Polisi Bernama Radikal

Banyak diantara kita yang suka berpakaian kebarat-baratan memakai jeans, tuxedo, jas, safari bahkan lengkap dengan segala asesorisnya sambil merasa bahwa diri kita adalah simbol westernisasi, kemodernan, trend masa kini. Padahal ini jelas mindset dan perilaku salah, karena orang barat tidak pernah menilai budaya berdasarkan pakaian, tapi berdasarkan asal usul dan kewarga negaraan.

Demikian juga diantara kita ada yang mabuk agama, sibuk dengan chasing (tampilan luar) dengan selalu berpakaian ala Arab dan selanjutnya mereka sebut pakaian Islami dan Syar’i, sambil merasa dirinya adalah simbol Islami dan paling nyunnah sedunia, sedangkan dia lupa esensi dan konten Islam itu sendiri (termasuk diantaranya adalah merasa paling benar, suka dan mudah menghina, menyesatkan, mengkafirkan orang Islam yang lain) yang berbeda dengannya…. Ini juga mindset dan perilaku salah kaprah dan ndeso.

K.H Chusain Ilyas dari Mojokerto. Waktu ngaji pada acara Haul K.H Arif Mustakim yang ke 24  hari Sabtu, 8 Juli 2017 menyampaikan bahwa: “prinsip dalam beragama, bukan sekedar ikut-ikutan, tapi harus jelas apa yang di amalkan dan siapa gurunya sehingga jelas Sanad keilmuannya atau sanad nasabnya. Tidak sekedar grudak-gruduk, mung manut tanpa tahu dasar pijakan yang dianut.

Pernah ada orang datang ke pondok saya, orangnya berperawakan tinggi besar, rambutnya gondrong, pakai kalung tasbih dari kayu cendana, usianya kisaran 60 tahun lah. Semua orang manggilnya mbah Wali. Kebetulan saat itu datangnya orang ini dikawal 10 orang di belakangnya sampai depan rumah semuanya kayak berebut nyium tangan sambil nyebut mbah Wali- mbah Wali. Akhirnya saya bertanya” Nuwun sewu mbah, panjenengan meniko wali kutub, wali abdal, wali autad nopo wali mastur?kersane kulo mboten salah sebut saat manggil njenengan.  Karena setahu saya, wali itu ada empat, lha derajat wali itu kalau gak keturunan kanjeng nabi ya keturunan raja. Tiba-tiba orang tersebut bangun dari gletaan (tiduran) di serambi rumah dan menjawab begini:” orang-orang yang manggil dan ngikuti saya tadi memang salah kaparah Kyai. Panggilannya tidak salah, tapi caranya kurang tepat”. Lha kok bisa?(Kyai Chusain bertanya). Iya Kyai, saya sejak kecil memang dipanggil wali, tapi orang-orang gak ada yang ndherekne kados niku wau Kyai. Lha kulo dipanggil wali niku, kranten nama pemberian orang tua saya adalah “Waliyadi”. Jadi saya dipanggil wali itu bukan maqom wali qutub, Abdal, Mastur, atau autad. 

Jadi orang-orang tadi, tertipu dengan tampilan luar yang membungkus hakikat barang. Imam Ghozali dalam Ihya’nya menuliskan syi’ir yang memperingatkan agar kita tidak tertipu dengan Chasing alias penampilan luar:

ﻻ ﻳﻐﺮﻧﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻗﻤﻴﺺ ﺭﻗﻌﻪ … ﺃﻭ ﺇﺯﺍﺭ ﻓﻮﻕ ﻋﻈﻢ ﺍﻟﺴﺎﻕ ﻣﻨﻪ ﺭﻓﻌﻪ

ﺃﻭ ﺟﺒﻴﻦ ﻻﺡ ﻓﻴﻪ ﺃﺛﺮ ﻗﺪ ﺧﻠﻌﻪ … ﺃﺭﻩ ﺍﻟﺪﺭﻫﻢ ﺗﻌﺮﻑ ﺣﺒﻪ ﺃﻭ ﻭﺭﻋﻪ

Jangan kau tertipu pada pakaian seseorang yang robek. Atau kain sarung yang ditinggikan di atas betis. Atau jidat yang mengkilap kehitam-hitaman. (Namun) Perhatikan sifat wira’inya tatkala dihadapkan pada dirham.

