Roja’ adalah pengharapan. Bukan rujak yang biasanya dijajakan. Roja’ adalah harapan untuk terjadinya perubahan dalam setiap kesempatan.

Diceritakan dalam bab Roja’ yang ditulis Imam Al Ghozali di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, pada hari akhir saat semua manusia diadili dan dimasukkan surga atau neraka, Allah SWT memanggil dua orang hamba yang baru diambil dari neraka, keduanya masih memakai seragam khas neraka.

Allah bertanya kepada salah satu dari keduanya: Bagaimana rasanya di neraka? Jelas tidak enak gusti, wong neraka kok panjenengan tanyakan bagaimana rasanya (jawab penghuni neraka pertama), oooo kalau begitu, kamu kembali ke neraka! Perintah Allah kepada orang pertama dan langsung dijawab “siap gusti” orang pertama menjawab dengan semangat dan langsung berlari menuju ke neraka. Melihat semangat orang tersebut, Allah menghentikan lari semangat orang tersebut dan bertanya ” hai fulan, kamu saya suruh kembali ke neraka kok semangat sekali, katanya neraka tidak enak?, wahai Gusti Allah, saya semangat karena saya senang mendengar perintahMU ya Allah, jika selama di dunia aku malas dan menolak terhadap perintahMU, maka sekarang, aku berubah dan semangat melaksanakan perintahMU ya Allah. Sudahlah, masuk surga sana!. Perintah Allah SWT setelah mendengar jawaban sang hamba tersebut.

Selanjutnya giliran orang kedua yang ditanya, “bagaimana di neraka?” ia pun menjawab dengan jawaban “tidak enak gusti, isinya neraka siksaan dan adzab yang bertubi-tubi. Kalau begitu, kamu kembali ke neraka!. Si orang ini, masih tolah-toleh dan tak bergeming sama sekali, bahkan tak beranjak sama sekali dari tempat semula. Sampai akhirnya Allah bertanya ulang, kenapa kamu tidak segera pergi menuju neraka ” Ya Allah, sungguh tak pernah terbayangkan olehku, kecuali hanya bayangan pengampunanMU saat aku keluar dari neraka”. Mendengar jawaban itu, Allah SWT memerintahkan pada orang tersebut untuk dimutasi ke surga.

Qudroh dan Irodah Allah SWT memang tak bisa ditebak oleh manusia, Allah berkuasa untuk mengampuni siapa saja yang dikehendaki, dan mengadzab yang Allah SWT kehendaki pula. Maka jika masih ada yang sok ektrimis dengan sok tegas berdalil dan mengkafirkan orang lain, sejatinya dia ingkar dengan Qudroh dan Irodahnya Allah SWT.

Hamba yang pertama diampuni Allah SWT dan tidak jadi kembali ke neraka, karena semangatnya diperintah oleh Allah SWT, dan yaqin bahwa perintah Allah SWT wajib di taati. Sementara hamba yang kedua diampuni Allah SWT karena khusnudhan hamba tersebut, bahwa Allah SWT memiliki kehendak baik kepada semua hambanya.

Maka, jika ada kelompok yang mengkafirkan kelompok lain, sejatinya mereka miskin ilmu dan besar semangat dalam beragama. Mereka lupa bahwa sifat Allah SWT ada 99. Mereka hanya menampilkan satu sifat saja. Mereka lupa bahwa logika manusia tidak akan mampu menembus Qudroh dan Irodahnya Allah SWT.

Dalam perjalanan sejarah, kita bisa melihat bagaimana Sa’labah yang sangat dipuja dengan kegigihanya beribadah di Masjid dan ketika diberikan kekayaan sampai diakhir hayat, justru Su’ul Khotimah.

Kita juga tahu bahwa Darroh (menjadi muslim) padahal dia adalah putra Abu Lahab yang memusuhi Nabi Muhammad SAW. Ada nama Kholid bin Walid, panglima perang terkenal dan tak pernah dikalahkan dalam peperangan membela rosulullah, Kholid bin Walid juga masybur sebagai panglima perang yang menyimpan potongan rambut Rosulullah di Surbannya sebagai jimat kholid. Padahal ayah Kholid, adalah Walid bin Mughirah, musuh dan dedengkot kafir yang berupaya membunuh nabi Muhammad SAW.

Ada pula Iqlimah (muslim), padahal Iqlimah adalah putra Abu Jahal yang merupakan dedengkot kafir Quraisy yang mati-matian ingin membunuh Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, jika ada orang yang terlalu tegas dalam beragama dengan bersembunyu didalam Fiqhu Al Ahkam, maka dia juga harus membaca ulang tentang Fiqih Dakwah.

Jika mereka yang Islam gara-gara tak sama persis dengan kehendakmu beragama, lantas engkau kafirkan, begitu juga mereka yang Ziarah Wali, Tahlilan, Istighosahan engkau kafirkan, mbok ya ngajinya dituntaskan sampai khatam, atau ngaji ulang tentang tawadhu’.

Orang yang Tawadhu’ akan berpendapat bahwa segala ciptaan Allah SWT tidak ada yang sia-sia. Semuanya memiliki guna manfaat. Misalnya ada orang Tawadhu’ yang melihat anak kecil, dia akan berfikir, bahwa usia anak kecil ini masih sedikit jika dibandingkan aku, maka jika dihitung, dosaku dan dosa anak kecil ini, masih banyak dosaku karena umurnya lebih banyak aku.

Bahkan ketika seorang Tawadhu’ melihat orang yang lebih tua usianya, maka orang Tawadhu’ akan berkarya dan berfikir bahwa se alim apa pun, jika sama-sama alimnya, pastilah orang tua tersebut lebih banyak pahalanya.

Saat orang Tawadhu’ melihat orang Kafir yang berbuat dosa, dia akan berfikir “masak iya sih, saya yang Muslim juga berbuat dosa?, apa bedanya muslim dengan Kafir kalau saya juga berbuat dosa?. Maka kesimpulan saya, jika ada orang bersemangat mengkafirkan sesama Muslim, pastilah keilmuan mereka tidak komplit saat ngajinya.

Berikut ini, saya cantumnya pengajian Gus Baha (KH. A. Bahauddin Nur Salim). Sosok alim allamah meski masih muda dan berpenampilan apa adanya. Merupakan salah satu pengurus PBNU dan kader ulama NU yang sangat alim.

Selain hafal Al-Qur’an 30 juz berikut tafsirnya, Gus Baha juga hafal hadits Sahih Muslim, Ihya Ulumiddin, separo dari Sahih Bukhari, tentu tak ketinggalan ilmu nahwu dan sharaf seperti Alfiyah dan Imrithi. Beliau adalah keponakan KH. Idris Hamid bin Mbah Hamid Pasuruan. Gus Baha ibarat copy paste Mbah Maimun.

Monggo disimak sampai tuntas!