Penulis: nur udin

Sembilan Pedoman Berpolitik Warga NU

Mendekati H-12 pelaksanaan pemilu serentak 2019, atmosfer pertarungan para kandidat dalam Pilpres maupun Pileg 2019 semakin memanas. Tak hanya yang beredar di media sosial, apa yang terjadi di dunia nyata juga butuh ekstra kejelian dan kernyitan dahi untuk mengurai permasalahan. Penghadangan dan penolakan seakan jadi ritual bersambung dari daerah satu ke daerah lain. Hal ini menunjukkan bahwa kedewasaan dalam perbedaan yang sudah sekian lama kita rajut dalam bingkai kebhinekaan, perlu dipererat kembali. Semua bersaing untuk merebut simpati dan dukungan, tapi lupa untuk memberikan edukasi politik terkait kedewasaan berbeda pilihan. Masyarakat hanya menjadi ladang tempat dilemparnya isu dan berita fitnah atau hoaks. Padahal kita tahu bahwa hoaks adalah berita bohong yang dibuat oleh orang jahat untuk tujuan kejahatan. Sehingga bisa dipastikan jika pembuat hoaks memang menginginkan kegaduhan, dan semakin aneh jika Ratna Sarumpaet malah bangga mengaku pembuat hoaks terbaik. Karena sejatinya pembuat hoaks terbait dalam sejarah adalah Iblis yang membujuk Hawa untuk melanggar larangan Allah SWT. Masyarakat perlu dibekali dengan pendidikan politik yang menjelaskan bagaimana berdemokrasi dalam bingkai kebangsaan. Sehingga mereka tidak terjebak pada topik-topik perdebatan dan permusuhan. Masih banyak ruang kosong yang belum tersentuh dan perlu diberdayakan. Karena selama ini pendidikan demokrasi yang dilaksanakan hanya pada kulit luar yang bersifat transaksional dan struktural. Mengingat pentingnya politik sebagai sebuah sarana perjuangan, di samping sarana sosial dan pendidikan, maka warga Nahdliyin sebagai bagaian bangsa Indonesia, harus dibekali dengan pemahaman dan pengetahuan...

Read More

Meluruskan NU atau Merusak NU?

Almarhum Kiai Hasyim Muzadi pernah bercerita dalam sebuah ceramah di hadapan warga NU, “saya pernah mendampingi beberapa tamu luar negeri yang terdiri dari para profesor yang secara khusus datang ke PBNU untuk menyatakan kabar bahwa NU adalah organisasi terbesar di Indonesia”, dalam kunjungan tersebut, rombongan meminta agar diajak keliling Jakarta dan beberapa wilayah di Jawa Barat, selesai berkeliling, para profesor ini bertanya kepada Kiai Hasyim Muzadi, “pak Kiai, katanya NU ini besar, kok sepanjang perjalanan, saya tidak melihat aset NU sama sekali, berbeda dengan Muhamadiyah, ada RS Muhamadiyah, Masjid Muhamadiyah, RA Aisyiyah, SDI Muhamadiyah, SMPI Muhamadiyah, SMA Muhamadiyah, Universitas Muhamadiyah, Klinik juga Muhamadiyah, sementara tak satu pun saya lihat yang bernama NU pak kiai. Mendapat pertanyaan tersebut, kiai Hasyim Muzadi menjawab dengan kalimat ” begini Prof, NU itu memang bottom up, semua usulan dari bawah, nama yang diberikan pun sesuai kehendak masyarakat, tidak harus nama NU, misalnya, ada yang mendirikan masjid, mereka beri nama masjid Baiturrohman, RA al Khodijah, MI Sabilul Muttaqin, MTs Al Falah, MA Mambaul Ma’arif, RS Al Khodijah, UNISMA, itu nama yang mereka kehendaki, tidak harus bernama SDNU, SMA NU, tiba-tiba seorang profesor bertanya, berarti selain yang diberi nama Muhamadiyah, adalah miliknya NU kiai?, kiai Hasyim mengangguk-angguk yang diikuti kalimat pujian dari para profesor tersebut. Dari cerita di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa NU memang unik. NU memang didominasi masyarakat pedesaan, tapi SDM NU tidak bisa...

