Sabtu, pukul 19:30 yang bertepatan dengan 14 Oktober 2017 di PCNU kabupaten Tulungagung, berkumpul 300 Kader Penggerak NU yang akan mengikuti kegiatan apel Front Penggerak Pancasila di Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah yang juga akan dihadiri sejumlah 20 ribu kader NU lainnya dari berbagai daerah se-Jawa.

Diawali dengan registrasi, pengecekan peserta dan dilanjutkan dengan upacara serta sambutan pemberangkatan yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Achmad Patoni selaku perwakilan Tanfidziyah PCNU yang tidak bisa hadir secara langsung dalam pemberangkatan karena kegiatan yang bersamaan.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Achmad Patoni menitipkan pesan terkait tiga hal: Pertama, kegiatan apel ini bukanlah main-main, ini adalah komitmen dan kesetian kader. Oleh karenanya semangat menggerakkan NU harus dipegang teguh dalam aspek perjuangan berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama’. Kedua, sampaikan salam PCNU Tulungagung, kepada PWNU dan PBNU yang hadir di Tawangmangu, dikarenakan PCNU harus membagi waktu dengan adanya acara di Pondok Tebuireng pada tanggal 15 Oktober sehingga PCNU tidak bisa mendampingi para kader menuju Tawangmangu, dan yang ke tiga, para kader harus bisa menjaga nama baik PCNU dan nama baik Tulungagung. Kendati kegiatan ini tidak mengandung unsur kompetisi, tapi para kader adalah kontingen Tulungagung yang harus bisa menjaga nama baik Tulungagung. Sebagai penutup sambutanya, Prof. Dr. H. Achmad Patoni menyampaikan satu hal penting, yaitu: “Para Kader yang mengikuti acara di Tawangmangu, jangan lupa kewajiban Sholatnya”. Jangan sampai terjadi karena semangat dalam acara apel Front Penggerak Pancasila ke Tawangmangu, tapi justru mengorbankan sholatnya.

Mengendarai 13 Mini bus seluruh rombongan berangkat ke Tawangmangu setelah upacara pembukaan dipungkasi dengan pembacaan doa oleh Kyai Salam.

Setelah melewati beberapa kota, iring-iringan rombongan masuk di daerah Tawangmangu tepat pukul 04:00 dan bersiap mencari lokasi parkir, karna radius 1,5 KM dari lokasi, kanan kiri jalan sudah penuh dengan bus dan mobil yang berderet parkir.

Dalam suasana malam, setelah berjalan sekian jauh dengan udara dingin dan medan yang menanjak area pegunungan, rombongan berpencar mencari tempat sholat Subuh. Dan ternyata, antrian wudhu dan antrian sholat luar biasa panjangnya, sampai-sampai balai kecamatan Karanganyar pun digunakan para kader untuk sholat.

Selepas melaksanakan sholat Subuh, semua rombongan berjalan kaki menuju lokasi acara yang berjarak 1 KM dari tempat Sholat dan Kecamatan. Sesampainya di lokasi, ternyata masa sudah merata dan menyebar di seluruh sudut bumi perkemahan Tawangmangu. Bahkan jumlah peserta diperkirakan 25 ribu peserta yang sebelumnya ditarget hanya sampai 20 ribu. Karena menurut panitia, data peserta pada hari Sabtu sudah memenuhi target dan kapasitas tempat, tapi permintaan terus menerus berjalan.

Apel Front Penggerak Pancasila diadakan adalah dalam rangka, menjawab tantangan bangsa yang kian hari semaki berat. Diantaranya klaim kelompok terhadap bangsa Indonesia sebagai bangsa radikal, dan liberal. Dengan apel ini, mari kita tunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak gampang melupakan jasa para pejuang dan jasa para Ulama demikian kutipan sambutan K.H Said As’ad Ali mantan wakil ketua PBNU yang juga alaumni pondok Krapyak Jogjakarta.

Dalam sambutan lain, K.H Mun’im DZ selaku tokoh penggerak nasional juga menyampaikan, bahwa warga Indonesia patut bersyukur dan berbangga dengan memiliki Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Justru karena Pancasila, Indonesia menjadi negara yang berbangsa satu dengan kebhinekaan yang erbeda dengan prototipe bangsa lain di dunia ini.

Pemilihan lokasi Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah sebagai lokasi kegiatan dengan gunug lawu sebagai background, bukanlah tanpa alasan. Diawali dari apel akbar di Pancerdor Pacitan, Lantas Istighosah akbar di Sidoarjo, disusul dengan apel kesetiaan penggerak pancasila, seakan menjadi rangkaian puzlle bagaimana sebuah miniatur bangunan perisai dan paku bumi ditancapkan. Terlepas ini hanya sudut subyektifitas penulis saja. Semoga bangsa Indonesia kokoh dalam persatuan dan kesatuannya.(Din)