Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, peribahasa yang pas untuk memberikan predikat pada kiprah kembar Kaji Wafi dan Kaji Yuzki di segmen garapan dakwah ekonomi kreatif untuk pemuda tunas bangsa di wilayah Tulungagung khususnya kecamatan Ngantru.

Kembar (Kaji Yuzki dan Kaji Wafi) yang merupakan putra dari pasangan penggerak NU yakni KH. Maksum Farid, dan Bunda Hj. Miftachurrohmah, tokoh aktifis dan penggerak NU di eranya sampai sekarang, mampu menemu kenali potensi terpendam dalam sektor ekonomi kreatif dalam teropong perkembangan dan kemajuan teknologi yang ada di wilayahnya kecamatan Ngantru kabupaten Tulungagung.

Sekolah Dodolan Online(SDO) yang selanjutnya melalui tangan dingin keduanya, mampu meluluskan Satu kelas terdiri dari 11 wisudawan yang merupakan para pelaku bisnis online dengan predikat surplus pada uji angka capaian pengelolaan yang awalnya perkelas ditarget 100 juta tapi terlampaui tembus 189 juta nilai omzet yang dikelola perkelas SDO.

Melalui berbagai tahapan perjuangan, Kembar mensosialisasikan gagasan dan idenya terkait pasar global dan strategi meresponnya kepada anggota ANSOR anak cabang Ngantru. Berkat kegigihan dan semangat aktifis yang diwarisi dari kedua orang tuannya, gagasan strategi merespon pasar global tersebut selanjutnya menjadi program kerja organisasi PAC ANSOR Ngantru yang diberi label Sekolah Dodolan Online atau lebih populer dengan akronim SDO.

Sebelas pelaku bisnis online ini tidak serta merta lahir begitu saja, melalui kegigihan dan keuletan serta ketlatenan Direktur SDO Wildan Muntafik, dalam waktu 4 bulan, akhirnya mereka bisa lulus dan diwisuda angkatan perdana SDO yang sebelumnya jumlah awal pesertanya adalah 22 anggota ANSOR. 

Lantas yang sebelas lainnya kemana? Mereka belum bisa di wisuda SDO karena belum mampu memenuhi target yang dibebankan sebagai uji keseriusan dan seleksi awal sebelum lulus.

Menurut Kembar, awalnya memang susah untuk mensosialisasikan program ini. Banyak yang takut karena merasa tidak punya produk layak jual. Ditambah lagi, banyak yang kurang paham dengan dunia bisnis online. Jangankan mengenal bisnis online, bisnis offline pun banyak yang belum melakukan. Namun kemauan dan kegigihanlah yang menjadikan sebelas lulusan SDO menjadi pelaku bisnis online kader ANSOR PAC Ngantru kabupaten Tulungagung.

Secara praktis SDO bergerak dalam bidang jasa yang mempermudah konsumen mendapatkan barang, bukan sebagai produsen. Di SDO siswa diajarkan cara marketing produk di dunia maya, sehingga barang yang ditawarkan bisa cepat laku. Banyak sarana jualan yang sebenarnya bisa dilakukan, misalnya melalui medsos dan market place.  Bahkan di dalam proses pembelajaran SDO juga diajarkan cara -cara sukses bermain di dunia bisnis online.

Adapun barang yang dijual oleh alumni SDO sangat beraneka ragam, mulai alat pertanian, hasil pertanian, ternak (kambing, sapi, ayam, bebek), kendaraan bermotor, tas, sepatu, produk kerajinan tangan, meubel, kitchen set, pagar tralis, bantal emoticon, baju, busana muslim, seragam sekolah, marmer Tulungagung, piala burung berkicau, dll.

Target besar dari SDO adalah mengembangkan roda perokonomian kader ANSOR sehingga mampu bersaing dalam MEA dan ekonomi global. Melihat indek capaian lulusan SDO, hal ini bukan sekedar isapan jempol. Mereka hanya butuh jam tayang dan jam terbang saja untuk menjadi profesional.

Sebuah harapan besar dari SDO Tulungagung yang dikelola PAC ANSOR Ngantru Tulungagung adalah bisa terus berlanjut hingga menghasilkan banyak pelaku bisnis dari kader NU khususnya ANSOR. Lebih jauh lagi SDO ini adalah wujud tabarrukan semangat Nahdlatut Tujar yang digagas Mbah Wahab Chasbullah dalam kemandirian Jama’ah dan Jamiyyah.(Din)