Dahulu ada sebuah sumur milik yahudi yang terkenal tidak pernah kering. Bahkan saat sumur lain di wilayah itu kering, sumur milik yahudi tersebut masih tetap memiliki air yang melimpah. Dari sumur tersebut, si yahudi mendapat keuntungan yang melimpah karena setiap pengambil air dari sumur itu dikenakan biaya retribusi dengan hitungan setiap wadah yang terisi air harus membayar kepada si yahudi dengan tarip tertentu. Kendati pun demikian masyarakat sekitar tetap mengambil air dari sumur si yahudi, karena hanya sumur itu yang memiliki air melimpah dan tidak berkurang walau pun diambil setiap hari.

Mendengar kabar tersebut,  Khalifah Ustman bin Affan berniat membeli sumur dari si Yahudi dengan harga sesuai permintaan si Yahudi. Tetapi tawaran sayyidina Ustman ini ditolak oleh si Yahudi.

Tapi bukan Sayyidina Ustman namanya kalau tidak bisa ber strategi dalam negosiasi bisnis. Beliau menawarkan kepada si Yahudi dengan tawaran ke dua, yaitu membeli separoh dari sumur itu dan separohnya tetap menjadi milik si Yahudi.

Akhirnya si Yahudi meminta harga fantastis, yang langsung disanggupi sayyidina Ustman. 

Berikutnya Sayyidina Ustman membuat pengaturan teknis penggunaan sumurbyang dimiliki berdua dengan si Yahudi. Teknis yang disepakati oleh keduanya adalah, untuk hari Senin, Selasa, dan Rabu sumur menjadi milik Sayyidina Ustman, dan Hari Kamis, Jum’at dan Sabtu menjadi milik si Yahudi. Sedangkan hari Minggu adalah free untuk kegiatan amal keduanya.

Setelah kesepakatan teknis tercapai, dilaksanakanlah keputusan tersebut. Pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, sumur tersebut oleh sayyidina Ustman di gratiskan. Sehingga berbondong-bondonglah para pencari air dari berbagai daerah, bahkan para pencari air tersebut membawa wadah sebanyak-banyaknya untuk persediaan kebutuhan air di hari berikutnya. Dan giliran hari Kamis, Jum’at, dan Sabtu, Sumur sepi tanpa pengunjung karena mereka masih memiliki persediaan air. Pada hari Minggu, sumur kembali ramai karena persediaan mereka mulai menipis dan memang hari Minggu sumur digratiskan. Begitu seterusnya.

Sampai beberapa bulan yahudi tidak mendapatkan penghasilan sama sekali dari sumur yang sebelumnya menjadi sumber mata pencaharian yahudi.

Sampai pada akhirnya, si Yahudi bangkrut dan berniat menjual sumur yang sebagian lagi kepada Sayyidina Ustman bin Affan, dan langsung disepakati berapa harga yang diminta oleh si Yahudi, dan resmilah sumur tersebut menjadi milik Sayyidina Ustman bin Affan yang kemudia sumur tersebut dibuka untuk umum dan gratis. Sumur tersebut sampai saat ini masih dapat kita lihat dan diberi nama” Bi’ru Ustman( Sumur Ustman)”.

Pertanyaanya, apa korelasinya sumur Ustman dengan Sumur Lazisnu di Alfamart?

Mari kita hitung:

Awal tahun  2016 jumlah Alfamart di Indonesia 12.100, kalau satu transaksi saja, ada *100 rupiah* yang masuk ke LAZISNU maka 12.100 x 100 = *1.210.000,- rupiah* ini baru 1x transaksi. Dan jika kita rata-rata per 5 menit ada 1000 transaksi di Seluruh Alfamart di Indonesia, maka perjamnya  = 1000 x 12 x Rp.100 x 12.100 Alfamart = *Rp.14.520.000.000,-*/jam wow sekali kan? 

Trus jika perjanjian LAZISNU dengan Alfamart hanya berlaku mulai 1 Mei sampai 31 Mei 2017 bagaimana? 

Maka kita( warga NU) bisa melakukan pengalihan tempat belanja ke selain Alfamart. Seperti kejadian pada Sumur milik bersama Sayyidina Ustman dan si Yahudi yang saat hari Kamis, Jum’at, dan Sabtu. 

Kenapa setelah 31 Mei beralih dari belanja Alfamart? Karena kontraknya dengan LAZISNU berakhir. Selain itu pemilik Alfamart juga harus tahu, bahwa ramainya Alfamart juga karena banyaknya warga NU yang belanja di sana. Mereka memang harus berfikir betapa pentingnya kerjasama dengan LAZISNU.

Akhirul kalam, bilamana kerjasama ini di realisasikan di masing-masing Alfamart di Kabupaten dengan PCNU, tentu sangat uwaow sekali.

Wallahu A’lam.