Penulis: nur udin

Deradikalisasi Dunia Maya (Part 4)

Pasca aksi teror bom Surabaya dan Riau, banyak kejadian yang latah mengiringinya. Misalnya kejadian yang menimpa seorang perempuan bercadar di Terminal Gayatri Tulungagung. Si Doi yang berpakaian serba besar dengan cadar dan tas ransel, sempat diteriaki teroris oleh warga yang melihat aksi mondar-mandir dan sesekali duduk sambil memainkan jari, yang akhirnya si perempuan naik bus Bagong, tapi diturunkan oleh petugas dan sempat pula dibawa ke kantor dinas perhubungan yang kebetulan berada satu komplek dengan terminal Gayatri Tulungagung. Ternyata si Doi adalah siswa salah satu SMP dan santri di sebuah pondok yang memang niat bolos. Agar aksinya tidak ketahuan, maka si Doi menggunakan cadar supaya tidak dihafal oleh pihak manapun. Akhirnya si Doi dijemput oleh pihak pondok pesantren. Para netizen saat itu mengabarkan dengan judul ” pemakai cadar tak boleh naik bis”. Padahal kejadian sebenarnya tidak demikian. Kejadian serupa juga dialami oleh seorang santri yang pulang dari pondok. Saat itu, kang santri membawa kardus dan tas ransel. Oleh petugas, kang santri disuruh mengeluarkan isi kardus dan isi tasnya karena dicurigai teroris. Untungnya kang santri yang sempat sewot saat disuruh membuka bingkisan kardus dan ransel tersebut masih kooperatif dengan petugas. Setelah selesai pemeriksaan, kang santri malah selfi dan ngopi dengan polisi yang mencurigainya. Ini bedanya santri pondok yang terbiasa dengan berbagai kondisi dan keadaan. Dia tidak dendam, tidak melawan hukum, tapi tetap taat hukum dan pemaaf. Terhadap. Kejadian ini, warga netizen...

Read More

Deradikalisasi Dunia Maya (Part 3)

Akhir-akhir ini, sudah menjadi keumuman memanggil seseorang yang terbiasa berada di masjid atau tempat pendidikan Islam dengan sebutan Ustadz. Bukan karena penghormatan semata, tapi panggilan Ustadz dikarenakan untuk “say hello dan keakraban saja”. Jadi jangan merasa bangga jika dipanggil Ustadz. Distorsi makna pada panggilan juga terjadi pada panggilan Kiai. Dahulu panggilan Kiai disematkan pada seseorang pemilik pondok pesantren yang ahli agama dan telah cakap secara kualifikasi dalam berbagai keilmuan agama, seperti Tafsir, Fiqih, Hadist, al-Qur’an, Tashawuf, Nahwu, Sharaf, Mantiq, Balaghah, Falaqiyah, dll. serta masih ditambah memiliki reputasi akhlaq sholeh dan wira’i. Intinya Kiai adalah seorang ‘alim dan ‘alamah, tapi hari ini siapa pun bisa dipanggil Kiai. Terlepas dari distorsi makna Kiai dan Ustadz tersebut, kiranya kita juga perlu faham subtansi tanggung jawab dari masing-masing. Untuk Kiai misalnya, selama ini para Kiai jarang mengeluarkan fatwa galak dan keras, misalnya memboikot sebuah produk atau mengharamkan produk tertentu. Berbeda dengan mereka yang digelari ustadz dan sering berseliweran di you tube. Mereka dengan mudah keluar fatwa bahkan fatwa wajib bela ini, wajib boikot produk ini, seakan mereka sebagai tim legalisasi tuhan semesta alam Allah SWT. Para Kiai yang cenderung kalem dan jarang mengeluarkan fatwa, bukan karena beliau tidak bisa membuat fatwa, tapi karena beliau tahu bahwa kepentingan umat lebih utama. Pemikiran para Kiai dalam bertindak adalah kemaslahatan umat. Jadi tidak mungkin Kiai yang memiliki masyarakat penanaman tembakau, trus Kiai tersebut mengharamkan rokok. Persis...

Read More

Marhaban Ramadhan 1438 H

Rindu adalah gelegak hati untuk segera berjumpa dengan yang kita cintai. Maka, “Rindu Ramadhan” memuat isyarat bahwa kita mencintai Ramadhan dan berharap segera bisa menemuinya. Jika kemudian kita bisa “bercengkerama” dengan Ramadhan sesuai syariat Islam, maka mendambakan pintu Ar-Rayyan di Surga kelak terbuka untuk kita, insyaAllah bukanlah sebuah mimpi. Rindu setahun yang tertahan,, Kini hampir terlepaskan,, Padamu, wahai bulan yang penuh kasih sayang dan ampunan,, Selamat Datang bulan Ramadhan,, Kami gembira menyambutmu,, اللهم بارك لنا في ما بقي من شعبان وبلغنا رمضان كما بلغتنا رجب وشعبان, واعنا على الصيام والقيام وقراءة القران بجاه سيد الانام …. برحمتك يا ارحم...

