#Coca Cola Saja jika di Arab tampilnya juga pakai bahasa Arab Bro!!

Setiap tempat ada ucapannya dan setiap ucapan ada tempatnya “Papan Nggowo empan”,itulah peribahasa Jawa yang digunakan untuk menyatakan situasi lokasi juga punya kewenangan memilih kalimat dan ucapan yang tepat. Sehingga tidak hanya bicara tentang kebaikan tapi lebih kepada bicara tentang yang Ma’ruf (baik dan benar) yang pada akhirnya seseorang dituntut pinter dan bener. 

Apakah ada bedanya antara Pinter dan Bener? Pinter bersumber pada pengetahuan sedangkan Bener bersumber pada Spiritualitas. Keduanya beda dan harus beriringan supaya yang dihasilkan adalah qoulan ma’rufan(ucapan yang baik dan benar) atau amalan sholihan(perbuatan yang sholih).

Di dalam Al-Qur’an, perintah untuk berbicara yang Ma’ruf (baik dan benar) menegaskan bahwa menyampaikan ucapan juga ada ilmunya. Dengan kaidah  likulli maqoolin maqoom, wa li kulli maqoomin maqool (setiap ucapan itu ada tempatnya, dan setiap tempat itu ada ucapannya,contoh:

1. Membaca ayat Al-Qur’an itu adalah perbuatan yang baik, tapi dianggap tidak benar jika ayat Al-Qur’an dibaca sambil kencing di toilet.

2. Mengucapkan kata alhamdulillah itu baik, akan tetapi akan dianggap sebagai penghinaan jika diucapkan sebagai jawaban atas wafatnya seseorang.

3. Menyeru kebesara Allah SWT dengan Takbir di Malam dan Siang yaumul I’daini(dua hari raya) dijalan Raya dan seluruh pelosok negeri itu bagus, tapi kalau Takbir untuk mukul dan menghujat orang? ya gak ada baiknya Bro..!!

Maka dari itu, dakwah juga harus dibekali dengan pengetahuan tentang bagaimana menyampaikan sesuatu agar menjernihkan suasana bukan justru memperkeruh keadaan. Seperti kisah Nabi Musa yang diperintah untuk menghadap Fir’aun, penguasa Mesir yang dzalim dan biang kemusyrikan. Tapi, meskipun kondisi Fir’aun seperti itu, Allah perintahkan Nabi Musa untuk hormati Fir’aun dalam kapasitasnya sebagai kepala negara, yaitu dengan berkata yang santun:

.اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Pergilah kalian berdua (Musa dan Haru) menghadap Fir’aun sungguh ia telah melampaui batas. Ucapkanlah kepadanya perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia mengingat dan takut kepada Allah. (Qs Thoha ayat 43-44)

Kalau melihat Fir’aun yang Jelas sangat kurang ajar dengan memproklamirkan diri sebagai tuhan, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk tetap menghormati dalam konteks Kepala Negara, lha kok kita mau kurang ajar dengan mengolok dan mengumpat kepala Negara?

Di dalam Surat An Nahl 125 disebutkan bahwa:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Inti dari tulisan diatas adalah pentingnya Akhlaq, Etika,Sopan Santun dalam melakoni segala hal, apalagi dalam penyampaian ilmu dan Dakwah. Seberapa indah dan mulya tujuan kita, tanpa cara dan media bahkan strategi yang baik, jangan harap ada bekas atau atsar dari apa yang kita sampaikan.