Sejak beberapa hari yang lalu, ramai medsos dan WA grup berseliweran berita tentang pemblokiran aplikasi Telegram oleh menteri komunikasi dan informasi. Secara pribadi, saya mendukung penuh pernyataan Kapolri yang mendukung Pemerintah untuk memblokir Telegram, jika memang secara empiris terbukti aplikasi ini adalah media favorit para teroris untuk menjalin komunikasi dan berkoordinasi karena sangat sulit untuk dilacak oleh petugas keamanan, maka satu-satunya cara adalah menutup salurannya atau memblokirnya.

Menkominfo sendiri sudah menginfokan ada 17 ribu halaman Telegram yang mengandung terorisme, radikalisme, tutorial tata cara membuat bom, aksi latihan kelompok radikalis, ikrar bergabung dengan ISIS dll.

Sebenarnya perbincangan mengenai aplikasi Telegram digunakan dalam aksi radikal sudah berlangsung lama diberbagai negara. Bahkan di negara asal pembuat aplikasi Telegram pun, tak luput oleh aksi radikalisme yang memanfaatkan aplikasi tersebut untuk mendukung aksinya. Diantaranya adalah peristiwa pengeboman ISIS di stasiun Metro Saint Petersburg, Rusia, 3 April 2017 yang menewaskan 15 orang. Inteljen dan layanan keamanan Federal Rusia (FSB) mengungkapkan bahwa para teroris menggunakan aplikasi ini dalam perencanaan, koordinasi hingga eksekusi dengan fasilitas pesan terenkripsi level tinggi.

Belakangan di Indonesia, BIN juga menemukan fakta bahwa Bachrun Naim berkoordinasi dengan jaringannya di Indonesia untuk setiap aksi “Istisyhadiah” terhadap aparat negara dengan menggunakan aplikasi ini.

Pendiri Telegram adalah warga Rusia bernama Pavel Durov. Namun tahukah anda bahwa Rusia sendiri sudah lama mengancam untuk memblokir Telegram pasca aksi-aksi terorisme yang menyasar negara tersebut. Kabarnya di negaranya sendiri Telegram diblokir karena membandel tidak menaati regulasi demi keamanan nasional. 

Bukan hanya Rusia, Iran, Arab Saudi dan China pun sudah memblokir Telegram dengan alasan keamanan negaranya dan bandelnya Telegram dalam mentaati aturan.

Jika Rusia negara pendiri Telegram saja dengan tegas memblokir aplikasi ini demi kepentingan nasionalnya, pertanyaannya kenapa kita yang sekedar negara pengkonsumsi begitu lambat? Padahal jelas aksi-aksi terorisme terus terjadi dan akan terus terkoordinasi lewat media ini.

Tidak usah sok kritis dengan langkah pemerintah ini. Anda masih bisa pakai WA, LINE, BBM, bahkan SMS. Jangan sampai saat anda leyeh-leyeh sambil ngopi santai kayak di pantai, justru mereka sedang berkoordinasi untuk melakukan aksi bom lainnya dengan aplikasi Telegram karena pemerintah tak kunjung menutup saluran apkikasi tersebut. Jangan sampai gara-gara keterlambatan penutupan Telegram oleh pemerintah, justru yang selanjutnya menjadi korban para teroris pengguna aplikasi Telegram ini adalah anda atau keluarga anda. Amit-amit kan?

Tapi yang lebih amit-amit adalah orang yang gak pernah pakai Telegram, gak tahu apa itu Telegram, tapi paling keras mengutuk pemerintah karena memblokir Telegram cuma karena tidak suka dengan pak Jokowi. Model yang kayak begini biasanya kelompok sumbu pendek yang biasa menggunakan logika orang kenthuk yang asal main tolak dan mencemooh tanpa faham maksud dan tujuan. 

Pada model orang yang gak faham Telegram dan tidak menggunakan Telegram, tapi mencemooh pemerintah yang akan memblokir Telegram hanya gara-gara tidak suka terhadap pak Jokowi, saya bertanya “Sampean waras bro?”.