Penulis: nur udin

Dua Jam bersama Gus Nadirsyah Hosen

Sabtu, 20 Oktober 2018 menjadi waktu istimewa bisa mengikuti acara santai tapi berbobot yang diadakan LP2M IAIN Tulungagung di gedung K.H Syaifudin Zuhri lt 6. Gus Nadir adalah putra dari tokoh besar adalah dosen senior di Monash University Australia yang juga menjadi Rois Syuriah PCINU Australia dan New Zeland. Kehadiran Gus Nadir seakan menjadi magnet bagi para pengunjung yang sengaja datang dari berbagai kota disekitar Tulungagung. Mereka datang dengan berbagai perspektif terhadap Gus Nadir. Misalnya, mereka yang mengenal Gus Nadir adalah dosen senior dari Monash Univercity, harapannya yang dibawa saat bertemu Gus Nadir adalah, banyak pengalaman dan strategi terkait akademik yang disampaikan Gus Nadir saat sarasehan. Berbeda dengan yang mengenal Gus Nadir sebagai tokoh NU yang aktif menulis berbagai tulisan di media sosial, harapan mereka saat datang mengikuti acara tersebut adalah, adanya cerita bagaimana pengalaman berdebat, berargumen dalam bermedia sosial khususnya dengan kelompok-kelompok pembenci Islam Nusantara. Tapi faktanya, Gus Nadir memaparkan sukses akademik di Monash University dan strateginya, beserta memperankan diri sebagai aktifis yang berdakwah di media sosial dan dunia nyata. Satu contoh, saat beliau menjelaskan bagaimana proses menulis, beliau membaca sebuah puisi, yang indah dan menyentuh tentangbmenulis adalah menemukan gagasan, karena menulis adalah proses dari hati, dicerna oleh akal, dimasukkan hati, dan ditulis oleh tangan. Alur menemukan gagasan diawali dari berbagai kecenderungan, mulai dari saat ngopi, saat dijalan, saat bertemu orang, saat menyendiri, saat susah, saat senang, bahkan...

Read More

Mewaspadai Jalan Kekerasan Politik Versi Timur Tengah

Tulisan ini adalah moderasi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Khariri Makmun, Peneliti Institute Hasyim Muzadi (IHM) dengan menyebut setidaknya ada 4 strategi yang digunakan oleh kelompok Islam Politik Trans Nasional dalam melancarkan agendanya politik di Indonesia tahun 2019. Strategi pertama yang ditempuh oleh Islam politik Tran Nasional adalah membenci pemerintah, menjadikan alat negara sebagai musuh, seluruh kebijakan penguasa dianggap keliru, partai-partai koalisi pendukung pemerintah dianggap penjilat. Sikap ini setiap hari digelorakan kepada umat dan dipublikasi melalui media sosial dengan bumbu ayat dan hadis. Hal ini sebagai upaya untuk mempengaruhi pemikiran masyarakat untuk tidak yakin pada pemerintah bahkan memicu munculnya keberanian melawan kebijakan pemerintah. Jikalau pun mereka berurusan dengan pemerintah, pastilah kesan terdholimi dan melabeli dirinya korban. Selanjutnya mereka akan memviralkan melalui media sosial. Satu kejadian saat pembukaan MTQ, pas ajakan membaca ummul kitab, tapi pak Jokowi melafalkan ajakan berdoa dengan lafal medok Jawa, seakan mendapat bahan menyalahkan, kelompok idiologi politik Trans Nasional masuk membumbui dengan kajian berbagai perspektif. Seakan pula, mereka sebagai tuhan yang berhak memutuskan segalanya. Strategi kedua, adalah menurunkan tingkat kredibilitas ulama yang betul-betul ulama, tapi tidak sepaham dengan perjuangan politik mereka. Siapapun ulama yang tidak mengikuti arus pemikiran politik mereka maka dianggap ulama su’ (ulama jahat), ulama yang harus di jauhi dan diserang dengan berbagai macam hoax. Masih ingat kejadian Kyai Ma’ruf Amin begitu menjadi pasangan pak Jokowi, awalnya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama’ MUI...

Read More

Menghina Pemimpin

Maraknya media sosial seakan menjadi lahan baru untuk berekspresi, kendatipun ekspresi tersebut kadang membawa petaka juga. Misalnya, postingan di media sosial ternyata berujung di hotel prodeo. Jika dahulu mulutmu harimau mu, hari ini bukan hanya mulut, tapi jempol yang menyentuh android juga termasuk kategori harimau yang jika salah penggunaanya, bisa berbahaya bagi pelakunya. Marak sekali ujaran kebencian dan kebohongan beredar di media sosial. Apalagi mendekati momen politik pemilu 2019, dan kontestan pemilu 2019 juga menempatkan petahana sebagai calon peserta pemilu. Ada posisi saling melekat antara posisi bakal calon dan posisi penguasa atau pemimpin negeri. Disisi lain, antar pendukung juga berlomba mengekplorasi masing-masing yang didukungnya, bahkan menjelekkan lawannya. Disinilah kadang kita lupa bahwa ada sisi etik yang hilang, yakni menghargai pemimpin yang juga penguasa negara. Simbolisasinya jika di Indonesia adalah presiden. Mau bagaimanapun, pak Jokowi masih presiden Indonesia, menghina beliau saat ini, sama halnya menghina simbol negara. Jika simbol negara kita hina, maka dimana harga diri sebagai bangsa? Jika kita anggap, hinaan, cacian, dan umpatan kepada pemerintah adalah bentuk kritisisme kepada pemerintah, atau controling bagi pemerintah, bukankah ada mekanisme yang bisa ditempuh? Bukankah cara halus dan diplomatis masih bisa dilakukan? Bukankah kita bangsa yang beradab? Ingatlah bahwa: ﻣَﻦْ ﺃَﻫَﺎﻥَ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﺃَﻫَﺎﻧَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻗﺎﻝ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ “Barang siapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi [2224]). Semoga bencana yang menimpa Indonesia adalah teguran yang...

