Disarikan oleh Gus Rizal Mumaziq dari ceramah KH Taufiq Abdul Jalil yang disampaikan dalam Pelantikan PW IPPNU Jatim di Aula Yayasan PPBU Tambakberas, Ahad (2/4/2017).

KH Taufiq Abdul Djalil, adalah mantan Ketua PC IPNU Jombang dan mantan Wakil Ketua PW IPNU Jatim, sekarang menjabat Wakil Ketua PCNU Jombang, Wakil Ketua PW RMI NU Jatim, 

Ketua Ikatan Alumni PPBU Tambakberas, 

Pengasuh PP Al Kautsar Dukuh Kutorejo Pandaan, Pasuruan

Berita-berita hoax dan serangan bertubi-tubi yang ditujukan kepada kiai dan amaliah NU di medsos sekarang ini semakin marak. Tujuan mereka ini cuma satu.  

Mereka hendak memisahkan warga NU dari jam’iyyah NU. Mereka hendak memisahkan warga NU dari kiai NU. Ibarat domba yang keluar dari gerombolannya, macan akan mudah menerkamnya. 

Macan tak mungkin bisa menerkam seandainya domba utuh dan kompak dalam kelompoknya.  

Dalam kondisi seperti itu, kita harus benar-benar memegang pesan Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang ditulis dalam Qonun Asasi NU, yakni QS. Ali Imron 103. Wa’tashimu bihablillahi jami’an wala tafarraqu. Tetaplah kalian berpegang teguh dengan tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah-belah.

Karenanya, mari kita berpegang dng tali yg  dipegangi para kiai NU.

Mbah Hasyim mengingatkan dawuh Rosulullah SAW, Man syaddza, syaddza ilannar. Siapa yang keluar dari jamaah dan jamiyah, akan mudah tergelincir ke neraka. Akan mudah diterkam harimau.

Bagaimana agar kita bisa tetap mantab berjamaah dan berjamiyah di NU? Solusinya adalah dengan benar-benar memegang manhaj ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyyah.

Aswaja yang kita pegang ikut kriteria Nabi Muhammad SAW, ma ana alaihi wa ashhabi. Yakni segala yang diteladankan Nabi dan para sahabat.

Aswaja An-Nahdliyyah bukan Syiah, karena Syiah hanya mengagungkan Sayyidina Ali. Tidak mengakui Sahabat Nabi yang lain. 

Aswaja An-Nahdliyyah bukan Wahabi karena Wahabi memvonis ilmu tasawuf sesat dan para ulama sufi dihukumi kafir zindiq dan dihalalkan darahnya. Padahal para Sahabat Nabi merupakan sufi sejati. Ketika Nabi minta para sahabat mengumpulkan hartanya untuk jihad, Abu Bakar menyumbang seluruh hartanya. Nabi  sampai tanya, lalu keluargamu bagaimana wahai Abu Bakar? Abu Bakar menjawab, keluargaku saya pasrahkan kepada Allah. Kebeningan hati seperti Abu Bakar itulah yang digembleng melalui tasawuf. 

Sahabat Umar sendiri menyumbang separoh hartanya.  Kata-kata Sahabat Umar dalam dunia tasawuf yang sangat terkenal; 

Letakkanlah harta di tanganmu, jangan dihatimu. 

Hidup di dunia tapi tidak kedunyan seperti itulah yang diajarkan para ulama sufi.

Ustadz-ustadz Salafi Wahabi yang sekarang ini melabeli kelompoknya dengan Salafy maupun Assunnah,  tidak mungkin mau mengutip nasehat-nasehat tokoh sufi seperti Imam Ghazali.

Wahabi takfiri yang gampang menuduh kelompok lain bid’ah, sesat dan kafir, jelas tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Man kaffaro musliman falahu kufruhu. Siapa yang menuduh muslim sebagai kafir, maka kekafiran itu kembali kepada si penuduh. 

Muktamar NU di Lirboyo 1999 memutuskan bahwa salah satu ciri khas Aswaja An-Nahdliyyah adalah menganggap semua orang yang telah bersyahadat sebagai muslim. Tidak boleh dituduh kafir. Sehingga kalau mati harus dishalati. Sebagaimana disebut dalam QS Al-Hujurat 15. 

Aswaja An-Nahdliyyah bukan Khawarij yang gampang mengkritik  penguasa dan ulama.  Khawarij ini menghalalkan segala cara untuk mengganti penguasa.  Mendirikan negara dengan cara kekerasan seperti ISIS. Maupun mendirikan khilafah  secara  damai seperti HTI. 

NU sendiri menolak khilafah karena Muktamar NU ke 9 di Banjarmasin 1936 menetapkan bahwa negara yang hendak didirikan bukanlah negara Islam. Melainkan darussalam yang melindungi dan mengayomi seluruh anak bangsa. 