Read More

Hadrotus Syekh

Gelar yang disematkan oleh ulama di tanah Haromain kepada dua ulama nusantara dan salah satunya adalah K.H Hasyim Asy’ari pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama dan satunya adalah seorang syarifah dari Palembang. Gelar Hadrotus Syekh diberikan kepada seseorang yang telah mampu menghafal 6 kitab hadist besar beserta sanad dan matannya. Diantara 6 kitab hadist tersebut adalah Kitab hadist karya Imam Bukhori, Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi, Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah. Dalam hal ini, mbah Hasyim hafal diluar kepala semua isi kitab tersebut yang jumlah hadistnya ada ratusan ribu. Bermodalkan pengetahuan agama dan kemampuan berdakwah serta kemampuan memimpin, kemudian mbah Hasyim yang sudah punya pondok dan santri dari berbagai penjuru nusantara, lantas mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai upaya membendung bahaya Wahabi yang menguasai tanah Hijaz dengan membunuh Syarif Husain generasi terakhir Turki Ustmani. Sekilas kita akan melihat kondisi berbeda hari ini, jika mbah Hasyim saja sudah ngopeni umat, dan santri masih menyempatkan membuat organisasi sebagai wadah perjuangan menegakkan Ajaran Aswaja li i’lai kalimatillah, maka pertanyaan bagi yang kiai dan tak mau berjuang di NU, apakah anda lebih alim dan lebih pinter dari mbah Hasyim Asy’ari? Selanjutnya, mengapa mbah Hasyim dan para Ulama’ mendirikan Nahdlatul Ulama’ saat itu? Selain untuk membendung pengaruh Wahabi yang mulai dikumandangkan di Hijaz, alasan dibentuknya NU adalah karena aspirasi Ahlussunnah wal Jama’ah tidak bisa dititipkan kepada organisasi lain. Jika dahulu, mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab...

Read More

Medsos dan Tren Politik 2019

Ketika sebuah kata disebut di dalam al Qur’an, maka kata tersebut memiliki sejarah, peran, fungsi atau ada sebab lain. Bahkan jumlah pengulangan penyebutannya juga memiliki maksud tersendiri. Misalnya nama Fir’aun disebut 1 kali dan Ali Fir’aun disebut 6 kali. Menurut berbagai sumber, pengulangan penyebutan Ali Fir’aun tersebut menunjukkan bahwa Ali Fir’aun (orang-orang yang mengitari Fir’aun) lebih berbahaya dibandingkan Fir’aun. Jadi tidak salah jika siapa pun pemimpinnya, justru yang terpenting adalah melihat siapa yang mengitari sang pemimpin. Dalam konteks Pilpres 2019 penting melihat siapa yang mengitari kedua pasang capres cawapres. Misalnya kategori ulama, akademisi, negarawan, dan tokoh muda, silahkan cermati dan teliti masing-masing personal yang mengitari kedua pasang capres. Teliti rekam jejak visual maupun rekam jejak akhlaq dari perjalanan masing-masing orang yang mengitari kedua capres. Secara garis besar, saya mencatat ada tiga tren perubahan perilaku politik yang berbeda dari perilaku politik 2014 dalam kontestasi pemilu dan demokrasi. Ketiganya adalah: Semakin maraknya hoak dan kampanye hitam, kamuflase politik, dan politisasi masjid. Hoak dan kampanye hitam memang bukan hal baru dalam percaturan politik, derasnya hoak dan kampanye hitam pada pemilu 2019 seakan semakin sulit menemukan orang yang waras tanpa pembahasan politis. Semua gerak masyarakat langsung diposisikan berhadapan antara kawan dan lawan, singkat kata, sebutan yang muncul kalau bukan 01 ya 02. Kehidupan dan segala aspeknya seakan dipaksa untuk mengerucut pada dua pilihan tersebut. Sedangkan kamuflase politik adalah, retorika palsu yang sengaja disusun...

Read More

Mr President itu Jokowi

Kamis, 3 Januari 2019 Tulungagung mendapatkan kehormatan disinggahi orang nomor satu di Indonesia, pak Jokowi orang menyebutnya. Tak banyak yang tahu nama panjang beliau, karena mereka mengenal nama Jokowi ketimbang nama Joko Widodo yang justru nama aslinya. Begitu masuk perbatasan Tulungagung, tepatnya kecamatan Rejotangan yang juga berada tepat disekitar pasar Rejotangan, kondisi jalan macet tumpah ruah begitu mobil dengan pengawalan khusus melambatkan laju dan membuka kaca mobil, “pak Jokowi” teriakan histeris disambut senyum dan lambaian tangan sosok berbaju putih yang menyempatkan turun dari mobil bersalaman menyapa para pemanggilnya yang mengelu-elukannya. Suasana beberapa saat menjadi haru, ibarat situasi perjumpaan seorang kekasih yang begitu dipuja dan dicinta nan terpisah lama oleh waktu dan keadaan. Jauh berbeda dengan kondisi yang tergambar via medsos, yang semuanya menghujat dan menyudutkan sang presiden. Pak Jokowi sehat selalu ya, doa yang terucap dari seorang warga yang berbinar matanya, berkaca tanda tak percaya tapi nyata, bahwa pak presiden ada dihadapanya, tapi kerumunan manusia begitu banyak dan tak mampu dirinya mendekat. Hal yang sama juga terucap dari puluhan orang yang berada jauh dari kerumunan massa yang ingin menyentuh pemimpinnya atau sekedar meminta foto selfie sebagai jimat kemat bagi rakyat, tapi puluhan orang tersebut tak sempat. Memang dunia nyata lebih ramah dari dunia maya, bahasa tubuh dan pandangan mata serta senyum ramah, terasa obat pendingin bara dan pelepas dahaga. Rakyat Tulungagung berharap engkau selalu sejahtera dan sehat menjalani tugas...

Read More

Video Terbaru

Loading...