Tahukah anda siapa kelompok Jahiliyah di era milenial ini? Ya, Mereka adalah yang selalu berteriak-teriak PKI, Syi’ah, Asing, Aseng dll, sementara melupakan ISIS yang ancamannya sudah di depan mata. 

Segenap fakta peristiwa bom berjilid-jilid yang menargetkan berbagai fasilitas dan aparat negara di negeri ini hanya bagai angin lalu di mata mereka. Semua ditutupi oleh lagu usang “pengalihan isu” oleh makhluk-makhluk menyedihkan ini. Mengapa saya sebut Makhluk menyedihkan? Mereka susah menerima penjelasan dan logika dari luar. Hanya logika dari kelompok atau pimpinan mereka saja. Mereka mengolok Santri yang tawadhu’ pada kyai, tapi disisi lain mereka sangat tabi’ pada pimpinan mereka tanpa menggunakan logika. Sungguh sangat menyedihkan.

Bahkan ISIS yang sudah beraksi di Marawi Filipina yang hanya tinggal menyeberang laut kemari pun sepertinya sama sekali bukan ancaman di mata mereka. Barang yang sudah jelas di depan mata, katanya wacana, sementara wacana mereka masalah ancaman PKI yang sampai jam segini gak ketemu kantornya, sebaliknya hanya sibuk berdelusi dibalik simbol-simbol lurus melengkung di uang baru yang dikeluarkan BI,  malah diyakini bagai suara sirine peringatan bahaya kegentingan yang kudu dihadapi.

Akhirnya saya simpulkan, bahwa sekutu/ kawan, tidak akan pernah dianggap ancaman. Buktinya apa kalau mereka bersekutu? Jangan amnesia sahabat, siapa yang mengirim mujahid ke Syiria untuk bergabung dengan ISIS? Siapa yang menggalang bantuan untuk Syiria dengan merubah warna bintang bendera negara Syiria? Saya sudah kehabisan kata-kata untuk golongan ini. Saya yakin untuk manusia sejenis ini para ikan di laut pun beristighfar.

“I still can’t believe that this kind of stupidity exists”. Saya masih tidak bisa mempercaya bahwa jenis kebodohan seperti ini ada. Inilah yang disebut Jahlun Murakkabun (bodoh yang berlapis) Dan hebatnya suara mereka sangat lantang. Jumlah mereka sedikit tapi mereka berisik, sehingga mengalahkan jumlah yang mayoritas tapi terdiam.

Sydney Jones dari Institute for Policy Analysis of Conflict pada Januari 2016 mengeluarkan estimasi ada sekitar 500 hingga 700 anggota ISIS yang berasal dari Indonesia baik yang menjadi militan atau sekedar hijrah ingin hidup dibawah naungan negeri yang mereka sebut “Daulah Islamiyah”.

Apa 500 hingga 700 WNI yang sudah terkontaminasi virus ISIS bahkan sudah jelas-jelas bergabung dengan ISIS ini bukan ancaman bagi NKRI dibanding delusi logo “palu arit” di uang baru? Belum lagi jika kita membahas pernyataan Panglima TNI Gatot Nurmantyo bahwa sel-sel tidur ISIS tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, yang siap bangkit kapanpun.

Apa ini bukan ancaman? Kalau anda menganggap mereka bukan ancaman dan hanya PKI yang merupakan ancaman sebaiknya anda segera mendatangi Psikiater dan minta obat antipsikiotik untuk mengobati delusi dan halusinasi akut anda, yang bisa jadi salah satu pemicunya karena terlalu sering membaca FP Jonru dan Front Pembela Islam, serta link berita Salafi Wahabi.

Saya jadi teringat dengan liputan Jenan Moussa reporter perang Al Aan TV yang berbasis di Dubai pada 26 Juni 2017 lalu ketika meliput kondisi kamp pengungsian warga Suriah yang menyelamatkan diri dari Raqqa yang dikuasai ISIS. Ia menemukan beberapa keluarga dari Indonesia disana namun menolak diajak bicara. Satu-satunya yang mereka katakan hanya “We are victims of ISIS” (Kami adalah para korban ISIS). 

Moussa mengatakan ketika para pengungsi Suriah mendengar para WNI tersebut mengklaim diri sebagai “korban ISIS”, para pengungsi wanita Suriah ingin menampar mereka lalu berteriak, “Apa yang kalian lakukan di negara kami Suriah? Kalian bertanggung jawab atas penderitaan kami.”

Kejadian sempat ricuh sehingga para keluarga WNI yang hijrah untuk ISIS ini dipisahkan oleh SDF (Syrian Democratic Forces) di pojok yang terpisah karena para pengungsi Suriah ingin sekali menghajar mereka.

Apa yang anda pelajari? Pernahkah Jonru memberitakan ini? Pernahkah FPI membahas ini? Atau mungkin sang Imam Besar yang tak kunjung pulang dan pernah berorasi membela ISIS itu pernah membahas ini? Pernahkah para anggota DPR yang tak kunjung menyelesaikan revisi UU Anti-Terorisme itu membahas ini?

Ahh sudahlah.. saran saya buat orang-orang itu, hiduplah di dunia nyata. PKI sudah terkubur lama, jangan kau bangkitkan bangkai itu dengan delusimu, sementara zombie-zombie yang berkeliaran kau lupakan karena mereka adalah teman-temanmu.

Jika kini kau berdalih, mengapa sesama Islam sulit bersatu? Kami tahu, kalimatmu itu hanya dalam rangka ukhuwah Kusiriah bukan ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah atau ukhuwah Basyariah. Apakah engkau lupa pada ulah kalian yang justru tidak menginginkan persatuan gegara masalah khilafiyah dan furu’iyah pula.

Persatuan itu tidak mungkin terjadi jika:
1. Tradisi memperingati maulid Nabi, ziarah kubur, dan membaca doa tawassul masih dianggap sebagai bentuk perbuatan syirik yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam.

2. Tidak berisbal (menggantung celana atau sarung) dianggap sebagai perkara yang membatalkan sholat.

3. Mengikuti mazhab fikih dianggap sebagai bentuk kemunduran dan bahkan penghinaan terhadap syariat.

4. Menganggap muslim di luar kelompoknya sebagai ahlul bid’ah yang tidak wajib dijawab ucapan salamnya.

5. Menganggap berpartai adalah perbuatan merusak agama Islam. 
Bagi kami, pengamal Ahlussunnah wal Jama’ah, kelima poin di atas berada di ranah ikhtilaf fiqih bukan ranah aqidah. Tidak ada konsekuensi kekufuran dari poin-poin di atas. Hanya saja yang di sebelah sana, terlanjur menganggap lima poin di atas sebagai harga mati atas kekufuran dan sudah masuk kepada status “keluar dari ajaran Islam”. 

Kelompokmu yang menyedihkan menganggap 5 hal tersebut sebagai harga mati yang menghakimi kelompok lain sebagai “Kafir”. Sementara kami yang memiliki slogan NKRI harga mati, kau teriaki bid’ah dan kufur.

Atas kelima poin itu, saya hanya mengutip ucapan Sayyidina Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu:
هم اخواننا الذين بغوا علينا لا نقاتلهم حتى يقاتلونا
Mereka (kaum khawarij) itu (masih) saudara kita yang memusuhi kita, kita tidak memerangi mereka sebelum mereka memerangi kita.

 Lo jual gue beli!.