Dalam konteks hubungan Islam dan negara, NU berjuang agar semua individu menjalankan syariat agama. Sehingga tercipta masyarakat yang menjalankan syariat agama.

NU mementingkan isi, bukan bungkus. 

Guyonannya, penting mana antara kutang dan isinya? 

Cak Nun bilang, lebih baik minyak onta cap babi, dari pada minyak babi cap onta?

Negara Pancasila yang damai dan aman sehingga masyarakatnya bisa tenang beribadah. Tentu lebih baik daripada negara Islam yang dilanda perang seperti Syria dan Irak sekarang ini.

Aplikasi Aswaja Manhaj Husnudzan 

Kebodohan membuat anak-anak orang NU gampang direkrut kelompok lain ketika masuk perguruan tinggi. Utamanya di perguruan tinggi negeri. Benteng utama yang harus dipegang agar tidak gampang tergiur kelompok lain adalah husnudzan, baik sangka dengan kiai dan ajaran kiai. 

Yakinlah bahwa semua amaliah dan ajaran kiai NU pasti ada dalilnya. Baik itu Qur’an Hadits, Ijma’ Qiyas maupun nasehat wali dan ulama. Jika kita belum nemu dalilnya, sebab utamanya adalah  kebodohan kita. Orang bodoh yang berprasangka baik, lebih mulia dibanding orang berilmu yang berprasangka buruk.

Berprasangka baik yang diperintahkan QS Al-Hujurat 12  itu bagian terpenting dari akhlak. Dan akhlak, lebih didahulukan dari pada ilmu. Al-Akhlak fauqol ilmi.

Buahnya ilmu adalah akhlak. Dan akhlak inilah sumber hidayah. Man zada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu’dan. Siapa tambah ilmu, tapi tidak tambah hidayah, maka hanya membuatnya bertambah jauh dari Allah. 

Kalau Tidak Tahu Dalil, Bilang Saja, Dawuhe Kiaiku Iku Yo Dalil

Jika tidak tahu persoalan agama, QS Annahl 43 memerintahkan kita untuk bertanya kepada ahli zikir. Siapakah ahli zikir itu? Ahli zikir itu disebut dalam QS Annahl 42. Alladzina shobaru wa ‘ala robbihim yatawakkalun. Orang-orang yang sabar dan senantiasa tawakkal kepada Allah.

Intinya, kalau bertanya suatu masalah, bertanyalah kepada orang yang ngedem-ngedem. Orang yang nasehat-nasehatnya mengarahkan pada kedamaian. Yang menyuruh sabar dan tawakkal. Bukan yang memprovokasi agar marah lalu demo turun jalan. 

Orang yang ahli zikir  seperti itu, di sekitar kita biasa disebut kiai atau ulama. 

Mayoritas kiai NU memiliki ciri ahli zikir ini.

Taat Tanpa Takon 

Ilmu itu ada dua. Pertama, ilmu yang harus dicari dengan belajar, membaca, meneliti dan berlatih. Sebagaimana disebut dalam QS Al Alaq 4, allama bil qolam.

Kedua, ilmu yang hanya bisa diperoleh dengan ketaatan dan pengabdian. Sebagaimana yang disebut dalam QS Alkahfi 65. Wa allamnahu min ladunna ilma. Biasa disebut ilmu laduni. 

Ilmu ini hanya bisa diperoleh dengan cara tunduk, patuh dan taat kepada guru. 

Sebagaimana diterangkan dalam QS Alkahfi 65-82. Nabi Musa hendak belajar  ilmu itu kepada Nabi Khidir. Nabi Khidir menyuruh Nabi Musa diam. Tapi Nabi Musa justru banyak tanya. Sehingga akhirnya gagal berguru. 

Kenapa Nabi Musa berani bertanya kepada Nabi Khidir? Karena Nabi Musa tidak husnudzon. Melihat Nabi Khidir membunuh anak kecil, Nabi Musa langsung tanya, kenapa kok anak kecil itu dibunuh?. Sebenarnya pertanyaan ini normal. Tapi membuat gagal memperoleh ilmu. 

Para ulama sejak dulu terbiasa beda pendapat. Tapi tidak pernah saling mengkritik. 

Imam Syafii Subuh qunut, Imam Maliki tidak. 

Imam Syafii tidak pernah mengkritik Imam Maliki yang merupakan gurunya. Bahkan ketika shalat di daerah Imam Maliki, Imam Syafii tidak qunut. Ini demi menghormati gurunya. Sekali lagi, al akhlak  fauqol ilmi. Akhlak itu di atas ilmu. 

Jika memang tidak setuju dengan kiai NU atau pengurus NU, sebaiknya diam. Tidak usah mengkritik lewat media sosial. Ini hanya menyebabkan keberkahan dalam ber-NU hilang. 

Yakin Semua Sikap di NU Pasti Ada Dalil 

Apakah ada dalilnya kalau sowan kiai NU itu dengan membawa sesuatu, misalnya gula, dan kopi? Ada. 