Read More

AIS ANAK TERORIS

Tulisan ini saya angkut dari Santrionline dengan tanpa perubahan sama sekali. Bocah perempuan berkaos kuning berkerudung putih lusuh diselamatkan Tuhan. Dia diapit ibu bapaknya mengendarai motor menuju Polres Surabaya. Beriringan dua abangnya naik motor bersiap menuju ke surga khayalan mereka. Sampai di gerbang Polres, ayah, ibu dan dua abangnya meledakkan diri. Bocah perempuan itu selamat karena terhimpit badan dua orang tuanya. Dia terpental oleh daya dorong bom yang saling berlawanan. Dia tersangkut di jasad ibunya. Sekujur tubuhnya berlumuran darah. ” Bangun Nak!,” Teriak AKBP Rony Faisal yang berlari kearah bocah yang mencoba bangkit merangkak dalam kondisi setengah pingsan. Detektif itu bergegas mendekati bocah, mengesampingkan parameter yang wajib dilakukan polisi sesuai ledakan bom bunuh diri. Dalam SOP, polisi tidak boleh mendekati lokasi bom bunuh diri karena ada kemungkinan sisa bom yang akan meledak setelah tertimpa bangkai teroris yang mati seketika. Bahkan polisi dilarang mendekati orang yang hidup di lokasi kejadian karena mungkin saja ada bom ditubuh mereka. Termasuk ditubuh mungil yang kemudian dibopong oleh AKBP Rony Faisal menjauhi lokasi dengan berlari. Kini bocah perempuan itu diketahui bernama AIS yang dikenali dari tulisan di celana dalamnya. Usianya antara 6 sampai 8 tahun. Bocah mungil itu tubuhnya tidak bersimbah darah dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Bayangkara Surabaya. AIS jika sudah besar mungkin jadi dokter, pilot,polisi guru atau ustadzah. Dipastikan dia tidak akan seperti orang tuanya yang gelap mata dan hatinya didoktrin...

Read More

Deradikalisasi Dunia Maya (Part 2)

Belajar dari pengalaman, itulah kalimat yang tepat untuk disematkan pada saat merujuk apa yang disampaikan oleh Bassar al Asad presiden Suriah yang sudah 7 tahun memerangi Mega-Terorisme di negaranya. Kalimat yang sempat dilontarkan oleh Asad adalah: “Para teroris hanya memiliki satu pesan. Yang mana dari ideologi gelap yang mereka bawa, bagi mereka, siapapun yang tidak berpikir seperti mereka tidak layak untuk hidup.” Walaupun Suriah belum sepenuhnya berhasil menyelesaikan konflik internal negaranya, minimal statement di atas adalah cerminan pengalaman yang bisa dijadikan perbandingan dalam memandang dan menilai perilaku teroris. Awal mula munculnya pertikaian oleh pemberontak di Suriah adalah ceramah-ceramah provokatif oleh kelompok-kelompok tertentu yang memberikan klaim sebagai kelompok paling benar dengan dua tema, yaitu tema anti pemerintah dan tema agama. Dari tema anti pemerintah, ada upaya menurunkan kredibilitas Basaar al Asad. Apa yang dilakukan pemerintah selalu dianggap pencitraan dan dikatakan salah oleh kelompok oposisi. Tapi hal tersebut tak menyurutkan pilihan mayoritas masyarakat Suriah kala itu, faktanya Asad menang telak dalam pemilihan langsung. Tidak tinggal diam atas hasil tersebut, kelompok oposisi mulai melakukan gerakan bersenjata dengan menciptakan huru-hara dan teror kepada pemerintah. Melihat aksi tersebut Asad mengerahkan pasukan untuk mewujudkan keamanan, tapi aksi Asad diplintir oleh oposisinya. Justru tindakan Asad disebut sebagai kekejaman dan penindasan terhadap para pejuang Suriah yang aslinya adalah pemberontak. Dari aksi diatas, dapat kita simpulkan bahwa propaganda yang dilakukan memang benar-benar masif, baik di dalam negeri maupun...

Read More

Video Terbaru

Loading...