Tulisan Gus Ainurrofiq al Amin Tambakberas Jombang, perkenalan tak sengaja via tulisan dengan beliau cukup mengesankan.

 Pada waktu itu Orde Baru mulai kuat. Aparat menguasai segala lini kehidupan.  Sangat mungkin NU mulai mengambil dan menjaga jarak dengan penguasa.  Makanya tidak heran sikap aparat terhadap pondok kurang simpatik.  Sebagaimana diceritakan Gus Irfan,  dengan mata kepala sendiri gus Irfan menyaksikan bahwa belum genap empat puluh hari dari wafatnya mbah Wahab,  aparat mendatangi pondok induk untuk mengambil kayu yang dianggap mereka tidak resmi,  walau tentu sudah beli dari masyarakat. Anehnya,  kayu yang tidak ada kaitan dengan pondok seperti kayu milik bu Nyai Chur yang dari Kediri juga ikut diambil. Gus Syifa salah satu putra bu Nyai Chur juga mengatakan bahwa ibuknya (Nyai Chur) sekitar tahun 1968 membawa kayu jati yang besar-besar dari Kediri untuk membangun rumah. Kayu sebanyak empat truk tersebut yang separo diambil aparat.

 Di sini bisa diketahui bahwa saat itu aparat tidak ramah terhadap pondok.  Dalam kondisi demikian,  ada cerita menarik. 

Suatu saat mbah Wahab mengutus tukang untuk membeli kayu  ke daerah Kabuh yang terletak di sebelah utara Jombang. Tanpa disangka,  setelah memperoleh kayu dari masyarakat,  di sekitar Kabuh itu ada orang yang mengaku mandor dan menegur utusan mbah Wahab tersebut. 

Kata mandor,  “Hai,  kamu siapa kok mencuri kayu? ” Si tukang menjawab,  “Saya utusan Kiai Wahab untuk membeli kayu dari masyarakat yang akan digunakan untuk keperluan membangun pondok.” 

Sang mandor menyita kayu tersebut sambil bicara dengan  tidak sopan,  “Wahab malah nyuruh orang untuk mencuri kayu.” 

Akhirnya si tukang itu pulang dan menemui mbah Wahab sambil menceritakan apa yang terjadi.  Mbah Wahab bilang ke orang tersebut,  “Carikan daun lamtoro.” Tentu si tukang bingung apa kaitan antara mandor dengan daun lamtoro.  Tapi karena tukang tersebut sudah seperti santrinya mbah Wahab,  maka dia tunduk dan langsung pamit keluar untuk mencari daun lamtoro.  

Setelah dapat daun lamtoro,  sang tukang menghadap mbah Wahab.  Mbah Wahab menerima daun lamtoro tersebut. Tangan mbah Wahab meremas dan merontokkan daunnya dengan bersuara lirih,  “Gak niat mrotoli lamtoro,  tapi niat mrotoli “rambutnya” si fulan” (tidak berniat merontokkan daun lamtoro,  tapi berniat merontokkan “rambutnya” si fulan)   Lalu mbah Wahab mengikat gagang daun tersebut sambil membaca surat al-Tin.  Selanjutnya daun lamtoro itu dilempar ke bawah kolong amben. 

Selang beberapa hari,  datanglah si mandor tersebut menghadap kiai Wahab dalam kondisi kesakitan.  Dia bilang tidak bisa kencing beberapa hari, dan dia minta maaf telah mengolok olok Kiai Wahab.  

Mbah Wahab,  sambil guyon berkata,  “Ya saya lihat dulu di kolong,  apa masih ada daun lamtoronya, karena ikatannya itu harus dilepas agar sakitmu sembuh.” Si mandor malah semakin deg degan, kawatir daun lamtoronya hilang sudah dibersihkan santri. 

Ternyata daun itu ditemukan walau agak kering karena sudah beberapa hari.  Setelah ikatan pada daun lamtoro dilepas,  si mandor langsung bisa kencing.  Saking bersyukurnya si mandor akhirnya bertanya ke mbah Wahab. 

Kata mandor,  “Kiai,  apa yang bisa saya lakukan sebagai wujud terima kasih saya? ” Mbah Wahab menjawab,  “Sudah,  openono (ramut dan pelihara)  NU di daerahmu. ” 

Tentu si mandor gembira.  Dia akhirnya menjadi santrinya mbah Wahab berkat tidak bisa kencing karena daun lamtoro yang disuwuk oleh mbah Wahab. 

Nilai pelajaran yang bisa diambil,  apapun cara dan peristiwa,  bagi mbah Wahab selalu dikaitkan dengan dakwah NU. Itulah perjuangan sepenuh hati mbah Wahab yang perlu kita tiru. 
Dr. Ainurrofiq Al Amin.

Diolah dari wawancara pada tanggal 16 Mei 2017 dengan Gus Irfan yang dapat cerita dari KH.  Sholeh Abdul Hamid.