Ya ayyuhal ladzina amanu idza najaitumurrosula faqoddimu baina yadai najwakum shodaqoh. Wahai orang beriman, jika kamu hendak sowan Rosulullah dahulukan beri sedekah. (QS Al mujadalah 12). 

Asbabun nuzul ayat itu memang menegur orang-orang yang sowan Nabi tanpa membawa sedekah. Padahal Nabi tidak punya makanan untuk suguhan tamu.  Nabi jadi malu. Allah menyuruh orang sowan Nabi bawa sedekah agar bisa dipakai suguhan sehingga Nabi tidak malu.  

Al ibrotu bi umumil lafdzi la bi khususis sabab. Pelajaran dari ayat Quran itu diambil dari keumuman teksnya, bukan dari sebab khususnya. 

Karena itu semua ayat Qur’an tetap berlaku sepanjang zaman dan waktu.

Pemberlakukan ayat ini bisa dalam tiga hal. Pertama, kalau mau sowan ke makam Nabi di Madinah hendaknya bawa sedekah. Kedua, kalau mau menghadiri acara Salawat Nabi hendaknya bawa sedekah. Ketiga, kalau mau sowan pewaris Nabi yakni para ulama hendaknya bawa sedekah. 

Ayat 11 QS Al Mujadalah menjelaskan tentang ilmu. Yarfa’illahulladzina amanu walladzina utul ilma darojat. Dalam konteks munasabah atau korelasi antar ayat, bisa diambil pelajaran bahwa murid yang ingin berhasil dan barokah ilmunya, kalau sowan guru juga hendaknya membawa gula kopi. 

Dari sini kita bisa menemukan dalil-dalil etika mencari ilmu yang disebutkan dalam Ta’limul Mutaalim. Karena sekarang ini, ada yang mengkritik bahwa isi Ta’limul Mutaalim tidak berdasar Quran Hadits, jadi tak perlu dipakai.  Sekali lagi, nasehat-nasehat ulama seperti tercantum dalam Ta’limul Mutaalim pasti ada dalilnya. Kebodohan kita semata yang membuat belum menemukan dalilnya. Jadi kembali ke dalil, nasehat kiaiku iku yo dalil.

Ciri Postingan NU 

Banyak beredar postingan di media sosial mengaku orang NU, tapi dalam memanggil atau menyebut kiai tidak beretika. Tidak bertatakrama. Langsung menyebut namanya tanpa didahului penghormatan. Misalnya, nyebut Said, bukan Kiai Said.

Ciri orang NU selalu menyebut dengan penghormatan. Adakah dalilnya?

 La taj’alu du’aarrosuli bainakum kadu’ai ba’dikum ba’dho. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain. (QS Annur 63)

Asbabun nuzul ayat itu memang menegur orang-orang yang memanggil Nabi dengan namanya secara langsung. Misalnya, Mad, Muhammad. Ayat ini menyuruh kaum muslim memanggil Nabi dengan penuh penghormatan. Sebab di Alquran, Allah memanggil semua nabi langsung namanya. Ya Adam, Ya Ibrahim, Ya Musa, dan lain-lain. Khusus Nabi Muhammad SAW, Allah memanggil penuh penghormatan. Ya ayyuhannabiyyu, sebagaimana dalam Q S Attholaq dan Attahrim. 

Makanya kalau memanggil Nabi harus didahului Nabi, Rosul, dan lain-lain. 

Al ibrotu bi umumil lafdzqi la bi khususis sabab. Pelajaran dari ayat Quran itu diambil dari keumuman teksnya, bukan dari sebab khususnya. 

Karena itu semua ayat Qur’an tetap berlaku sepanjang zaman dan waktu

Pemberlakukan ayat ini bisa dalam dua hal. Pertama, kalau menyebut nama Nabi dalam shalat maupun dimanapun harus penuh penghormatan dan memuliakan.  Misalnya diawali sayyidina, atau Nabi atau Rosul. Tidak boleh langsung namanya.  

Kedua, ulama adalah pewaris para Nabi. Jadi kepada mereka pun, kita harus memanggil penuh penghormatan dan memuliakan. Misalnya diawali dengan Kiai, Bu Nyai, Gus, Neng, Guru, Ustad, Ustadzah, dan lain-lain.

Pengkaderan Aswaja 

Tugas utama IPPNU adalah melakukan pengkaderan. Pengkaderan itu melahirkan generasi yang lebih baik dari kondisi yang sekarang. Tantangan ke depan semakin berat. Pengkaderan harus semakin ditingkatkan. Utamanya untuk penanaman akidah Ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyyah. 

Materi pengkaderan yang diberikan. Manhaj aswaja yang disampaikan, harus mampu menjawab persoalan-persoalan kekinian. Sekaligus merespon isu-isu yang berkembang. Sehingga membuat kader semakin mantab dalam berjuang di IPPNU.