Read More

Kuliah dari Enterprenuer

Mendengar tutur pengetahuan diluar teks dan dunia akademik memang sering saya lakukan. Sebagai wujud kesadaran bahwa dimana pun dan kapan pun kita bisa belajar. Kesan beda ketika hal yang kita dengarkan adalah yang setiap hari kita lakoni tapi dalam perspektif beda. Misalnya mensyukuri nikmat Allah SWT, paling sering yang ucapan hamdalah dan sedikit shodaqoh. Sementara perspektif salah satu teman yang berprifesi sebagai enterprenuer, wujud syukur adalah perasaan aman dan nyaman mengingat Allah SWT dimana pun, kapan pun, situasi apa pun, dan dengan siapa pun. Kalimat sederhana tapi sulit menerapkan dalam kontinyuitas panjang. Masalahnya dimensi yang diambil dalam kalimat tersebut adalah makro dengan ukuran yang hanya kita dan Allah SWT yang tahu. Kalau sekedar nyaman, semua orang bisa. Tapi kalau nyaman dan selalu mengingat Allah SWT sebagai tuhan maha segalanya. Hal inilah yang sulit tanpa belajar dan mencoba. Terasa aneh juga ketika diskusi membahas bagaimana berjejaring dalam lingkup kebersamaan atau jama’ah. Pondasi kita sebagai landasan berfikir jelas berbeda, sementara saya adalah akademisi yang juga bergaul dengan jama’ah dan dan jam’iyyah, sementara teman enterprenuer hanya tahu sebatas jama’ah adalah jama’ yang lebih dari tiga orang. Tapi itulah dinamika diskusi kita selalu enjoy dalam sela-sela rutinitas harian. Prinsipnya, kita harus memulai untuk bergerak baik di dunia nyata, maupun dunia maya, serta tidak lupa dengan akar pijak kita sehingga jika ada turbulance, tidak terjadi masuk angin atau limbung lupa daratan atau justru menjadi...

Read More

Turn Back Hoax

http://www.lakpesdamtulungagung.or.id/wp-content/uploads/2018/10/VID-20181008-WA0005.mp4 Mundurkan hoax atau hilangkan hoax atau lawan hoax dengan info yang terang. Kurang lebihnya demikian arti yang dimaksud dari judul di atas. Betapa kita tahu bahwa informasi palsu adalah sumber kekacauan yang bisa menjadikan kesalah fahaman antar para pihak. Bahkan bisa memunculkan pertikaian antar bangsa. Pada Zaman rosulullah, pernah terjadi penugasan kepada Uqbah bin Walid bin Muith untuk melakukan penarikan zakat kepada Bani Mustholiq. Mendengar kabar tersebut, Bani Mustholiq dengan suka cita menyambut utusan Rosulullah dengan mendatangi dan berencana menjemput utusan tersebut. Akan tetapi Uqbah bi Walid bin Muith yang punya masalah pribadi dengan Bani Mustholiq, justru kembali memutar haluan dan menghadap Rosulullah dan menyampaikan bahwa Bani Mustholiq akan menyerang utusan rosulullah dan menuduh Bani Mustholiq sudah murtad dan tidak mau membayar zakat. Mendengar berita tersebut, Rosulullah marah dan menugaskan Khalid Bin Walid untuk klarifikasi kebenaran berita yang dibawa Uqbah bin Walid bin Mu’ith. Bersama beberapa orang, Kholid bi Walid sengaja memata-matai Bani Mustholiq dalam beberapa hari, mulai kegiatan pagi, sampai muncul waktu pagi kembali, dan ternyata, brrita yang disampaikan Uqbah bin Walid bin Muith tidak ada benarnya sama sekali. Ternyata Bani Mustholiq tidak murtad. Mereka bukan mau menyerang utusan rosulullah, tapi bermaksud menyambut utusan rosulullah karena suka cita yang mendalam. Sholat malam pun, juga dilaksanakan oleh Bani Mustholiq. Bahkan, sholat lima waktu juga dilaksanakan dengan berjama’ah. Akhirnya Khalid bin Walid pulang bersama rombongan untuk menyampaikan hasil investigasi...

Read More

Video Terbaru

Loading...