Penulis: nur udin

Bendera dan Panji Rosulullah Tanpa Tulisan

Setelah TV One menggelar ILC yang digawangi Bang Karni Ilyas dengan bintang tamu Abu Janda, Deni Siregar, Marsyudi Suhud, Felix, Khattah, Fadli Zon, Egi Sujana, dll. Muncul framing bermacam-macam dari jama’ah medsos ketika membahas bendera atau panji rosulullah. Jika kita merujuk pada penelitian di Arab yang dilakukan oleh Sa’d al Juhaily yang melacak histori bendera rosulullah dengan mengkaji hadist dan literatur Arab maka ditemukanlah kesimpulan bahwa masalah warna bendera, pada masa bani Umawiyah warna bendera berwarna hijau dan begitu pula pada masa Bani Abasiyah juga berbendera berwarna hijau dan setelah 1200 tahun bani Abasiyah tidak berkuasa, maka mereka beralih krpafa warana hitam dan putih. Sedangkan pada masalah penggunaan bendera, sejak zaman jahiliyah, masyarakat menggunakan bendera hitam atau putih atau warna lain untuk: mainan anak-anak, toko arak, tempat pelacuran, penanda perjalanan, dan kematian. Dan pada masa Rasulullah, bendera digunakan untuk panji saat berperang dengan ketentuan, warna hitam digunakan sebagai tanda bahwa di bawah panji hitam inilah pimpinan tertinggi berada untuk mengkomando para senopati perang yang membawa bendera berwarna putih yang jumlahnya bisa puluhan. Tapi rosulullah juga pernah menggunakan bendera warna putih saat memimpin salah satu perang. Masalah tulisan pada bendera, rasulullah menggunakan bendera tanpa ada tulisan lafadz saat berperang, tapi beliau pernah berkirim surat kepada raja Bizantium dengan lambang kop surat bertuliskan inna fatahna laka fatham mubiina seperti pataka yang disimpan di museum Topkapi. Data penelitian Sa’d al Juhaily juga...

Read More

ISLAM POLITIK DAN POLITIK ISLAM

Zaman edan tontonan dadi tuntunan, lha justru sing tuntunan malah dianggap tontonan. Kalimat di atas adalah nukilan dari karya seorang wali yang bernama Raden Bagus Burhan atau lebih dikenal dengan nama Ki Ronggo Warsito. Santri dari Kyai Hasan Besari Pondok Tegalsari Ponorogo. Ki Ronggo Warsito menulis berbagai karya yang berbahasa Jawa dengan tema-tema pembahasan Tasawuf dalam sajak serat maupun tembang yang memang sejatinya adalah perasan inti sari kitab berbahasa Arab yang di transliterasi ke dalam bahasa Jawa. Sedangkan maksud dari kalimat Ki Ronggo Warsito adalah, pada masa mendatang akan ada zaman dimana tontonan diberbagai media justru menjadi panutan dan gaya hidup mayoritas masyarakat, sedangkan nilai ajaran yang harus dianut dan diterapkan masyarakat, justru menjadi sekedar tontonan saja. Misalnya apa yang terjadi pada ILC di TV One tadi malam yang menampilkan Felix Sauw, Egy Sujana, Fahri Hamzah, Permadi, Fadli Zon, Deni Siregar, Marsudi Syuhud, Sujiwo Tedjo, ditambah teleconferens dari Yogyakarta oleh Mahfud MD, juga tak kalah hebohnya fenomena dakwah dengan tulisan salah pada acara Dakwah Metro TV. dll. Lha pertanyaan sederhananya mana yang dakwah menyampaikan tuntunan dan mana yang sedang menggelar tontonan. Dahulu melalui karya kitab kuno, para literalis radikal yang juga takfiri dengan sadisnya menghukumi kelompok yang tidak sefaham dengan mereka dengan hukum kafir dan membunuhi mereka yang tak mau mengikuti pemahaman yang mereka inginkan, walaupun mereka juga Islam, aktif Sholat, rajin puasa, dan sudah berhaji. Maka, tak mengherankan...

Read More

Sejarah Resolusi Jihad yang Hilang

Transkrip kalimat Kyai Agus Sunyoto dalam acara bedah buku Fatwa dan Resolusi Jihad, di pondok Lirboyo, Jum’at, 3 Nopember 201. —————- Buku ini sudah diakui oleh museum kebangkitan nasional, sudah diakui oleh kementerian pertahanan dan kementerian kebudayaan. —————- Rencananya, kementerian pertahanan akan membedah buku ini di 20 kota besa di Indonesia. Launching pertama akan dilaksanakan di museum kebangkitan nasional tanggal 10 Nopember 2017. Lirboyo mendapat kehormatan untuk pertama kalinya. —————- Setelah bermuqadimah, menyampaikan salam hormat kepada para masyayikh Lirboyo, Kyai Agus Sunyoto menyampaikan: Kita bahas tentang Fatwa dan Resolusi Jihad. Ini buku pertama yang membahas Fatwa & Resolusi Jihad. kenapa begitu? Karena semua pelaku sejarah pertempuran 10 Nopember, tidak ada yang mau mengakui Fatwa & Resolusi Jihad itu pernah ada. Tulisan Prof. Ruslan Abdul Gani, yang ikut terlibat dalam kejadian, juga tidak ada yang menyebutkan NU dan Kyai pernah ada. Bung Tomo yang pidato teriak-teriak memekikkan kalimat takbir berdasar resolusi jihad pun di klaim bukan dari kalangan Santri, dan dalam buku Ruslan Abdul Ghani, gak pernah menyebutkan bahwa fatwa & resolusi jihad pernah ada. Laporan tulisan mayor Jendral Sungkono juga gak menyebut pernah ada fatwa & resolusi jihad. Jadi semua buku yang bercerita tentang peristiwa brsejarah hari pahlawan tidak menyinggung pernah ada fatwa & resolusi jihad NU. Karena itu banyak orang mnganggap fatwa & resolusi jihad itu hanya dongeng dan ceritanya orang NU saja. Sampai tahun 2014 kemarin, di...

