236). Alasan ulama mengharamkan muslim masuk gereja adalah karena di dalam gereja terdapat setan (Ibnu Najim, Bahrur...

Read More

Selalu Di Depan

Kita sering mendengar Valentino Rosi sang empunya nomor 46 melafalkan kalimat yang menjadi slogan Yamaha saat menonton kejuaraan moto GP, kalimat tersebut adalah “Yamaha Selalu Di Depan”. Apakah ada yang aneh? Tidak. Justru dari moto tersebut, banyak yang membuat guyonan satire tatkala ada yang sok tahu dan merasa paling awal, maka akan disoraki dengan kalimat ” wah, minumanmu kayaknya oli Yamalube bro, buktinya, kamu selalu di depan, bahkan saking depannya, kamu sering kepagian bro. Menjadi terdepan memang tidak ada salahnya, tapi harus siap dengan segala konsekwensinya. Misalnya kita ingin mengabarkan sebuah kejadian, untuk menjadi yang terdepan, kita juga dituntut akurat, faktual dan terpercaya. Jangan sampai ingin terdepan dalam pemberitaan tapi tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang disampaikan. Konyol akhirnya. Beda lagi ketika kita ingin menjadi terdepan dalam merespon isu perfilman, misalnya film The Santri, kita harus paham apa isinya, bagaimana adegan per adegan secara utuh, bahkan naskah film tersebut juga kita pahami secara detail. Kenapa demikian? Jangan sampai kita koar-koar mengeluarkan statemen sampai berbusa-busa, tapi akhirnya salah. Menurut saya berkomentar masalah film “The Santri” untuk saat ini adalah komentar yang tidak penting. Karena komentar apa pun tentang film The Santri, faktanya film tersebut belum pernah tayang dimanapun. Jadi yang dikomentari dan dihujat, adalah potongan adegan yang bisa jadi benar atau sebaliknya. Bahkan menghujat “The Santri” dalam posisi belum ditayangkan, malah membuat orang yang tidak tahu sama sekali bergeser menjadi...

Read More

Video Terbaru

Loading...