Banyak orang yang ketika belum berada pada posisi berhadapan langsung dengan dirham (harta benda), mereka tampil dan berteriak “habisi koruptor, gantung koruptor. Tapi begitu berada pada posisi pemegang kebijakan dan bergelimang harta, dia lupa apa yang pernah ia suarakan. Justru ia menjadi koruptornya.

Maknanya chasing perlu, tapi tidak semuanya dinilai dengan chasing. Bahkan beragama bukan untuk chasing saja. Sikap wira’i merupakan sikap berhati-hati terhadap hak orang lain. Bagi orang yang wira’i jangankan pada yang haram, diberi yang halal saja, orang yang wira’i masih hati-hati dan menjaga diri agar tidak ada hak orang lain yang masuk pada dirinya.

Di dalam pelajaran Adab di kelas Tsanawiyah diajarkan;

كل ما تشتهي نفسك و البس ما يشتهي غيرك

Makanlah hidangan sesuai seleramu, namun berpakaianlah menurut selera orang di sekelilingmu.

Kearifan lokal tetap dikedepankan. Masalah makanan karena itu berdampak pada rasa individu, boleh terserah kita, tapi masalah pakaian? kita harus menghormati kebiasaan dan budaya yang ada disekitar kita. Karena kita hidup bersosial, jangan sampai karena ego kita berpakaian beda dengan budaya lokal, justru menjadi awal perpecahan kelompok?.

Terdapat kisah yang menarik untuk diperhatikan :

وقد رأي الإمام أحمد رجلا لابسا بردا مخططا بياضا و سوادا فقال:

ضع هذا والبس لباس أهل بلدك، و قال: ليس هو بحرام ولو كنت بمكة أو المدينة لم أعب عليك

(غذاء الألباب، محمد السفاريني ١٦٣/٢)

Pernah ketika Imam Ahmad melihat seorang lelaki memakai selimut bermotif garis-garis hitam putih seperti yang biasa di pakai orang-orang Madinah & Mekkah. Imam Ahmad menegurnya:

“Tanggalkan ini, dan pakailah pakaian penduduk di sekitarmu”

“Bukan karena itu haram, seandainya kamu berada di Mekkah atau Madinah maka aku tidak akan menegurmu…”

(Ghidzaaul Albab, Muhammad Assafarini)

Kriteria aurat itu adalah agama (syariat) tetapi model pakaian adalah produk budaya. Orang jawa menyebut “Papan nggowo empan” (tempat itu mempengaruhi tampilan dan aksi yang dilakukan). Sehingga kita harus faham kearifan lokal.

Ada juga sebagian ulama yang melarang orang-orang yang tidak Sholih dan tidak alim untuk menyerupai orang sholih dan alim dalam pakaian atau asesoris mereka :

ويحرم على غيرهم التشبه بهم فيه ليلحقوا بهم ، ويحرم على غير الصالح التزيي بزيهم حتى يظن صلاحه ، ومثله من تزيا بزي العالم وقد كثر في زماننا هذا 

Dan diharamkan bagi selain orang yang sholih/alim untuk menyerupai mereka dalam berpakaian agar orang-orang (awam) tidak mengikuti mereka dan haram bagi selain orang sholih memakai pakaian mereka (orang sholih) sehingga (orang lain) menyangka kebaikan orang tersebut, merpakan hal sama kasusnya dengan memakai pakaian orang alim sebagaimana banyak terjadi di zaman kita ini (Hasyiyah Al Bujairomi ‘Alaa Al Khothib).

Dalam kitab tersebut sebenarnya juga ada lanjutan keterangan (pendapat sebagian ulama) tentang di haramkannya memakainya Imamah (Surban Kepala) Berwarna Hijau bagi selain SYARIF (keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Juga sebagaimana maklum bahwa para Ulama di Hadramaut itu membedakan cara memakai Imamah antara santri dan ulama mereka, dari segi panjang dan jumlah lilitan yang melingkar di kepala mereka.

Tapi di negara kita ini, kita sedang kesulitan membedakan mana yang santri, mana yang ulama, mana yang bagian penabuh rebana dan mana yang preman! Semuanya memakai pakaian dan asesoris yang sama! Bahkan Songkok hitam juga bukan ukuran dan simbo Islam saja, tapi sudah menjadi Milik Nasional”

Sehingga Mbah Yai Maimoen Zubair pernah bilang (kurang lebih begini) : 

“Aku saiki emmoh nganggo jubah soale ga onok bedane karo sing naboh hadrah….”

WALLAHU A’LAM.