Read More

Dari NU Untuk Indonesia

Musibah banjir yang menimpa kabupaten Pacitan begitu memilukan. Banjir yang disebabkan jebolnya tanggul sungai di Pacitan karena curah hujan yang begitu deras menyebabkan hampir seluruh daerah terendam air setinggi 1,5 m. Sehingga perekonomian dan kegiatan lain di kota tersebut lumpuh total dalam beberapa hari. Kondisi tersebut diperparah dengan longsornya beberapa bukit yang menyebabkan akses penghubung kota Pacitan dengan kabupaten tetangga seperti Trenggalek, dan Ponorogo sempat tertutup. Berawal dari informasi dan broadcast inilah, Ikatan Keluarga PMII Tulungagung, PMII Cabang Tulungagung dan Tulungagung Bersahaja yang merupakan relawan sosial dan beberapa donatur yang tidak mau disebutkan identitasnya, tergerak untuk menghimpun donasi baik natura(barang bukan uang) maupun donasi berupa uang yang rencananya besok pagi, Sabtu, 2 Desember 2017 akan disalurkan kepada para korban musibah banjir di Pacitan. Penyaluran bantuan tersebut, dikumpulkan menjadi satu dengan rincian uang sebesar Rp.11.500.000,(dari pengumpulan berbagai unsur), satu karung pakaian layak pakai(natura), satu kardus pembalut, mie instant, minyak goreng, dan pampers. Semuanya dibawa ke kantor PCNU Tulungagung untuk disatukan dengan donasi yang digalang oleh PCNU melalui LPBI PCNU Tulungagung. Selain itu, beberapa relawan sosial dari Tulungagung Bersahaja, juga ikut menghantar pendistribusian ke Pacitan dengan mengikuti rombongan pengangkut bantuan yang disiapkan oleh LPBI PCNU Tulungagung. Penghimpunan donasi ini berlangsung mengalir begitu saja dengan memanfaatkan media sosial yang di share ke grup WA IKAPMII yang ditindak lanjuti dengan membuat list donatur untuk ditulis jenis bantuan sampai pada nominal berapa yang disetorkan,...

Read More

Sahabat Cilik Kanjeng Nabi (1)

Anas bin Malik: Abdi Ndalemnya Rasulullah Oleh: Rijal Mumazziq Z Kanjeng Rasul, bulan ini adalah bulan kelahiran panjenengan. Bulan biasa yang menjadi istimewa karena kelahiran manusia mulia seperti engkau. Saya malu, sangat malu, belum bisa mencintai engkau sebagaimana dengan egois saya mencintai diri saya sendiri. Saya hanya bagian dari umat engkau yang bandel, yang kecintaan terhadap engkau masih di bibir saja, belum mendarahdaging seperti orang lain yang mencintaimu dengan penuh. Duhai al-Musthafa, masih ingatkah engkau, saat Ummu Sulaim menyerahkan putranya, Anas bin Malik yang masih belia, untuk melayanimu, menjadi abdi ndalemmu, menjadi santri kinasihmu? Tubuhnya masih kecil dengan rambut lebat berkucir. Dia duduk dengan takzim sambil malu-malu memandang wajah muliamu. Engkau dengan tersenyum membelai rambut Anas kecil dan menyambutnya sebagai anggota keluarga barumu. Anas, yang seringkali engkau panggil dengan nama Anas kecil (Unais), mengenang kejadian ini sebagai sebuah peristiwa yang membuatnya bahagia sepanjang hidupnya. Engkau juga paham, Anas bin Malik ini juga memiliki adik kandung bernama Abu Umair yang suka memelihara burung. Ketika engkau berkunjung ke kediaman Abu Talhah, bapaknya Abu Umair, engkau bertanya, “Wahai Abu Umar, bagaimana kabarnya an-Nughair (burung pipit kecil) peliharaanmu?” Duh, manusia mulia seperti engkau masih sempat menanyakan kabar burung kecil kesayangan seorang sahabat kecil? Betapa remehnya perkara ini bagi kami, tetapi sangat penting bagi engkau sebagai wujud kepedulian terhadap anak-anak? Duhai laki-laki berwajah purnama, kepada kami Anas bin Malik bertutur, selama beliau melayanimu lebih...

Read More

Video Terbaru

Loading...