Di tengah persiapan panitia menyelenggarakan Apel Kesetiaan NU terhadap NKRI, Sabtu (7/1/17) di kawasan Pantai Pancer Door Pacitan, NU berduka. Tidak hanya Pacitan dan Jawa Timur, namun warga NU seluruhnya merasa kehilangan atas wafatnya Mbah Umar Tumbu.
Sosok ulama panutan, seorang nasionalis sejati, pejuang syiar Islam NU; dipanggil menghadap Sang Khaliq, Rabu, 4 Januari 2017, pukul 22:55 di RSUD Pacitan. 

Berikut tulisan KH Mun’im DZ, sesaat setelah mendengar kabar Mbah Umar Tumbu tutup usia. Tulisan ini sepenuhnya Pesan Langsung dari Mbah Umar Tumbu serta refleksi Tim PKPNU ketika sowan ke beliau pada 4 Desember 2016 lalu, di sela-sela pelaksanaan PKPNU PCNU Pacitan Angkatan I, tanggal 2-4 Desember 2016. 

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah meninggal dunia; KH. Umar Syahid, tokoh NU Pacitan dalam usia 123 tahun. 

Beliau adalah santri dan teman seperjuangan KH. Hasyim Asyari. Waktu mudanya sesepuh Pacitan  itu hidup sebagai kyai kelana, dengan menjual gerabah dan tumbu.  Hasil penjualannya digunakan untuk membangun musholla dan masjid di sekitar Pacitan, Ponorogo dan Madiun.  Karena itu beliau dikenal sebagai Mbah Tumbu.  

Saat peristiwa pemberontakan  PKI 1948 di Madiun, beliau sedang berjualan di sana, sebagai orang yang menyaksikan langsung pembantaian para ulama. Agar selamat, karena dikira orang biasa, beliau menjadi informan para kyai dalam menghadapi PKI. Beliau bisa berjalan ke mana saja tanpa dicurigai PKI. 

Pesan terakhir beliau kepada Abdul Mun’im DZ beberapa saat sebelum meninggal adalah: “jaga persatuan, jaga keimanan keluarga, jaga nama baik NU, agar NU kembali menjadi panutan bangsa. 

Walaupun hidup dalam penderitaan, ulama waliyullah ini selalu memikirkan NU dan bangsa.  Karena itu, saat terjadi demo di Jakarta (red. Aksi 212) beliau mengajak keluarganya bermujahadah, karena mengkhawatirkan terjadinya perpecahan bangsa.

Beliau ulama waskito (ma’rifat) walau tidak pernah lihat televisi atau memakai handphone, tetapi mengetahui persis anatomi konflik politik nasional yang sedang terjadi.

Pengabdian Tanpa Batas

Mbah Umar Syahid alias Mbah Umar Tumbu adalah sosok ulama yang pengabdiannya pada NU dan bangsa Indonesia tanpa batas.  Ketika fisiknya  masih kuat,  beliau keliling Jawa untuk menyiarkan Islam ala NU dengan modal hasil berjualan tumbu.  Ketika tidak lagi mampu berjualan bukan berarti pengabdiannya selesai, sebaliknya, beliau memberi contoh yang sangat bagus, seolah menyindir kita yang masih sehat.  

Beliau rela meninggalkan pesantrennya, kemudian mendirikan pendopo NU di atas lahan 1.900 M2 di sebuah desa di puncak bukit di Pacitan Selatan. Di samping pendopo itu didirikan menara NU setinggi 17 meter, yang dari dasar hingga puncaknya tertera logo NU serta tidak lupa bendera  Merah Putih. 

Bagi orang lain, akan menganggap ini perbuatan sia-sia,  mengerjakan sesuatu yang tidak jelas manfaatnya, karena di pedalaman yang jarang dilihat dan didatangi orang. Akan tetapi beliau sedang membuat mercusuar untuk memberi kabar pada dunia bahwa NU masih ada, walaupun sekian lama ditindas orang. 

Menara itu juga sebagai mercusuar,  agar kapal yang lewat, yaitu agama lain dan ideologi lain tidak menabrak bumi NU ini dan bumi nusantara. Kalau sampai menabrak, kapal bisa pecah dan tenggelam karena yang ditabrak adalah karang. Menara itu dirancang sendiri dan dibangun sendiri, setelah itu diserahkan kepada PCNU Pacitan. 

Sekali lagi, beliau menyindir kita. Selama ini banyak orang NU mengambil aset NU, sebaliknya beliau menyerahkan aset dan fasilitasnya pada NU. Dan di hari tuanya, Sang Waliyullah itu rela hidup sendiri di tempat sepi sebagai Banser atau satpam penjaga mercusuar NU. 

Persis seperti KH Muchid Muzadi, walaupun sudah sangat udzur, tetapi kalau diajak bicara NU dan NKRI langsung perkasa kembali saking semangat dan cintanya pada NU. Malah saya (Mun’im DZ) yang merasa kasihan, karena setiap panutan selalu ada hal yang ditahan seolah masih ada yang ingin disampaikan dan ada banyak hal yang ingin beliau tanyakan kepada kami, bagaimana keadaan NU sekarang ini?. 

Semoga kita tidak hanya bisa mengagumi, tentu beliau akan bahagia kalau kita bisa meneladani. Dengan begitu tercapailah cita-cita beliau, meninggal  sebagai orang NU (walatamutunna illa wa antum Nahdliyun). 

Demikian kesan pertemuan saya dengan beliau sesaat sebelum beliau mengakhiri perjuangannya untuk bertemu  dengan Tuhan. (tim)