Ossel Amran & Si Gembul

Emak-emak adalah bentuk panggilan jamak dari emak yang digunakan untuk memanggil ibu, mama, atau si mbok dalam bahasa Jawa. Saya tidak sedang memplesetkan AADC (ada apa dengan cinta) menjadi AADE (ada apa dengan emak). Tapi saya sedang mengomentari komunitas yang tiba-tiba dimunculkan dan dibuat simbol yang ditenarkan pasca penetapan bakal calon presiden dan wakil presiden yang berlaga pada pemilu 2019.

Para emak-emak ini membuat vidio aksi yang diviralkan melalui medsos dengan taggar 2019 ganti presiden. Sebutan mereka juga tidak kalah nyentrik ” Permak Body” persatuan emak-emak pendukung Prabowo dan Sandy. Pada setiap aksi mereka selalu disisipkan identitas emak-emak, seakan merekalah pemegang otoritas kekuasaan terhadap emak-emak ini.

Ibarat kelompok baru yang solid, emak-emak ini bersuara nyaring kesana-kemari. Bahkan eksistensi mereka diviralkan sedemikian rupa, seakan mengalahkan eksistensi organisasi yang puluhan tahun malang melintang mendampingi umat dan anggotanya juga para ibu dan ibu muda yang ada di Indonesia, yakni organisasi Muslimat NU, Fatayat NU, dan Aisyiyah Muhammadiyah. Tapi benarkah demikian adanya?

Jika kita menjawab pertanyaan di atas berdasar fanatisme permak body, maka jawabanya adalah betul, aksi mereka lebih heboh dan menyedot perhatian warga netizen. Tapi jika faktualisasi di lapangan, maka jawabanya berbalik 180 derajat dari “betul” menjadi “salah”. Mengapa demikian? Karena apa yang terjadi di media sosial tidak lantas ditirukan dan diamini oleh masyarakat kita hari ini.

Masyarakat kita sudah melek informasi dan cerdas menggunakan media sosial. Kendatipun masih ada yang awam dan mudah terpengaruh oleh medsos, tapi prosentasenya dibawah mereka yang sudah melek dan cerdas bermedsos. Selain itu, sebaran geografis juga mempengaruhi prosentase mereka yang terpengaruh dampak medsos profokatif dan yang tidak terpengaruh. Mereka yang berada di pedesaan, cenderung cuek dan abai pada perubahan medsos ala permak body, padahal mereka semua juga pengguna medsos. selain itu, fanatisme kepada tokoh lokal yang mereka percayai dan organisasi yang mereka ikuti, lebih tinggi prosentasenya dibanding kepercayaan mereka kepada isu media sosial.

Dari fenomena di atas, menurut saya ada gaya yang berbeda dan segmentatif dalam membuat opini media sosial. Pemilihan segmen emak-emak diharapkan menjadi justufikasi bahwa otoritas swing foter dimasyarakat sudah terselesaikan. Karena emak-emak terkenal ribet (rempong) dalam segala urusan. Bahkan segala yang dilakukan harus dibuat diketahui oleh orang lain.

Selain hal tersebut, pembuat opini publik sengaja memilih emak-emak sebagai segmen yangbdijadikan obyek isu, karena mereka tidak punya infra struktur organisasi untuk menembus komunitas perempuan, selain itu, mereka juga tidak punya supra struktur isu yang akan dimainkan dalam membidik loyalitas dan fanatisme perempuan, oleh karenanya, kehebohan emak-emaklah yang dijadikan pilihan mereka untuk menyaingi komunitas yang sudah eksis sebelumnya. Intinya “biar tekor asal nyohor”, biarlah rugi, yang penting tenar dan terkenal”.

Pemilihan simbol emak-emak untuk diekploitasi dalam isu pemilihan presiden 2019 salah satunya karena ingin mengambil nilai sakralitas emak atau ibu. Pembuat isu sedang memainkan dan menyusun narasi bahwa melawan atau berbeda pilihan dengan kehendak emak-emak adalah durhaka. Hal inilah yang sebenarnya menjadi capaian mereka.

Alasan memilih emak-emak juga didasari karena suara perempuan lebih nyaring dan merdu dari suara pemilih laki-laki. Para emak akan heboh sebelum melakukan segala kegiatan, kehebohan ini dilihat sebagai potensi yang mampu mempromosikan secara gratis kepada khalayak ramai.

Semoga para emak tidak lupa tugasnya mendidik anak dan mendidik generasi bangsa Indonesia. Semoga para emak-emak mampu menjadi teladan yang baik dan berbakti kepada para suaminya. Semoga para emak, tidak lupa ladang jihadnya adalah menjadi ibu yang dibanggakan anak-anaknya dan berbakti pada suaminya, sebagaimana kanjeng nabi Muhammad SAW menasehati seorang ibu yang ingin bergabung dalam pasukan perang dengan menyuruh pulang ke rumah dengan menjaga amanat suaminya serta melayani kebutuhan suami dan keluarganya.